Jangan Menangis

Jangan Menangis
Darius memberikan jawabannya


__ADS_3

Hari ini Ria sudah diijinkan oulang oleh dokter. Mamah Ria dan Anton beberes semua barang-barang yang ada di kamar inap Ria.


Ria duduk di sofa sambil mengotak atik handphonenya.


Tak berapa lama Darius datang dna ikut membantu Anton.


Sopir yang menjemput langsung membantu membawa barang2 dan merapikannya dalam mobil. Sementara Ria di dorong memakai kursi roda oleh Darius.


Sampai di mobil, Ria minta Darius untuk ikut pulang pakai satu mobil. Anton yang mengendari motor Darius.


Sampai di rumah Ria dibantu Darius turun dan kembali duduk di kursi rodanya.


Awalnya Ria tak ingin memakai kursi roda, namun mamah mengingatkan pesan dokter kalau Ria tak boleh capek dulu. Akhirnya Ria menuruti apa yang dikatakan mamahnya.


" Dar... Hari ini kamu ada kuliah lagi?" Tanya Ria setelah sampai di ruang tamu.


" Gak ada Ri... Semester ini aku ambil mata kuliah hanya beberapa SKS aja, aku fokus di skripsiku." Jawab Darius


" Kamu enak yaa.. Bentar lagi kamu lulus, nah aku... Aku bajuak ketinggalan mata kuliah. Hmmm..."


" Udah... Semangat... Memang ini keadaannya, yaa harus kamu jalanin Ri. Dah mulai sekarang kamu harus belajar untuk tidak mengeluh dengan keadaanmu. Ok... Terima semuanya dengan sabar dan senang hati. Kamu harus belajar ko trol emosimu... Yaah..."


Ria menatap Darius, tersenyum.

__ADS_1


" Makasi yaa Dar.... Betapa beruntungnya Marisa mendapatkan laki-laki seperti kamu. " Ria menunduk.


" Hmmm.... Mulai... Udah jangan gitu dong.... Mana senyumnya. " Darius tersenyum menatap Ria. Riapun tersenyum.


Anton yang melihat pemandangan itu merasa teriris hatinya dan sedih. Anton tahu bagaimana perasaan Ria pada Darius.


Anton menghela nafas.


Saat Darius akan pamit pulang, Anton memanggilnya. Darius menghela nafas, sudha merasa tak nyaman. Darius khawatir kalau Anton akan membahas soal permintaannya agar iaau menikahi Ria.


" Ada apa Kak..." Tanya Darius.


" Kita duduk sebentar, ada yang aku mau bicarakan." Kata Anton.


Darius pun duduk di kursi taman dan mencoba mengontrol perasaannya.


Darius tak langsung menjawab, menghela nafas perlahan.


" Kak... Maafkan..Aku tak bisa memenuhi permintaan Kak Anton dan Papah. Aku sudah memikirkannya baik-baik, Ria sudah tahu perasaanku padanya. Dan Ria juga sudah sangat mengerti aku, aku menyayangi Ria, sangat sayang ... Tapi aku sayang selayaknya kakak ke adiknya."


Anton tampak kecewa mendengar jawaban Darius. Anton mengangguk l, kemudian mbakar sebatang rokoknya.


" Maafkan aku Kak... Aku harap kakak bisa mengerti dan memaklumi jawabanku.""

__ADS_1


Anton bangkit dari duduknya kemudian menepuk pundak Darius.


" Aku mengerti perasaanmu Dar... Aku liat juga ketulusanmu sayangi adikku.. Yaah... Aku tak bisa memaksamu.." Anton tersenyum.


Darius kemudian berdiri, Anton menjabat tangan Darius.


" Makasi yaa sudah sayang ma Ria... Apapun rasa sayangmu, aku sangat berterima kasih. "


Darius lega, akhirnya ia bisa memberikan jawaban terbaiknya. Darius kemudian pamit karena ada janji dengan dosen pembimbingnya.


Sampai di kampus, Darius menelpon Marisa dulu. Sekitar 15 menit telponan,Darius melihat dosen pembimbingnya sudah datang berjalan menuju ruangannya.


Dariuspun mengakhiri telpon kemudian bergegas menuju ruangan dosennya untuk konsultasi.


Konsultasi tak lama karena dosennya menganggap skripsi Darius sudah bagus jadi dosennya menyetujui Darius untuk seminar hasil.


Darius sangat senang, karena selangkah demi selangkah semua urusannya bisa ia selesaikan.


Darius kemudian mengirim pesan ke Marisa kalau skripsiny gak banyak yang dirombak, dan seminggu lagi ia sudah bisa seminar.


Marisa sangat senang mendengarnya, Marisa memberi selamat dan menyemangati Darius.


Di akhir telponan, Darius mengalihkan ke panggilan video karena Darius ingin sekali melihat Marisa. Tampak kerinduan yang amat sangat di mata kedua sejoli ini.

__ADS_1


" Ris... Aku pingin peluk kamu... Aku rindu kamu..."


Marisa menunduk malu.


__ADS_2