Jangan Katakan MAAF

Jangan Katakan MAAF
04


__ADS_3

Bree akan cek pesan yang sudah banyak masuk setelah mengaktifkan ponselnya, karena ponsel mati semalaman. Baru saja ingin cek pesan, Alby menelpon.


"Pagi, Bi?"


"Pagi. Bri di mana?"


"Tempat Irzi."


"Ya." Alby mematikan panggilan.


Telepon dari Levi menyusul.


"Bre?"


"Ya?"


"Di mana?"


"Di gang timurnya cafe."


"Oke." Levi mematikan panggilan.


"Kenapa?" tanya Irzi.


"Nona Rapunzel ngilang semaleman dari loteng."


"Yang ada tu panggilan tugas!"


Bree meletakkan ponsel menunda mengecek. Pesan dari owner? toh owner sudah tahu keberadaannya. Pesan dari yang lainnya, nanti saja, masih di kondisi nyaman tanpa ponsel.


"Bwuh, manis banget ini kopi."


Irzi tertawa mengetahui Bree tidak ngopi manis. Kopi sasetan mix gula rasanya sangat manis. Bree meletakkan gelas di lantai seraya meraih ponselnya yang bergetar. Sekali lagi ponsel Bree bergetar. Bree membuka pesan dari Alby.


[aku di bawah]


"Alby di sini!?" Bree menatap Irzi sebentar, lalu bergegas keluar dan menengok bawah.


"Bi!" panggil Bree, langsung saja Alby menengadah.


"Hai."


Alby parkir motor dan datangi kamar Irzi. Setelah saling menyapa, Alby dan Irzi terlibat obrolan.


"Mas mau kopi? Atau teh?"


"Join kopi Bri aja, Zi."


Sama-sama di jurusan terkait bahasa asing membuat obrolan Alby dan Irzi menyambung. Bree menyimak saja. Setelah menghabiskan kopi dan bersiap-siap, Alby mengajak Bree berpamitan.


Alby tidak langsung membawa Bree kembali ke cafe. Mereka di jalan stadion yang setiap pagi dan sore ramai pedagang maupun orang-orang berolahraga. Bree dan Alby di tenda soto.


"Kontakmu nggak aktif?"


"Ponsel lobet. Aku tinggalkan nonton."


"Apa harus tidur di kos Irzi?"


Mulut Bree mengunyah keripik tempe gurih yang dicocol kuah soto ayam pedas. Memperhatikan Alby yang menatap. Netra Alby seperti menunggu penjelasannya. Sikapnya tenang tapi tatapan dalam seolah menyidang Bree yang menginap di rumah teman tanpa ijin sepulang dari sekolah kemarin.


Alby mengernyit, sebentar menaikkan kedua alis. Betulan membutuhkan jawaban Bree yang baru selesai mengunyah.


"Kemaren sore aku antar Irzi ambil coklat. Minum coklat bareng sama nonton," terang Bree. "Kami kebablasan tidur."


Pandangan Alby masih menyelidik.


"Aku nggak bawa pengisi daya. Irzi nemu charger yang pas ponselku dari kardus barang-barang lama, itu udah larut ponsel mati. Tertinggal nonton."


"Habiskan makanmu, setelah ini prepare."


"Hm."


Outdoor led sign cafe menyala, dalam cafe, lampu bar terang. Di halaman parkir ada motor Ilham dan Levi. Mereka sudah sibuk di cafe. Ini terlalu pagi dari jam buka yang seharusnya jam 10 nanti.


"Itu lap daun." Bree memicing menatap Ilham yang mengelap kaca depan.


Ilham mengangkat kedua tangan tanpa ekspresi. Muka khasnya. Sebelah tangan menunjukkan lap yang sudah dipakainya bebersih sejak tadi.


"Kotor."


Selalu saja memakai yang sudah dipisahkan. Itu satu-satunya lap microfiber yang dimiliki cafe. Bree mengkhususkannya untuk tanaman karena itu bahan terbaik mengusap permukaan daun.


Levi menuang biji kopi beraroma sangrai dalam toples. Kondimen tertata penuh di wadah. Biasanya untuk prepare barang baru, seperti biji kopi yang harus disangrai owner, antara jam 8. Ini baru jam 7 bahkan cafe sudah rapi dan lampu menanda buka.


Bree masuk kamar loker. Helm dilepas. Dikeluarkan lembaran uang dari saku, kemarin sore tidak terpakai. Rokok pun dibelikan Irzi.


"Bri ...,"


Ilham mendekati Bree, sebelum berbicara, Bree mendahului menyinggung openingan yang terlalu awal.


"Nggasik?"


"Ho oh, hari ini kamu libur ya? Cafe biar aku sama Levi yang jaga."


Perlahan menutup pintu brankas, Bree menatap Ilham di sampingnya. "Nggak ada konfirmasi? Kalian nggak ke panti?"


"Nggak ada kegiatan."


"Oke."

__ADS_1


Setelah mengunci pintu brankas dengan tidak menggubris lagi Ilham yang masih berdiri di dekat, Bree keluar kamar loker, di tangannya sudah membawa buku rekapan. Ilham mengekor.


"Pantesan pagi-pagi udah kerajinan."


"Rencana tutup siang," kata Ilham.


Bree terhenti menatap satu-satu ownernya. "Enak sekali kalian, gan. Udah geh aku aja yang jaga."


"Ngeyel! Naik sana." Alby mengusir.


"Naik, Bre. Jatahmu hiling," tambah Levi.


Bree mendengus melangkah ke pintu utama. "Jam sore justru ramai malah kalian tutup." Ingat telah melupakan sesuatu, Bree memutar langkah dan menuju bar, mulutnya masih mengoceh.


"Lagian pagi hari bukan waktu tepat kopi masuk tubuh."


"Penuhi dulu daya ingat, baru ngomel," timpal Alby.


Di laci masih ada uang receh dan resi akhir dari orderan pascaclosing, kemarin sore, mesin sudah di-off-kan setelah rekapan akhir tiba-tiba pesanan datang dalam jumlah lumayan banyak untuk menemani beberapa mahasiswa yang mengerjakan tugas di warnet.


Bree memunguti recehan yang berserak di laci kasir. Dihitungnya per ribu masing-masing dimasukkan dalam plastik seperempat. Postur badannya sedikit membungkuk. Begitu selesai dan menutup laci, menemukan ketiga pria berdiri diam memandanginya.


"Nggak lanjut kerja? Kalau ada stop mana cepet beres, katanya mau gasik?"


Levi mengguntingi kemasan biji kopi. Alby berdiri memainkan daun. Ilham menggaruk kepala yang gatal berkeringat.


"Capek," ungkap Ilham.


"Closing kemaren udah dibersihin. Harusnya prepare bahan aja, gan. Bebersih menyusul di tengah shift."


Mata tiga owner mengiringi langkah Bree yang menapaki tangga.


"Aku langsung cuci aja, yang punya udah protes."


Levi dan Alby tertawa kecil memperhatikan Ilham masuk dapur. Alby melihat Levi yang membuat kotor meja bar.


"Malah nyampah, Bro?"


Levi terkekeh ditegur Alby. Dia merauk guntingan hasil menyampah untuk dibuang. Alby merapikan toples biji kopi.


Bree duduk diantara tanaman mawar, merekap catatan yang kemarin sore belum dia garap. Memasukkan nominal dari resi ke buku, meneliti setiap angka. Menghitung lembaran uang dan koin, mencocokkannya kembali.


Angin berhembus menggigilkan badan yang berkeringat. Malas mandi kalau sudah dingin di badan. Oke juga libur, dirinya ingin tidur lagi setelah ini. Bree memandangi tanaman yang menari dikuasai angin. Aroma kopi menguar dari pot tanaman hias.


Daun-daun tomat layu di usia bayi, Bree mengambil gunting untuk memotongnya. Beberapa hari kemarin hujan berturut cukup awet. Bibit hanya diteduhi atap plastik bening, embun dan lembab tentu tidak terhindar. Berharap nanti matahari menghangatkan mereka.


Alby memperhatikan gadis yang telaten merawat tanaman. Kebetulan sekali Ilham dan Levi memilih giliran jaga cafe. Alby ingin menikmati hari bersama gadis itu. Cuaca cerah dan angin berhembus menyegarkan tubuh.


"Belum niat mandi, Bri?"


Bree menoleh sebentar pada Alby yang berjalan menemuinya. "Adem."


"Ke mana?" tanya Bree, sekali lagi menoleh.


"Jalan."


"Aku ngantuk." Kali ini Bree tidak menoleh.


"Bri nggak mau jalan sama aku?"


Bree kerap berpikir apa seorang Alby juga memiliki minder. Justru selama ini Bree yang tidak percaya diri. Kekurangannya banyak sekali dibandingkan Alby.


Bree hentikan aktifitasnya untuk lebih fokus bicara dengan Alby. "Aku capek, Bi."


"Tujuan Ilham istirahatkan shift, biar Bri bisa istirahat. Tujuanku ajak keluar biar Bri refreshing daripada ngamar. Prepare gih?"


Bree menimbang perkataan Alby bahwa itu benar. Tidak ada kesempatan di lain hari karena hari libur ini jarang Bree dapatkan. Libur juga hanya berdiam diri di lantai atas cafe, tempatnya tinggal. Tanpa kendaraan dan mengirit pengeluaran membuat malas bepergian.


"Ya." Bree sumringah.


Alby tersenyum menyaksikan semangat Bree. Dirapikannya uang serta alat tulis sementara gadis itu menyemprotkan air fermentasi nasi basi pada tanaman untuk menghindari hama dan daun-daun mengkerut.


"Ini udah semua?"


Sebentar Bree menoleh. "Tinggal input. Kekurangan uang modal udah aku tulis." Bree membereskan peralatan serta sampah-sampahnya.


Alby mengikuti langkah Bree menuruni tangga. Menunggu Bree bersiap sementara dia mengecek warnet mengontrol aktifitas user dan melihat kinerja operatornya. Andre yang jaga shift dua pagi ini.


Bree menyiapkan roti tawar selai kiwi dan jus mangga. Buah-buah yang sudah tidak digunakan oleh cafe tapi belum kedaluwarsa merupakan tambahan sedikit vitamin. Tidak nyambung sebagai bekal sehat karena tanpa protein dan lemak. Roti dan kiwi cenderung kalori dan karbo, juga gula. Sedikit nutrisi.


Ke mana Alby akan mengajaknya yang penting ada camilan tanpa keluarkan dana. Akan dia nikmati liburan ini bersama Alby. Bree memasukkan botol jus dan kotak bekal dalam tas slempang buluk. Resliting kantong tasnya sudah memberedel tapi Bree tidak berniat beli tas baru.


Bree duduk di tangga menerawang iringan mega. Langit cantik pagi ini. Angin berhembus dengan damai. Tetapi perasaannya mengganjal sebab banyak berpikir hal yang membawanya tidak enak hati. Alby menemukannya sedang terdiam. Pantas saja lama bersiap, tasnya tampak penuh.


"Ngalamun?"


"Enggak."


Keduanya saling menatap dengan diam. Mata Bree berkedip beberapa kali sambil menggigit bibir. Alby mengerti, Bree memikirkan sesuatu tidak tersampaikan. Dia mendekat dan menyentuh pucuk kepala gadis galauan ini.


"Jangan pernah memikirkan hal yang nantinya jadi perkara dalam hati Bri sendiri."


Alby mengulurkan tangannya tanpa ragu disambut Bree. Tangan satunya meraih tas yang tergeletak di anak tangga. Dituntunnya Bree menuruni tangga, dibawa mendahului masuk cafe. Levi dan Ilham menoleh. Bree melepaskan tangan berjalan masuk meninggalkan Alby.


Penampilan hangat Bree terlihat adem. Tubuh kurusnya dibalut sweater baby terry hijau alpukat dengan turtleneck menutup leher jenjang. Jogger cinnamon membalut kakinya yang tinggi. Tidak tertinggal sandal crocs coklat kacang kebanggaan sehari-hari. Rambut sebahunya tergerai acak. Levi mulai menggoda.


"Nona kencan sama pangeran yang mana? Tinggal pilih lho ini."


"Pangeran cari nafkah buat masa depanku nanti."

__ADS_1


"Pangeran nggak perlu kerja, duduk diam aja," timpal Ilham.


"Iya yang kerja ajudannya. Itu, kalian."


Eh, ini kan cafe mereka.


Bree masuk kamar loker. Levi dan Alby bersahutan saling menyangkal bukan peran ajudan yang mereka mau. Mereka memerankan pangeran.


"Pangeran apa jendral itu, Bri?" tanya Ilham.


"Mafia."


"Seleramu kok bandit, Bre," timpal Levi.


"Ngeri," celetuk Alby.


Tidak peduli ocehan ketiga pria, di otak Bree terisi khayalan seorang ketua mafia besar yang juga pengusaha kaya, datang menjemputnya. Airbus L1e Super Puma navy blue mendarat di rooftop ..., tidak tidak tidak!!! Tanaman mawar dan pandan akan mati, tomat dan melon bisa kobat kabit nanti ....


BRAK!


Helm merusut ketika tangan baru saja meraih dari atas rak. Ketiga pria menengok, menemukan Bree memungut helm di lantai lalu mengecek kondisinya.


"Mau debus," celetuk Alby.


Bree menoleh, ketiga pria berdiri dekat pintu. Bibirnya mengatup, kantung mata membesar menyipitkan matanya yang sudah minim, alisnya melengkung. Ilham sempat iba. Tanpa polesan makeup membuat warna muka Bree ketara memucat.


"Helmmu pecah?" tanya Ilham.


"Enggak."


Levi yang masih terkikik meraih helm dari tangan pemiliknya. Baut visor helm longgar, hanya mengencangkannya saja, aman karena bodi helm tidak ada yang retak. Levi mengurungkan helm ke kepala Bree.


"Tameng tuan putri sempurna lagi."


"Nggak sopan pake helm dalam ruangan, banyak orang tua." Bree melepasnya.


Tua??? Ilham dan Levi saling memandang. Keduanya melempar pandang ke Alby. Alby mengalihkannya memandang Bree, disusul Ilham dan Levi mengalihkan pandangan pada Bree. Keempatnya terlahir di tahun yang sama, itu berarti sama-sama orang tua.


"Makasih, Lev."


"Udah mandi?" tanya Levi.


Tersinggung sekali perasaan Bree. Mandi atau tidak akan terlihat sama saja kan di mata lainnya.


"Semalem ngompol," sambung Ilham.


Otak Bree kembali terlintas para bandit datang menjarah coffee shop milik tiga sekawan, dan merebutnya dari mereka ..., oh! pot-pot yang dibeli dengan uang susah payah bisa berjatuhan dan pecah karena aksi ketua bandit dan gengnya! Langkah Bree tersandung kaki sendiri, dia terjatuh, helmnya menggelinding. Bree meringis.


"Nanduk?"


"Tuman."


Gara-gara Eurocopter Airbus!


"Ngantuk?"


Bree melirik Alby yang tidak peka masih bertanya. Jelas sejak tadi Bree sambat mengantuk dan capek. Apa mungkin Bree kuwalat berfikir meninggalkan cafe dan ketiga owner yang sudah baik kepadanya demi mafia dan bandit?


"Aku kasbon?" pinta Bree kepada Ilham.


"Ya Allah, kepikiran nggak ada duit?" Levi terkekeh.


"Ambil aja," sahut Ilham.


"Udah." Bree bungah, selembar 50.000 dia tunjukkan.


"Beli apa mapolohrebu?" tanya Levi.


"Beli Levi!"


"Weh! Hargaku?"


"Short time." Bree terkekeh berjalan keluar.


"Kamu libur dua hari ya, Bri," suruh Ilham.


"Dua hari?" Bree kembali menghadap Ilham. "Kenapa nggak sekalian aku libur dua minggu?" Bree nyengir.


"Maunya!" Jari Alby menutuk kepala Bree.


"Cut!" Levi mengibas tangan di leher.


Bree berbalik dengan bibir mengerucut, langkah kakinya lekas menuju keluar.


"Mau ke mana? Beli pempes?"


"Pesing, Bri."


"Aku lempar ke kali lah." Alby menyambung.


Beneran berharap ada bandit jarah mereka! Bukan kuwalat, mereka memang pria rusuh. Biarkan cari barista yang sudi merangkap pelayan dan kasir dengan gaji setengah upah minimum.


Bree berdiri di teras, berkaca pada slinding door. Ketiga pria masih bercakap. Sepertinya membahas proyek pesantren. Itu yang ditangkap Bree. Ilham dan levi dipercaya memegang kepengurusan pesantren putra yang baru proses pembangunan.


"Bi, ikutan kegiatan Ilham dan Levi?"


"Hmm, oke juga."


Alby tidak mengikuti kegiatan itu dan kali ini ada rencana ingin ikut serta dalam kepengurusannya.

__ADS_1


Mereka berhenti di sebuah kedai karena sama-sama ingin ngopi. Alby menunjuk bakpao mungil dalam keranjang camilan di meja, Bree menunjuk tasnya, sudah ada bekal roti. Setelah Alby membayar, mereka duduk di kursi paling depan dekat pintu masuk. Kedai ramai dan hampir penuh.


__ADS_2