Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
21


__ADS_3

Bree dan Alby kembali tertawa lepas. Mengabaikan hubungan yang kacau. Bree membebaskan Alby akan berkendara ke mana, demi menuruti rasa penasaran. Alby sok tahu berkeliling, menerjang jalan berlubang, juga genangan air. Lingkungan di perumahan ini luas, suasananya ramai, namun memberi pemandangan damai.


Alby sampai di jalan panjang di antara tambak. Di sini angin berhembus segar tanpa terhalang bangunan. Udara masih basah usai hujan tadi. Mendinginkan badan yang lembab karena sempat gerah. Di kiri dan kanan jalan berdiri tiang-tiang lampu, tapi padam, membuat jalanan gelap. Ada beberapa rumah panggung di atas tambak.


Bree tertegun, mendapati jalan menuju sebelah pojok perumahan menjadi jalan urugan tanah yang tidak rata. Mulanya, itu jalan berpaving, dan lebarnya bisa dilalui dua mobil. Tapi sekarang terlihat sempit dan berlumpur. Ketinggian air laut hampir rata dengan jalan. Di dua sisi jalan dipasangi pasak yang diikat jaring setinggi pinggang orang dewasa, membatasi sepanjang jalan dengan tambak.


"Rumah itu, masih pada ditempati?"


"Masih, Bi."


Lampu rumah menyala dan jendela terbuka. Di langit-langit teras penuh pakaian terjemur. Itu berpenghuni. Jalan masuk semacam galengan seperti di petakan tambak lainnya, hanya lebih lebar, aman untuk roda dua.


"Dulu aku sering main di rumah ke dua itu. Temenku es de. Kalau pup, mplung! Langsung terjun tinggi ke tambak." Bree tersenyum lebar. Alby tertawa.


"Itu juga ada Innova." Alby memusatkan pandangan yang jauh. "Gimana lewatnya."


Sebuah mobil Innova terparkir merapat di tepi jalan. Kap mesinnya menghadap ke arah mereka. Menurut pandangan pasti kesusahan memutar balik. Itu kalau masuknya jalan mundur, dari tempat mereka sampai sana juga menyusahkan.


"Kebal banget sama jalanannya."


"Ada jalan lain, Bi. Tadi, pas perempatan terakhir, ke arah kanan. Tapi di sana masih perumahan, nggak di tengah tambak kayak ini."


"Jalannya asik sini."


Bree rindu masa bermain di sini. Kala air laut pasang di bulan penuh, bersama teman-teman melempari kerikil dan percikan airnya menyala kebiruan, seperti biopendar. Keriuhan di sepanjang jalan akan terdengar sayup-sayup, menggema ke pemukiman. Untuk pesta kembang api sangat meriah, letusan tidak memekak di telinga, pun puas menyaksikannya.


Gagal melewati jalan panjang. Mereka putar balik. Alby menuntun motor, didorong Bree. Kaki berat karena sandal terjebak lumpur. Di pos kamling dekat jalan tambak ada bak kecil berisi air bersih. Berhenti mencuci kaki dan sedikit menyiram lumpur di roda. Kemudian melanjutkan perjalanan.


Sampai di jalan sepi pemukiman. Hanya berpetak-petak tambak alamiah luas tidak ada ujungnya. Hutan bakau tumbuh lebat dan tinggi. Di depan, jalan 'Ujung' telah tertutup air. Tidak ada pasak dan jaring yang membatasi, seperti di jalan gelap berlumpur tadi.


Ada jalan lain di sisi jauh dari jalan ujung. Jalan ujung dengan jalan itu seperti jalan dua jalur, dipisah satu petak tambak. Lebar keduanya lebih kecil dari jalan sebelumnya, hanya muat dilalui satu mobil.


Alby mengikuti Bree berjalan ke kiri, meninggalkan motor yang terparkir dengan aman. Ternyata jalan satunya lebih kering, dipadati kerikil. Masih nyaman dilewati.


Pemandangan yang disuguhkan seperti di laut lepas yang tenang. Laut Jawa berada di kejauhan setelah melewati hamparan tambak. Cakrawala ditaburi gemerlap ....


"Itu, kapal-kapalnya banyak juga, Bri?" Alby masih mencoba mengambil celah hutan bakau.


Tanaman mangrove terlalu sibuk melambai dihembus angin. Menggoda pendangan kala mencuri celahnya. Kalau berdiri di jalan paling ujung, tentu lebih nyenyak melalui celah.


Kala diperhatikan seksama, gemerlap lampu yang berada di jauh sana sedang bergerak lambat. Saat dilihat sekilas tidak akan tahu itu lampu kapal.


"Kapan ada waktu, kita lebih dekat ke pelabuhan."


Alby puas, meski yang ditemui air dan tanah becek. Baginya ini suasana yang baru. Bagi Bree ini mungkin basi. Ternyata Bree sama saja penasarannya. Sejak tadi antusias, karena tempat masa kecilnya telah banyak berubah.


Bree tersenyum. Lalu menunduk.


Pandangan Bree menjelajahi sekeliling. Abrasi parah dan rob tidak henti.


"Mamah pernah nggak setuju kalau rumah dijual. Tapi kondisi begini udah pasti kasihan masa tua Papah nanti."


Alby tersenyum lembut mendengar gumaman gadis yang terlalu perasa itu sedikit bergetar. Mau kecewa, kesal, cuek, tapi Bree sangat memikirkan. Hati Bree terlalu kecil.


"Berdoa buat Papah." Alby menangkup pucuk kepala Bree.


Dan lihat, Alby menemukan mata Bree berkaca-kaca saat menoleh. Ah, Alby dibuat masam. Dirinya ingin menangis atau tertawa oleh sikap Bree yang lekas mengalihkan tatapan sekaligus menyingkirkan kepala. Sebelum Alby menarik tangan, sejenak mengusap pipi Bree. Sekali lagi Bree mengedikkan kepala.

__ADS_1


Bree semakin ingin menangis karena tangan besar Alby menyentuh pucuk kepalanya, lalu tangan panas itu menghangat di pipinya. Melembutkan rasa yang lama disinggahi kecewa. Menggetarkan hati yang rindu.


Dada Bree naik-turun cepat, suara napasnya besar walau samar dikaburkan hembusan angin. Air mata mengalir di pipi. Alby mengulurkan tangan, ingin memeluk tubuh mungil yang mematung di hadapan. Bree bereaksi menghindar, berjalan melewatinya. Alby tertegun. Hembusan angin enggan membawa pergi pahit.


Bree menetralkan perasaannya. Suara pijakan sandal di kerikil terdengar menyusul.


Alby menyertai langkah Bree menuju motor. Dia mengerti, Bree ingin menyudahi di sini.


Sepanjang perjalanan tidak ada celotehan. Hawa lebih dingin karena sepi di antara keduanya. Alby melewati gang rumah, Bree tidak bersuara. Alby di angkringan ingin membeli gorengan dan kopi, Bree acuh tak acuh. Tapi Bree ramah bersapaan dengan bapak-bapak. Dan tenang menanggapi obrolan tentang papa mamanya. Menampakkan diri baik-baik saja depan mereka.


.


.


Bree sibuk dengan tumpukan buku yang berantakan di lemari besar. Bree masih diam. Hati Alby mendadak aneh. Tadinya ingin duduk berdua di rumah, menikmati wedang dan kudapan panas. Akhirnya ikut merapikan lemari kecil yang sangat kotor di sebelah. Membersihkan buku berserakan, lalu dipindah ke lemari besar untuk dipilah oleh Bree.


Bree menoleh pada objek yang dikerjakan Alby. Hidungnya menjadi risih. Terbayang bubuk bedak dan jenis minyak angin di atas lemari penuh debu. Sesaat otot perutnya tegang. Tenggorokannya tersekat. Bree mual.


Alby mengernyit. Bree mengkerut melihat lemari, dan mendengus, lalu berpaling ingin muntah. Itu seperti refleknya terhadap minyak kayu putih, atau melihat noda lipstik di ujung sedotan Sari, juga saat Surya mengoles parfum. Tapi tidak ada kosmetik di atas lemari. Atau Bree kambuh?


"Istirahat, Bri."


Alby memperhatikan Bree menangis. Kening dan telapak tangan berkeringat. Namun tangan Bree sudi menyentuh buku-buku dari lemari kecil, dan masih terus berbenah. Barang kali juga dengan debu di tempat tertentu. Apa Bree fobia? Psikosomatik? Selalu jijik dengan kosmetik dan obat.


Bree pusing. Ulu hatinya nyeri. Tidak berselera menanggapi Alby. Lagi pula udah tanggung.


Alby memasukkan sampah, dan benda berkarat atau patah untuk dibuang, dalam kantong plastik bekas belanjaan yang selalu Bree lipat rapi. Alby mengelap lemari dengan sobekan buruk sebuah kain. Setelah bersih, Alby berpindah ke lemari besar. Menata ransel dan tas. Menumpuk rapi topi dan dasi sekolah. Yang rusak dia pisahkan.


Ditemukan kaos oblong bersih dan masih bagus yang tergulung asal di tumpukan tas. Alby melipatnya dan meletakkan ke kotak lemari kecil. Lemari itu terbuka memperlihatkan isinya lipatan jenis kain. Sebetulnya berpintu karena ada lubang bekas engsel.


Alby berpikir betapa sulit kehidupan mama Bree. Hebatnya beliau cukup bertahan dengan kondisi ini.


"Mau dibuang?"


"Rusak." Bree memasukkan buku rusak dalam kantong plastik.


Bahkan kebiasaan menjijikan Bree menekan-nekan sumpalan sampah, beralasan mengurangi membuang plastik, tidak dilakukan kali ini. Padahal kantong yang dipakai Alby masih luang banyak untuk dimasuki sampah lagi. Bree benar-benar risih?


Di kolong panjang lemari juga ada sederet rapi album besar, bersama tumpukan buku seukuran buku tulis yang seragam. Alby mengambil satu yang paling atas. Ternyata juga album.


"Dulu aku males otak-atik atas lemari kecil." Bree mengikat kantong plastik. "Selain Mama, siapa lagi yang mikir urusan ginian. Mama nggak ada, ya kacau lebih banyak."


Alby memperhatikan Bree berjalan sempoyongan, keluar menenteng tiga kantong sampah.


Alby ketagihan melihat-lihat album lain. Tangannya mampu mengangkut sekaligus setumpuk album kecil, dibawa ke kursi, lalu duduk.


Satu-satu dibuka dan dilihat seksama. Ada banyak foto dua anak kecil, bersama mama Bree yang masih tampak muda. Alby sudah tahu itu mama Bree karena pernah melihat fotonya, waktu Bree tertidur bersama serakan foto-foto di lantai. Alby menebak dua anak itu Bree kecil dan kakaknya. Sekilas Alby menoleh ke pintu saat Bree masuk, lalu kembali melihat-lihat.


Bree tersadar lemari sudah rapi dari sebelumnya. Meski kelak akan berantakan lagi. Bree kesal memikirkan keadaan rumah, sebetulnya masih mudah dibenahi, dengan banyaknya anggota keluarga. Tentu kalau anggota lainnya mengerti. Bree mengecek tumpukan yang Alby buat. Kaos kaki sebelah, tas dan dasi putus, baju kotor dan hilang kancing. Bree menjadikan satu dengan trash bag di kursi.


"Ini, Bri kecil?" Alby menunjukkan foto seorang bocah.


Seorang anak memakai singlet dan boxer rumah. Berkulit putih. Rambut pendeknya terlihat pirang dan sangat lurus, dikuncir dua, hanya beberapa helai. Giginya baru dua. Bukan ... Giginya empat, Alby melihat samar di gusi bawah.


Dada Bree berdegup kencang. Dirinya malu ditonton Alby. Selama ini Bree merasa, mengalami banyak perubahan yang berbeda, dari kecil hingga dewasa ini. Bagaimana pria itu mudah menebaknya?


Alby melihat pipi Bree bersemu.

__ADS_1


Dari semua album, yang paling banyak foto Bree dan kakaknya. Alby sudah bertemu sang kakak. Foto adik-adiknya bisa dihitung. Bree kecil dengan seorang adiknya mirip londo. Foto-foto rumah dari masa ke masa kelihatan selalu dirombak.


Ada juga foto Bree bersama sang papa. Memang terlihat sekali Bree dekat dengan papanya. Papa Bree waktu muda berambut gondrong dan ikal. Alby menilainya tampan. Alby tersenyum melihat pacar pertama Bree.


Ternyata dari tampilan, Bree mirip kedua orang tua. Potongan rambut mirip mamanya. Bree kecil tidak ada yang berambut panjang. Hanya sekali ini Bree memanjangkan rambutnya, meski selalu diikat. Sejak awal masuk ALIF rambut Bree sudah banyak kali dicepak lagi dan lagi. Outfit oblongan yang santai dan acak lebih ke mamanya. Ada kesan 'mbois. Kala formal lebih seperti papanya. Jengki. Mama dengan papa Bree sebetulnya dua orang yang serasi.


Berbeda dengan sang kakak yang tampilannya normal. Dan ... Feminim.


Setelah puas, Alby mengembalikan album-album ke tempatnya. Bree sedang menjahit ....


Plastik sampah ...?


Bree menambal trash bag dengan lipatan plastik kecil. Pertama kali sampai di rumah dan melihat kantong sampah di atas kursi ini, Bree menggerutu karena adiknya bisa sempat mendedel kantong dan mengacak pakaian di dalamnya. Padahal sudah jelas itu semua rusak dan akan dibuang.


"Beli lakban? Kalau di rumah habis."


"Yang ada aja."


"Seenggaknya nanti didobel biar nggak gampang robek."


"Plastiknya udah ditebelin. Kalau ngangkut bin liner digendong, ya, enggak ketarik."


Simpel bener pemikiran Bree kalau urusan beginian. Tapi soal hati selalu kejauhan mikirnya. Alby tersenyum, mengelus kepala belakang Bree.


Bree berpikir, dirinya saja mampu menggendong trash bag berisi penuh pakaian ini. Harusnya para pria di rumah juga mampu. Kecuali nggak ngide. Wong bukannya pada mikir buang, malah diadul-adul lagi.


"Istirahat dulu, Bri? Besok kita lanjut beberes."


Alby masam tidak mendapatkan tanggapan dari Bree.


Setelah mandi. Keduanya bersantai. Gorengan sudah tidak sepanas tadi.


Nyamuk banyak dan ganas. Alby sudah merasakan gatal dan panas karena dihisapi sejak tadi. Bree melihat pergerakan Alby dari sudut ekor mata. Melirik ke atas lemari yang tadi dibersihkan Alby. Hidungnya masih lekas risih. Sekilas mengalihkan mata sambil mendengus, lalu mengambil napas dalam-dalam, dan menahannya. Bree menghalau cemasnya, mendekati lemari kecil, dan membuka laci.


Alby memperhatikan polah Bree yang berkali-kali mendengus ingus. Bree membuka laci lemari kecil. Lagi, ingusnya didenguskan sebelum pergi dari lemari kecil.


Bree tidak menemukan anti nyamuk bakar. Di meja dekat kasur juga tidak ada. Bree berpikir sejenak. Dirinya seperti sempat melihat, tapi lupa itu kapan dan di mana. Meski sudah lembab seharusnya masih bisa diusahakan menyala. Itu yang sering dilakukan bersama mamanya.


"Bri kenapa?" Alby melihat Bree duduk di tepi kasur memperhatikan tanah dengan diam. Napasnya seperti ngos-ngosan.


Sosok Alby sudah berdiri dekat ambang pintu kamar.


"Ngusir nyamuk."


Alby betul-betul dibuat sakit oleh sikap Bree beberapa waktu ini.


"Aku nemu di lemari. Udah lembab."


Ah ... Ya! Di atas lemari kecil. Bree sekilas melihat anti nyamuk bakar hijau di atas lemari kecil. Karena tidak biasa berlama-lama memperhatikan area situ, jadi tidak merespon.


"Masih bisa dipake, Bi."


Kali ini Alby baru bisa lega. Dia mendapatkan respon lembut dari Bree. Bahkan keduanya bertatapan mata.


"Yok, beli? Masih ada warung buka, kan?"


"Ya."

__ADS_1


Motor sudah dimasukkan. Mereka berjalan kaki pergi ke warung.


***


__ADS_2