
Tatanan dalam kulkas tidak ada yang berantakan, bahan diletakkan dengan rapi dan sebelumnya dicuci bersih.
"Siapa makan kacang panjang sama wortel." Bree menggerutu karena tidak menyukai sayur.
"Aku pengen pocari, Bre!" seru Levi.
Bree menemukan sebotol penuh jus berwarna merah. Sebelumnya tidak ada dan botolnya tidak dingin, dia menduga masih baru. Bree meringis mencium aroma rotan dan tanah terlalu mencekik kerongkongan.
Botol pocari 2 liter yang isinya masih penuh diambil Bree. Tidak lupa membawakan gelas. Game tidak akan semudah itu mengingatkan kondisi seseorang. Asik main tentu lupa minum. Levi tidak persiapkan minumnya dulu.
"Makasih ya, Bre."
"Jus bit siapa di kulkas?"
"Kamu," sahut Levi, "itu jamumu."
Ah, pasti tadi beli di pasar.
"Diminum sedikit-sedikit, Bri," perintah Alby.
Alby mengejus semua umbi bit untuk satu botol penuh. Mungkin terlalu kental bagi Bree yang pernah menolak meminumnya. Pernah Ilham membelikan satu cup dari outlet jus, teksturnya lebih encer oleh campuran air dan es batu, Bree tampak menahan getir.
Bree masuk ke kamarnya. Menyalakan televisi. Box Movie terlambat dia tonton. Kebisingan di ruang depan membuat Bree merasa ditemani. Kadang televisi saja membuat dirinya takut ketika ngelilir menemukan iklan horor.
Selesai mencuci gelas, Alby menengok Bree di kamar. Merapatkan selimut yang tidak pernah dilepaskan sekalipun duduk santai di sofa, meski udara panas bahkan sudah berpakaian panjang, Bree tampak nyaman di dalam selimutnya. Alby memandangi wajah yang pulas.
Usai game menyadarkan Levi bahwa malam beranjak dini hari. Levi membereskan tempat sebelum pulang.
"Balik, Bro?"
"Oke."
Alby menutup tirai jendela kamar lalu menutup sedikit pintu kamar Bree. Sementara Levi cek pintu dan jendela balkon, menutup tirainya. Menarik tirai kaca slinding sampai tertutup rapat sekalian keluar. Setelah Alby mematikan lampu ruang depan menyusul Levi keluar dengan menutup pintu slinding.
***
"Aku baru tutup cafe."
Irzi mengira Bree sudah kelar kegiatan karena hampir jam delapan. Biasanya jam tujuh cafe sudah ditutup. Bree bahkan belum membersihkan diri.
"Tadi ada request user pas closingan."
"Oke aku ke situ."
"Sampai nanti."
Bree merapikan lembaran uang dimasukkan ke saku celana. Mematikan lampu kemudian mencuci muka. Sambil melangkah ke kamar loker melepas apron, melipatnya dan meletakkan dalam kotak loker.
Siska memperhatikan seniornya mengkuncir rambut, dengan mulut menggigit scarf yang tadi dipakai jadi bando. Siska tahu seseorang di luar telah menunggu Bree itu kenapa kelihatan seperti tergesa.
"Kalau mau ngedet kuncirannya yang cantik. Udah bagusan ekor kuda malah ganti cepol. Mana nggak ada rapinya itu."
Anak rambut Bree beterbangan. Kalau tiap helainya tebal sudah mirip rambut singa. Bree mengusapnya ke belakang, menyalipkan di belakang telinga. Scarf dimasukkan ke kotak loker.
"Nanti semrawut lagi."
Siska melongo mengetahui betapa sepele penampilan bagi si tomboy ini. Masih berdiri memperhatikan Bree meraih helm, keluar dan menutup pintu loker. Pipinya menjadi sasaran kecup.
"Semangat shift sore."
"Kakak hati-hati!"
Nyatanya Bree sudah melewati pintu utama yang tertutup, tidak mungkin mendengar seruan Siska. Di halaman Bree langsung menemui temannya. Tanpa mandi atau setidaknya berganti seragam. Baru saja memakai helm sambil naik ke boncengan, kini membiarkan sebelah kaki tersampir di atas jok, helm kembali dilepas dan menyilak rambutnya ke belakang.
"Rambut jagung, yang punya grasak grusuk."
Siska melanjutkan langkah ke dapur. Dirinya shift 3. Cukup repot di shift sore yang paling kerap ramai, terutama ketika ada pesanan cafe. Hanya bar dan jus yang tutup. Meski dalam kondisi riweh pesanan cafe yang harus masak boleh ditolak, tapi per menu bisa menjadi target yang lumayan menambah gaji operator.
"Mandi barang sebentar juga kutunggu, Bri."
"Males, Zi. Bulukku bisa luntur."
"Itu paten."
"Kamu jago matikan percaya diriku."
Kamar kost seorang teman tampak sepi. Setiap kamar tidak memiliki teras, Irzi duduk di kantin kost setelah tuan rumah berjanji secepatnya sampai. Bree menyusul Irzi setelah menelfon penghuni kamar yang dituju kosong.
"Matcha belum ready."
"Sila yang minta matcha, niatnya parohan. Nggak ada stok minuman, terlanjur tuman. Kamu lama nggak ajak aku ambil coklat?"
"Udah ada yang belikan." Bree nyengir.
"Masmu?"
"Aku nggak punya mas. Mahal. Kalau tambang ada."
"Mati." Irzi terkekeh.
"Rokok dulu, Mbak." Seseorang baru saja duduk di bangku yang sama menjejeri Irzi.
Bree mengambil sebatang Mild dari bungkus rokok yang baru saja berada di hadapan. "Makasih, Dim."
Bree sulutkan rokok setelah korek dinyalakan Irzi. Irzi tidak merokok.
"Makasih, sayangku."
__ADS_1
"Ogah pake sayang-sayangan."
"Oi, Mbak!"
Yang ditunggu akhirnya datang, terlihat membuka kunci pintu kamarnya. Dia sedia bubuk minuman yang dijual lusinan. Minuman instan bervarian rasa dikemas dengan label khusus. Bree biasa ambil rasa coklat. Pertama kali meminumnya, Irzi langsung suka.
"Satu yo, Kris."
"Redi!"
Setelah mengambilkan barang pesanan Bree, Kris menemui ketiga orang di kantin seberang kamarnya. Meletakkan sebungkus rokok di meja mempersilakan siapa yang ingin ambil.
"Nggak kebagian matcha lagi, Bro." Kris menyerahkan kemasan bubuk coklat kepada Irzi.
"Yang ada dulu."
"Cafe paling banter itu matcha. Selain black."
"Kalangan ciwik-ciwik penyerbu katekin," timpal Bree.
"Golongan polifenol," sahut Kris. "Gudangnya penuh coklat, machiato, caramel."
Selepas obrolan, Irzi menyerahkan uang kepada Kris sebagai pembayaran, lalu mengajak Bree pamit. Kris juga kembali ke tempatnya tadi main. Bertiga meninggalkan Dimas yang baru saja memesan makan.
"Mau bikin coklat dong, Zi."
"Sambil nonton mitos mistis, Bri."
"Ada apdet lo."
"Aku ada komputer."
"Tanpa si mungil laptop lagi?"
"Iyolah, lebih lebar kayak kamu nonton layar lebar."
"Lebai monitornya segede itu. Ah, layar tancep."
"Dikira ngapain kita, berduaan dalam kamar remang-remang"
"Enak enak."
"Ogah aku sama bentukanmu, cewek kok gak ada anggunnya."
"Pait! Enak kayak di angkringan, makan emi wedangan sambil nonton filem. Ada mi kan?"
"Mampir warung, kehabisan stok mi."
"Yup."
"Perencanaan sedari dini. Nikah, lekas punya anak deh, jadi afdol itu cara hematmu."
"Aamiin."
"Udah ada?"
Bree dan Irzi saling menatap.
"Masih dikotak hadiah."
Mereka terkekeh bersama.
"Dipikir pasanganmu paket."
Akhirnya keluar dengan beberapa bungkus mie instan, camilan, dan rokok. Mereka pulang ke kost Irzi. Masih satu komplek dengan cofinet.
Batre ponsel Bree mati. Tidak membawa pengisi daya. Biasanya Bree keluar mencangklong tas kebanggan yang isinya dompet, korek, charger. Tapi tadi tidak terpikir ke lantai dua dulu untuk bersiap-siap.
Charger milik Irzi tidak berhasil mengisikan daya pada ponselnya. Bree meninggalkan saja memilih merebus air untuk masak mie.
"Sowak mirip yang punya. Minta belikan hape sama Masmu."
"Dia ownerku!"
Bree membuka channel podcast faforitnya mencari episode yang terlewatkan. Tertimbun banyaknya video terbaru. Sudah lama tidak menonton. Bree membatasi pemakaian internet. Irzi sendiri tidak mengikuti channel itu, dia menonton karena ajakan Bree.
"Kalian cinlok?"
"Cilok enak, Zi." Bree mengaduh punggungnya dikeplak Irzi.
"Makanan yang di otakmu itu?"
Irzi ingat ada charger di kardus besar yang selalu rapi tergeletak di pojok kamar. Setelah menemukannya, dia colokkan pada ponsel Bree dan tersambung. Bree membiarkan daya terisi dulu beberapa detik sebelum menyalakannya. Irzi membuatkan minuman.
"Aku risih. Alby betah di atas tiba-tiba berperan pengayom. Akunya nyaman."
"Di atas enak mungkin."
Irzi menyerahkan segelas coklat panas kepada Bree. Tangan Bree menerima gelas, matanya menatap Irzi yang duduk di hadapan.
"Di atas capek, Zi?"
"Mesti otaknya mesum!" Irzi lempar bungkus rokok dan kena tepat pipi Bree.
Bree meringis mengelus pipinya yang tergores ujung bungkus. Sedikit sakit karena rokok masih penuh sehingga bungkusnya berat.
"Atas cafe to? Capek naik tangga. Yang mesum itu otakmu."
__ADS_1
Irzi masih menyimak, sepertinya Bree masih ingin mengungkap uneg-unegnya.
"Aku takut nyakiti ceweknya. Meski Alby udah jelasin adanya siapa aku, bagaimana kami. Tetap ceweknya ada fikiran buruk kan."
"Aku juga nggak enak sama anak-anak, Zi."
"Belum ada kata sah dari Masmu sama ceweknya, Bri."
"Itu juga yang dikatakan Ilham dan Adiknya waktu guyonan comblang. Tapi sangat nggak tanggung jawab, Zi. Bisa jadi watak terburuknya nanti."
"Suka-suka kamu deh mikir ke mana. Susah bicara sama orang yang udah negatif jalan pikirnya."
"Pelitmu, Zi!" Bree mengecap-ngecap mulut merasakan hambar minumannya. Irzi terkekeh.
"Kebanyakan air."
Bree menambahkan sendiri bubuk minuman ke gelasnya sambil menggerutu. "Sok-sokan ngeladeni tamu."
Dua mangkuk diletakkan dekat kompor dan menyiapkan bahan mie. Air belum mendidih. Bree berdiri menunggu.
"Yang lainnya juga nggak masalah kan kalau kalian sering bersama." Irzi masih menyambung percakapan tadi. Kali ini bersuara agak keras karena posisi disekat tembok pembatas kamar dengan dapur.
"Oke mulut mereka seakan mendukung. Kelihatannya nggak papa. Tapi di benak?"
"Sampai kapan hidupmu permasalahkan dugaan sendiri?"
"Selama menurutku itu merugikan banyak pihak."
Bree mencemplungkan mie dalam didihan air. Menyeruput minumnya.
"Akibatnya kamu terhalang dapat jodoh!"
Bree terdiam masih memegangi gelas. Jauh berfikir dan terlalu perasa sehingga banyak pertimbangan. Dirinya belum sama sekali menanggapi Alby karena memang tidak berharap. Tapi kepedulian Alby membuatnya rindu sosok Papa di masa kecil.
Mie instan kuah ayam spesial dengan telur setengah matang dan soto polosan siap saji. Irzi ambil kerupuk dan bubuk cabai.
Mereka menonton tayangan investigasi sejarah dan mitos. Membahas dan mengungkap kejadian mistis yang ada. Bree terbawa imajinasi atas apa yang dipaparkan di sana. Padahal penakut.
Irzi tidak biarkan Bree nyenyak, memberi kejutan di tengah keseriusan menyimak tontonannya. Respon Bree membuatnya geli. Sungguh gadis nekat. Sok berani padahal di balik itu banyak kekhawatiran.
"Kamu coba semedi terus membatin Mamas kamu itu. Siapa tau dengan telepati pertemukan kalian."
"Nah, kenapa mesti capek-capek semedi? Tinggal telusuri aja dia di mana, temui. Seprovinsi kok."
Bree tertarik dengan pentolan Mitos Mistis. Bukan karena kegiatan ataupun kekurangannya yang umum dikatakan itu sebuah kelebihan. Tapi senyuman si mamas memang menawan baginya yang menyenangi kesederhanaan. Hehehe.
"Trus ditolak."
"Zi! Kamu demit!"
Tapi memang iya, pasalnya mamas tidak memiliki tujuan berpasangan dulu saat ini. Ungkapan sendiri di salah satu episode. Pun tidak ragu memamerkan cincin di jari manis yang sengaja dijadikan tanda.
Di menit awal episode ke empat yang terputar, Bree dan Irzi diserang kantuk. Mata Bree pedih. Irzi sesekali berpindah menatap layar ponsel, membalas pesan atau sekedar menggulir layarnya. Kekeh melanjutkan nonton meski mata sudah tidak kompromi. Lama kelamaan tayangan berganti dongeng nina bobo. Mereka terlelap ....
Menghirup udara dingin, hawa berbeda dari kamar biasanya. Bree membuka mata menatap pintu kamar terbuka lebar. Dia mendongak, mengitari kamar luas tanpa banyak barang. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
Bree malas-malas mendudukan diri. Sebelah tangan memutar ke belakang tubuh, menumpuk bantal dan guling. Dia menatap tembok. Tersadar menghadap barat. Posisi kepala kasur ada di selatan. Benar saja ketika menoleh ke timur, guling telah berantakan dengan ujung lain menyentuh lantai, bantal tergeletak di lantai.
Pantat tidak bergeming, tangan berusaha meraih bantal. Bree membutuhkan oksigen, kepalanya pusing. Bantal dan guling ditumpuk ke sisi kiri tubuhnya. Sebelah selatan. Kini melipat selimut. Kapan dirinya memakai selimut? Bree malas. Masih mengantuk. Memeluk lipatan selimut menjatuhkan kepala ke kasur.
Irzi keluar dapur menemukan pantat temannya njempong. Seperti katak malas.
"Hai, Bri."
Bree masih pada posisinya hanya menggeser kepala. Matanya mengamati Irzi yang melangkah keluar menenteng ember. Irzi keluar pintu barulah Bree membalas sapa.
Irzi geli, "telat nyahutnya," bergumam yang mungkin tidak kedengaran Bree.
"Jam berapa ini, Zi?"
Sepertinya sudah pagi tapi di luar masih gelap. Irzi pun terlihat segar. Jam di dinding terasa jauh sekali dijangkau mata.
"Mungkin jam lima," jawab Irzi memakai perkiraan. Dia sedang menjemur di teras.
"Bikin kopi, Bri, tapi adanya mix."
"Mau."
Bree butuh membangun fokus. Dirinya di confusional arousal. Setidaknya kopi membangkitkan mood. Bree menumpuk selimut di atas guling. Meregangkan badan yang masih lemas. Dia menguap.
Kebiasaan bangun tidur tubuh beradaptasi dengan lingkungan, hidungnya mulai gatal, dia bersin ketika kakinya menapaki lantai. Di kamar mandi lagi-lagi bersin.
Bree merebus air untuk membuat minum. Meski dispenser ON, air panasnya kurang mantap untuk secangkir kopi.
Irzi mengamati Bree memejamkan matanya dengan muka di atas panci. Sedang menikmati uap panas yang mengepul.
"Asin nanti kopimu, Bri."
"Ingusku udah netes, Zi."
Bree sentrup ingus yang mengalir dalam hidungnya. Irzi tunyuk kepala Bree lantas terjenggung mendekat panci. Heran, temannya satu ini terlalu selengek. Mereka cekikikan.
Irzi menyiapkan dua gelas sekalian menubrukinya beberapa sendokan bubuk coklat dan sesaset kopi ke masing-masing gelas. Bree mematikan kompor dan menuang airnya.
Mereka duduk bersandar tempat tidur. Bree merasa hangat menggenggam gelas. Menunggu waktu yang masih jauh dari jam aktifitas sambil mengobrol obrolan ringan.
Ketika ponsel dinyalakan, notifikasi memberondong. Banyak pesan masuk. Termasuk 36 panggilan dan 3 pesan dari Alby sejak semalam hingga pagi ini.
__ADS_1