
Pagi ini aku sekolah seperti biasa ditrmani motor kesayanganku. Aku mengendarai motorku dengan kecepatan yang agak kencang karena takut terlambat, maklum aku telat bangun.
Semalam aku tak bisa tidur karena Darius gak membalas pesanku. Pesanku cuma dibaca tanpa dibalas.
" Hmmm.... Kenapa sih kamu tu suka gak balas pesanku. Salahku apa sih. Kamu berubah." Kataku dalam hati sambil dan air mataku tak terasa ingin keluar.
Aku berhubungan resmi pacaran dengan Darius sudah hampir 5 bulan ini. Darius adalah cinta pertamaku, yaa aku benar-benar sayang padanya.
Awalnya sikap Darius sungguh manis dan sangat menyenangkan. Aku bahagia menjadi pacarnya.
Biasanya setiap pagi Darius menjemputku sekolah, dan siang dia juga selalu mengantarku pulang. Tapi sudah hampir 2 minggu ini Darius tak pernah mengajakku untuk berangkat sekolah bareng.
Tak terasa aku sudah sampai di pintu gerbang sekolah, aku memarkir motorku. Kulihat motor Darius sudah ada di parkiran. "Hmm dia udah duluan sampe di sekolah.." Bathinku.
Arman menghampiriku ketika melihatku berjalan menuju kelas.
" Hai Ris... Telat bangun yaa... Eh matanya kok bengkak sih... Hmmm kamu nangis lagi yaa semalam. Please Deh Ris, tinggalin aja tu Darius, cakep juga gak beda jauh kok ma aku. Jadi oacarku aja yaa..." Arman mensejajarkan langkahku.
"Hmm kamu omong apa sih Ar... Dah ah, bodo amat... gak usah bahas Darius, aku gak suka." Kataku agak sinis.
" Ooh siap siap Ris... Sorry... soalnya aku gak suka liat cewek tang aku sayangi mukanya gak ceria lagi. Ayoo aemangat...."
" Yo ayo semangat..." Kataku sambil tertawà dan menyenggol perut Arman.
__ADS_1
" Nah gitu dong... Semangat ....."
Namun saat aku akan masuk ke kelas, kulihat Darius sedang bercengkrama di taman dekat kelasku. Aku langsung gak bersemangat, kesel melihatnya.
Arman merangkulku mengajakku masuk kelas.
" Hmmm udahlah Ris, gak usah dipikirin. Mana senyumnya. Semangat Ris." Arman berdiri di depanku sekarang.
Aku memaksakan senyumku. Aku berusaha menenangkan pikiranku namun aku tak bisa. Aku gak bisa konsentrasi.
Aku terbayang wajah ceria Darius yang sedang bercanda dengan teman-teman ceweknya. Aku berfikir apakah aku ini termasuk cewek yang posesif? Masak iya sih. Tapi bagaimana tidak, aku berfikir macam-macam karena sikap Darius yang berubah akhir-akhir ini.
Jam istirahat tiba. Nanik mengajakku ke kantin.
Aku hanya menghela nafas. Tiba-tiba Nanik menghalangi jalanku.
"Kita ntaran aja ke kantinnya yaa... Kita ke koperasi aja dulu yuk. Aku mau beli penggaris." Ajak Nanik.
Aku yang merasa aneh langsung aja menuju kantin, dan kulihat Darius sedang bersama Dinda, minum rs jeruk.
Hmmm.... Aku menarik nafas panjang.
" Sudahlah Nan... Gak apa-apa, yuk kita ke kantin aja dulu. Ntar selesai dari kantin kita ke koperasi." Kataku.
__ADS_1
Nanik mengikutiku dari belakang. Aku langsung mengambil beberapa potong kue dan memesan es dawet.
Kemudian aku mencari tempat duduk yabg kosong, namun semua terisi. Saat aku dan Nanik berdiri mencari tempat duduk yang kosong, berdirilah seorang cow9k mempersilahkan kami duduk di tempatnya.
" Duduklah di sini, aku dah selesai."
Aku tersenyum. " Makasi. Tapi kamu ntar duduk di mana?"
" Santai.... Duduklah." Katanya sopan.
Aku dan Nanik akhirnya duduk.
" Ris, cowok tu cakep banget yaa... Baik pula...Hmmm...." Kata Nanik menyenggolku.
Aku hajya mengangguk. Pandanganku masih melihat Darius yang sedang asyik ngobrol dengan Dinda.
" Udah... Kamu gak usah liatin dia terus. bikin sakit hati, ntar mood mu ilang lho. Dah..."
Aku kesao melihat Darius. Masak dari kemarin dia gak balas pesanku, trus sekarang aku liat dia lagi sama Dinda. Hmmm....
Aku mendengar banyak kabar burung katanya sekarang ini Darius sering bersama Dinda. Aku gak tahu sebatas apa hubungannya. Tapi jujur aku cemburu.
Beberapa saat kemudian, Darius berdiri. Darius melihatku namun sedikitpun tak ada senyum di bibirnya.
__ADS_1
Aku ingin menangis. Kenapa sikapnya seperti itu. Aku bencoba meneguk es dawetku yang terasa hambar.