
Mungkin Sari guyon mengirim cerita WA dengan potongan foto Bree duduk berhadapan Alby, tanpa penampakan anak lainnya. Padahal tangkapan CCTV jelas di sana duduk bersama berdesakan. Sari lekas menghapus kirimannya entah tersadar dilihat Rima atau tersadar mereka saling menyimpan kontak. Bree masih berpikir positif.
Bree tidak menyimpan kontak Sari, kalaupun iya belum tentu dia melihat foto itu karena tidak pernah mengikuti story. Dia juga tidak banyak menyimpan kontak teman, jika perlu tinggal mengirim pesan mencari dari grup.
Bree tidak bisa menghindari Alby karena selalu bertemu di lokasi. Alby selalu mendadak muncul depan kamar. Sampai Alby mengungkapkan perasaannya tapi Bree tidak menginginkan siapapun tidak ingin menyakiti siapapun, keduanya tetap bersikap seperti biasa karena rekan kerja.
Tadinya Alby kukuh datang meski Bree berkali memberinya pengertian. Tapi kini kebiasaan Alby menghilang tanpa ada obrolan. Bree sakit hati dengan sikap Alby tapi juga bersalah membiarkan kedekatan ini.
"Ketemuin aku sama Rima?"
"Tunggu waktu. Masalahnya Rima sore dan malem ngajar les. Kamu pagi di kafe."
Bree bertekad bicara dengan Ilham. Meski Sari bukan bagian di kafe tapi dia bagian di kehidupan owner. Meluruskan apa yang mengganjal apa yang terjadi sebenarnya mendadak Bree diberenguti monyong cantiknya.
"Rima udah nggak permasalahkan itu, Bri. Tapi kejadian lagi saat Rima tidur bareng Sari. Sari banyak ceritakan kamu, tentang kita sering bareng, kita sering boncengan."
"Aku salah. La kalau kamu yang jemput aku, terus baliknya aku harus bonceng Levi? atau bonceng Ilham? Kalau mereka memang ajak aku, ya aku oke. Tapi kamu terus ...." Bree tampak lelah.
"Lagi. Waktu aku tolak boncenganmu, pernah aku tolak ajakanmu, kamu malah merendah apa Bri risih sama aku? apa Bri nggak suka jalan sama aku? apa aku malu-maluin Bri? Aku udah jelasin, Bi, aku nggak enak sama anak-anak." Bukan diri Bree banyak menjelaskan.
"Intinya, nggak punya motor nggak punya uang, aku selalu nyaman di rumah aja, Bi. Urusan sama orang lain itu sakit. Akan ada salah paham. Aku udah nyaman sendiri lo?" Napas Bree besar mengeluarkan emosi.
"Rima udah mikirin itu, dia tau kamu nggak enakan. Levi selalu datang setelah kelarin kerjaan lain, nggak mungkin kamu sama Ilham, ya cuma aku yang kondisinya lebih bisa ada bantu kamu."
Dulu Sari juga sempat cerita yang bikin Ilham salah paham dengan seorang karyawan pria. Juga cerita yang bikin istri Malik salah paham karena Malik berdekatan dengan seorang karyawan perempuan. Malik juga owner usaha warnet yang dikembangkan sendiri. Sari banyak bicara ketika ada teman. Bree beberapa kali diajak Ilham ke rumah untuk menemani Sari yang sering sendirian, tapi belum sempat.
"Rima sering datang ke pesantren juga kirim pesan ke Levi dan Ilham tanya posisiku. Ilham negur aku jangan sampai pribadi dibawa ke kerjaan. Aku udah jelasin ke Rima."
"Kayak aku sering jelasin ke kamu soal aku terbiasa sendiri. Jangan bikin ada salah paham. Kamu cukup jaga perasaan pacarmu," ungkap Bree.
Ini yang Bree takutkan.
"Cukup aku yang punya perasaan ini."
"Aku juga bisa egois pengen ada kamu terus, Bi."
"Selagi aku bisa bantu ...."
"Aku mulai nyaman sama kamu, Bi!"
Alby menatap lekat netra Bree yang berkaca-kaca.
"Kamu nggak video call lagi? Bagus kalau kamu mulai menghindar. Aku bodoh nungguin kamu ketimbang enjoy bareng temen-temenku." Bree bingung apa yang dirinya bicarakan. Dia inginkan Alby pergi tapi terlanjur butuh.
"Kalau Bri butuh aku, tinggal kabari. Bri bisa video call aku."
"Aku takut ganggu. Bi, kamu selalu ada, aku bersyukur meski banyak ketakutan. Tapi aku bukan Rima yang bisa percaya diri nyatain perasaan duluan. Aku nggak pernah punya hubungan, aku udah nyaman sendiri. Tapi kamu dateng, sok sokan semangatin aku, bohong jagain aku, bodohnya aku nyaman."
"Kamu harapin aku tapi nggak ada timbal baliknya? Mana aku ngerti kalau kamu butuh aku?"
"Karna aku mending jaga perasaan yang lain. Kamu pacarnya Rima. Aku nggak pantes harepin kamu."
"Bri ...."
"Mulai sekarang kita jauhan."
"Itu maumu?"
"Maunya kita semua. Biar Sari tenang nggak dosa berulah. Biar kamu sama Rima nggak saling kehilangan."
"Maksudmu?"
"Nggak ngerti lah, Bi! Aku males ngomong!"
Bree masuk kamar meninggalkan Alby. Bree memang mulai egois menginginkan Alby.
"Bri?" Alby mendengar pintu dikunci.
"Jangan pernah ada lagi di kehidupanku, Bi! Perbaiki hubunganmu sama Rima daripada kamu nyesel lima tahun kandas!"
"Buka, Bri? Rima udah nggak masalah lagi."
"Bakal ada masalah lain, Bi. Minggir!"
Alby mendengar geduran pintu dari dalam. Dia menghela napas, memutuskan pergi karena Bree sedang emosi.
Bree duduk di lantai bersandar dinding kamar. Menahan hatinya sakit dengan perubahan tanpa kejelasan. Alby memutuskan menghindar kenapa kukuh datang lagi. Bree tidak ingin perasaannya semakin dalam.
Bree yakin Alby hanya jenuh apalagi katanya keluarga Rima menuntut kejelasan hubungan. Tapi Alby tidak ingin kehilangan Rima makanya hubungan dipertahankan. Atau Alby memang pria tidak bisa bersikap. Bree tidak mengenal Rima.
***
__ADS_1
"Bre! Bre!" Suara Levi mengusik tidur Bree.
"Bre?" Ketukan pintu kamar membangunkan Bree yang tertidur di lantai. "Kamu tidur, Bre?"
Bree malas bertemu orang, kembali merebahkan tubuhnya tanpa beranjak. Mual dan lelah, hanya ingin tidur mengalihkan rasa tidak nyaman tubuhnya.
Levi berlalu karena tidak mendapat sahutan. Sebentar ke dapur ingin mengambil pocari dalam kulkas, tapi menemukan lauk dalam panci telah basi akhirnya dilanjutkan mengurusi dapur sebelum pergi.
Tadi Levi diminta Ilham datang ke kafe setelah mendapat kabar dari operator. Bree tidak menanggapi pesan dan panggilan, hingga terakhir ponselnya tidak menyambung. Ketukan pintu juga tidak mendapat sahutan. Dari jam prepare sampai menjelang siang Bree belum menampakkan diri. Semua tahu Bree kebluk kalau tidur. Goncangan bumi atau gedoran pintu tidak mengusik tidurnya. Namun terkuncinya pintu kamar timbul khawatir sebelum yakin melihat keadaannya.
"Susah." Levi sudah kembali di kafe.
"Kunci cadangan nggak ketemu," timpal Ilham.
"Congkel geh? Kayaknya nggak makan. Masakan dua hari masih sama segitu aja, kok basi."
Waktu Levi makan siang itu Bree masuk kamar. Sore Levi datang bersama Ilham dan Alby sepulang dari pesantren, Bree tampak dalam kamar. Malamnya Levi datang juga Bree masih belum kelihatan. Levi datang lagi kemarin sore kembali melihat pintu kamar rapat tertutup setelah paginya mendapat kabar Bree diliburkan dulu. Apa Bree memang tidak keluar dari kamar?
"Panggil Alby?" usul Ilham.
"Suruh gegas geh." Levi tidak nyaman.
Kafe diatasi Levi dan Andre menunggu Rian datang. Harusnya Rian shift 3 baru nanti sore, tapi pagi ini dia menyanggupi berjaga di kafe.
"Perkoro cinta segitiga."
"Perkorone yo lambene Sari."
"Aib, Bro!" Levi terkekeh dengan entengnya Ilham berujar soal sang istri.
"Deli nggak pernah terbuka." Ilham tahu tentu Bree sungkan. "Nomor Alby nyambung tapi nggak nyahut."
"Tunggu dia datang aja."
"Untung proyek lagi nggak problem."
"Proyek belum kelar, Mas?" tanya Andre.
"Tinggal kamar mandi. Baru ada satu."
"Terus santri yang udah asrama ngantri dulu?"
"Mau nggak mau ada yang pakai toilet masjid."
"Congkel kamar Deli, Bro?"
"Bri belum mau keluar kamar?" Alby juga belum mendapat kabar Bree tadi malam teleponnya diabaikan.
"Masih tidur."
"Aku udah mau ke kafe. Kamu di mana?"
"Ini udah di kafe. Levi bolak-balik bangunin."
"Tak otewe, Bro."
"Oke."
Alby bergegas setelah memastikan WA tadi malam yang masih belum ada respon dari Bree. Bree memprivasi akunnya sehingga tidak diketahui sudah terbaca atau belum dan kapan terakhir online.
Sampai di kafe dia mencoba mengetuk pintu. Nomor Bree juga tidak menyambung dan tidak ada suara apapun dari dalam. Akhirnya dengan bantuan Ilham pintu kamar dicongkel.
Kondisi kamar gelap dan sepi, di kasur tidak ada sosok Bree. Saat pintu terbuka lebar, Ilham mendapati Bree tidur di lantai.
"Bri?" panggil Alby jongkok dekat Bree.
Ilham mendapati tubuh Bree panas saat menepuk lengannya.
"Dari kemarin dia panas." Alby mengangkat tubuh Bree ke kasur.
"Bawa periksa, Bro." Ilham menyalakan lampu kamar, melihat tetesan air di lantai letak kepala Bree tergeletak tadi. "Ini, nangis?"
Bree tidak membuka matanya sama sekali sempat dikira pingsan. Napasnya terasa panas di lengan Alby. Tubuhnya peluh keringat diusap tangan Alby. Keringatnya dingin.
"Nangis, Bro." Alby melihat mata Bree yang sembab masih berair.
"Tak ambil mobil." Ilham berlalu.
Alby melihat ponsel Bree masih di posisi sama dua hari lalu. Daya ponsel diisikan lalu membuka tirai dan jendela kamar, duduk di kusen jendela memperhatikan wajah lelap yang sembab.
Bree terbangun menemukan Alby memandanginya. Perlahan bangkit, Alby membantunya duduk dan berlalu mengambilkan air minum.
__ADS_1
"Bri rasain apa?"
Bree menggelengkan kepala pelan dengan mata tertutup, menolak minum, rasanya perih di bibir dan pusing kepala seakan tidak hasrat bergerak. Lemah, yang dilihat Alby. Kuku jari Bree terlihat pucat.
"Hoekk!" Tanpa kendali memuntahkan isi perut yang kosong. Bree gemetar.
"Tolong minum, Bri." Diraihnya tangan Bree untuk memegang gelas. "Pake sedotan." Alby berlalu dan tidak lama kembali memberi sedotan di gelas, melihat bibir Bree berdarah saking keringnya. Pasti sobek saat bibir tergerak.
Air minum hangat. Bree berlebihan merindukan kebiasaan Alby, meski ini umum dilakukan.
"Minum pelan pelan." Alby mengarahkan ujung sedotan ke bibir Bree yang sedikit terbuka.
"Del, periksa." Ilham berdiri dekat kasur memperhatikan Bree berusaha menyedot air minumnya.
"Nggak, Ham. Aku udah enakan." Bree hendak meletakkan gelas dibantu Alby.
"Pck! Nggak ngeyel, Del."
Alby lalu lalang mengambil lap membersihkan lantai dan beberapa cipratan muntahan Bree.
"Makasih." Setelah tangan dibersihkan, Bree meremat selimutnya menahan gemetar.
Ilham mengelap lantai dengan air pembersih. Alby ingin membantu tapi sudah bersih, Ilham memberi kode. Harus lekas karena Bree susah kompromi, keburu kuat berontak. Alby mengangkat tubuh Bree.
"Aku jalan sendiri."
"Turun tangga dulu."
Bree menutup mata menahan pedih karena silau cahaya luar ruangan. Di bawah tangga Alby tidak menurunkan Bree. Terdengar suara Levi keluar kafe, sepertinya mengikuti, dan suara Ilham menyusul turun tangga, sampai suara keduanya kedengaran mendahului langkah Alby ke mobil.
Di rumah sakit ....
Ngilu saat jarum menusuk tangan. Keramaian samar yang tertangkap pendengaran, Bree tidak ada daya membuka mata sampai perlahan tidak merasakan apa-apa setelah brankar pembaringannya didorong.
Kesadaran Bree menurun dan bibir serta kukunya membiru. Meski awalnya terlihat pucat. Bree mengalami hipoksemia dan tukak lambungnya kambuh. Menunggu pemeriksaan lanjutan ditakutkan adanya perforasi.
Alby diam menatap mata Bree sedang terpejam. Gadis itu berbaring lagi, kali ini dengan masker oksigen. Levi memperhatikan angka rendah oximeter di tangan ramping yang selalu sok kuat dan sok sibuk. Ilham pulang setelah mengurus administrasi bersama Levi.
***
"Makan, Bri?"
"Mual."
"Mau disuntik injeksi lagi?"
"Ham, aku udahan di sini?"
Bree paling tidak suka ketika sakit penciumannya berhalusinasi. Seperti bau tanakan nasi atau basi atau pesing membaur di hidungnya. Di rumah sakit masih harus mencium aroma obat. Kala kepalanya sakit yang terlihat seperti menghimpit dan melonggar. Ah ... sangat tidak menarik. Hanya ingin tidur di kamar dengan rileks tanpa ada obat dan suntikan.
"Sabar." Sekali lagi kata yang didengar seperti kemarin.
Bree membuka mata di hari kedua opname, di pagi hari. Sore hari baru merespon sekitarnya kemudian melepas oksigen dua jam setelahnya.
Ini hari kelima Bree berada di rumah sakit. Masih diharuskan infus karena dehidrasi. Tensinya masih drop. Lambung dan pencernaan yang rentan terinfeksi diperparah pola tidak sehat. Anemianya juga parah. Rencana resign terundur demi mengganti biaya rumah sakit.
Seperti apa rasa sakit setelah ini masih harus berlama di lingkungan Sari dan Alby. Bree terganggu pikiran akibat perasaannya.
"Nih ...." Levi menyodorkan buah pisang yang sudah dia kupas.
"Kurang dewoso," celetuk Ilham.
Nah, kalau pisang sih oke. Bree menerima pemberian Levi, mengabaikan tawa ketiga ownernya. Lagi-lagi kata dewoso.
"Ayok, Bro?" Ilham meraih kunci motor di atas nakas. "Makan, Del. Aku sama Levi mau ke pesantren."
"Sekalian cari buah bit," timpal Levi cekikikan.
"Tak tandur di wastafel sama WC," sahut Bree santai. Ingin bicara ke Alby tapi pria itu melangkah di belakang Levi menyusul Ilham keluar kamar.
"Bi," Bree melihat Alby kembali masuk setelah melepas kepergian dua kawannya sampai pintu. "kamu pulang aja."
"Ngusirnya pas Bri udah sehat."
Alby wakil ketua kepengurusan pesantren, masih harus membantu selesaikan tugas bundanya, masih diharapkan Rima untuk di sisinya. Apa gunanya memperlama waktu bersama Bree. Bree jengah keberadaan Alby membuat perasaannya terganggu. Antara ingin memiliki tapi emosi kalau di dekat.
"Setelah ini aku harap kamu nggak usah peduli aku. Jaga perasaan pacarmu."
"Lekas sembuh, Bri. Kafe rindu diurusin Bri." Alby duduk dekat ranjang menatap lekat Bree yang mengalihkan pandangan.
Hanya tidur, bangun, tidur, bangun yang Bree lakukan. Hari ini dia belum ingin ke kamar mandi. Alby masih setia menemani dan sekali keluar untuk makan. Alby menyuapi Bree makan bertahap. Bisa dihitung per 1 atau 2 jam sesuap dua suap. Bree lebih banyak tidur.
__ADS_1
***