Jangan Menangis

Jangan Menangis
Ria belum fit benar


__ADS_3

Keadaan Ria belum stabil. Sehari keadaannya baik besoknya drop lagi. Kedua orang tua Ria dan kakanya juga kepikiran dengan keadaan Ria.


Menurut Dokter kondisi Ria belum stabil disebabkan karena ada beban pikiran.


" Sayang... Kamu kenapa ... apa yang kamu pikirkan.. Mamah ma papa kemarin tanya dokter katanya keadaan Adek belum atabil karena ada yang adek pikirkan." Mamah mengusap rambut Ria.


Ria menggeleng lemah. " Adek gak pikirin apa-apa kok mah. Mungkin memang belum stabil aja.


Mamah Ria tampak sedih.


Pintu kamar rawat Ria diketuk. Ternyata Darius yang datang.


" Masuklah nak Darius..."


" Mat sore tante .." Darius menyapa Mama Ria.


"Sore nak..."


" Nak Darius bisa tolong temani Ria sebentar yaa,tante mau ke kantin sebentar."


" Baik tante."


Darius duduk di kursi depan kasur Ria. Ria tampak pucat dan badannya semakin kurus. Ini hari ke 5 Ria dirawat di rumah sakit.


Dokter belum mengijinkan Ria pulang, karena keadaan Ria yang belum stabil.


Darius menatap wajah layu Ria. Ria menatap Darius dengan sendu. Ria tersenyum, ada air mata yang hendak jatuh menetes.


Darius menghapus air mata Ria.


" Kamu kenapa Ri? "

__ADS_1


Ria menggeleng malah menangis.


" Jangan nangis Ri... Kamu harus tenang gak boleh sedih. Ada apa Ri?"


Darius merasa iba dengan keadaan Ria.


" Dar... Maafin aku Dar.. Aku merepotkan mu. Kamu gak pa-pa kok gak ke sini setiap hari. Aku dah baikan kok Dar."


" Udah... jangan nangis Ri. Aku ke sini setiap hari karena aku ingin melihatmu sehat kembali. Ayo semangat dan pikiranmu harus tenang. Jangan pikir yang macem-macem iar cepet sehat. Kan kita bisa berangkat kuliah bareng."


Ria memgangguk.


" Dar...Marisa tahu kamu setiap hari ke sini?"


Darius mengangguk. " Marisa tahu, bahkan Marisa yang slalu ngingetin aku untuk jenguk kamu. Oh iyaa aku lupa, tadi waktu aku telponan, Marisa titip salam."


" Kamu laki-laki baik Dar, dan Marisa juga perempuan yang baik. Kalian sangat cocok dan serasi."


Ria kemudian memejamkan matanya perlahan untuk istirahat.


Mama Ria balik dari kantin bersama kakak Ria, kak Anton. Mata mama Ria tampak sembab.


Mama menatap wajah sayu Ria putri kesayangannya.


" Maa... Mama istirahat aja dah pulang. Biar kakak ma Darius yang jagain Ria. Besok mama ke sini lagi." Kata Anton.


" Tapi mamah pingin tetep di sisi adikmu."


"Mamah... Ayolah ma..." Anton mendesak mamanya untuk pulang.


Setelah dibujuk Anton akhirnya mamah Ria mau disuruh pulang

__ADS_1


Mamapun pulang. Ria tidurnya myeyak sekali.


Sekitar jam 8 malam Ria bangun. Darius menyuapi bubur ayam. Namun baru 3 suap, Ria sudah nenyerah. Darius tak memaksanya.


Darius dan mas Anton menghibur Ria dan menyemangatinya.


Sekitar jam 10 malam, Ria istirahat kembali. Karena Ria sudah tidur, Darius ijin ke luar sebentar.


Darius menuju taman dekat kamar Ria. Darius duduk di kursi taman. Darius menelpon Marisa.


Tiga kali panggilan namun Marisa tak ada respon. " Mungkin Marisa ketiduran " Pikir Darius.


Darius kemudian menghidupkan sebatang rokoknya dan menghisapnya. Sekitarb10 menit berlalu, handphone Darius berdering, panggilan dari Marisa


Darius langsung menerimanya.


" Halo...Dar... sorry yaa... Aku tadi lagi menyapu lantai jadi gak tahu kalau kamu nelpon."


" Wah rajin sekali sayangku... Kupikir kamu tadi dah tidur sayang..."


" Belum lah...Kamu lagi di rumah sakit yaa Dar?"


" Iyaa Ris..Aku nungguin Ria, aku sama mas Anton kakak Ria."


" Ooh iyaa Dar... Gimana keadaan Ria?


" Masih belum ada perubahan Ris. Sebentar fit sebentar drop lagi. Jadi dokter gak ngijinin Ria pulang."


"Oowh kasian sekali yaa... Smoga Ria cepet sembuh yaa... aamiin..."


" Aaamiin..."

__ADS_1


Marisa sejak tahu Ria sakit parah, gak pernah ada rasa cemburu lagi. Bahkan Marisa merasa kasihan sekali dengan Ria.


__ADS_2