
Keesokqn harinya Ria drop lagi. Mamah yang sedang duduk menemaninya jadi panik dan berteriak.
Mamah baru sekitar 5 menitan datang dan menyuruh Darius dan Anton untuk istirahat dulu. Namun Darius dan Anton yang baru saja tidur terperanjat sontak langsung bangun dari tidurnya mendengar teriakan mamah.
Mereka bertiga panik. Darius bangun langsung menggenggam tangan Ria, sedang mamah Ria menangis.
Anton bergegas memanggil Suster jaga. Tak lama 2 Suster jaga datang masuk ke kamar Ria. Mereka langsung memeriksa keadaan Ria. mama duduk di sofa menangis dirangkul Anton.
Sementara Darius yang masih menggenggam tangan Ria, berbisik di telinga Ria.
" Ri.... semangatlah, aku nungguin kamu di sini."
Darius kemudian keluar kamar, memberikan ruang untuk suster-suster yang datang.
Darius duduk di kursi, tangannya gemetar. Rasa panik dan takut menyelimuti dirinya. Biar bagaimanapun Ria audah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Tak berapa lama datanglah dokter dan seorang suster yang segera masuk ke kamar Ria. Mama dan Anton keluar kamar dan mamapun duduk di sebelah Darius.
Anton menelpon papahnya agar segera ke rumah sakit karena keadaan Ria kritis.
Papah posisinya belum jauh dari rumah sakit karena tadi papah Ria yang mengantar mamah ke rumah sakit.
Papah langsung putar arah balik ke rumah sakit.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, papah langsung memeluk mamah agar tenang.
Dokter dan 2 orang suster masih di dalam kamar rawat Ria sementara satu suster keluar dan balik lagi membawa beberapa carian infus dan obat.
Sekitar 15 menit, barulah dokter didampingi seorang suster keluar dari kamar Ria.
Mamah dan papah langsung menghampirnya
" Gimana keadaan anak sy Dokter? " tanya Papah.
Dokter tersenyum, " Anak bapak sudah baik kembali kondisinya Ini saya kasi obat jadi biarkan Ria istirahat dulu yaa Pak.. Bu... doakan saja Ria yaa." Pak Dakter mengangguk ke mamah.
Mamah yang masih menangis, mengangguk...' Terima jasi pak Dokter."
" Sekarang sayabg balik dulu yaa Pak, Bu... " Dokter mohon diri dan setelah mamah dan papah mengangguk Dokterpun berlalu.
Mamah masuk ke kamar ditemani papah. Mamah menatap sedih wajah Ria. Mamah berdoa dalam hati..." Yaa Tuhanku, selamatkanlah anakku, berikan kesembuhan untuknya Tuhanku."
Papah tampak sedih dan prihatin dengan keadaan Ria, tak sadar air mata papah menetes. Papah menangis, namun papah segera menghapusnya. Papah tak ingin membuat mamah sedih lagi.
" Sudahlah mah... jangan nangis lagi, kita doakan smoga Ria segera melewati masa kritisnya dan sehat kembali mah.. Yaa... "
Mama mengangguk, papah menghapus air mata mama. Kemudian papah mengajak mamah duduk di sofa.
__ADS_1
Suara alat-alat medis bersahut-sahutan memenuhi ruangan seolah ingin menghibur. Ria yang tampak lemah dipasangi bermacam-macam alat di tubuhnya.
" Ma... Papah keluar sebentar yaa, papah mau ngomong sama Darius dan Anton."
Mamah mengangguk.
Papah keluar dan mengajak Darius dan Anton ke kursi yang ada di taman.
"Anton, tolong belikan papah kopi di kantin. Belikan juga teh hangat untuk mamah. Kamu ngopi juga Dar?"
Darius mengangguk. " Tapi nanti aja Om.. nanti biar sy ke kantin aja. "
" Gak papa temanin Om ngopi. Belikan juga Darius kopi."
Anton pergi menuju kantin.
Papa Ria duduk menatap Darius sedang Darius yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah.
" Nak Darius...Om mau ngomongkan sesuatu. Tolong kamu dengarkan baik-baik yaa..."
" Iya Om.."
" Om mau tanya ma nak Darius. Bagaimana perasaan nak Darius ke Ria?"
__ADS_1
Darius menghela nafas...