Jangan Menangis

Jangan Menangis
Papa menyemangati Marisa


__ADS_3

Hari berlalu...


Perpisahan sekolah tiba. Darius akhirnya kuliah di luar daerah sedangkan Marisa tetap kuliah di sini. Marisa merasa sedih karena harus berpisah dengan pujaan hatinya.


Ada waktu 1 jam lagi, Darius akan berangkat ke Bandung. Darius juga sebenarnya berat harus berp8sah, namun karena keinginan Papanya membuatnya harus tetap pergi.


" Ris... Aku akan jaga hatiku... Kamu juga yaa... Jaga hatimu untukku. Nanti setiap ada kesemoatan pulang, aku akan pulang." Kata Darius duduk di kursi ruang tunggu di Bandara.


Orang tua Darius tidak bisa ikut mengantar kaeena ada kesibukan. Jadi Darius diantar oleh pak Sopir.


" Iyaa Dar... Aku sayang ma kamu, kamu serius nih jangan macem-macem di sana. Jangan terlalu perhatian ke cewek yaaa..." Marisa memeluk lengan Darius.


"Iyaa sayang... aku janji."


" Dar... kamu tetep telpon aku yaa nanti klo dah di Bandung."


"Iyaq sayang...siap..."


Tak terasa waktu pemeberangkatan tinggap 15 menit lagi.


" Udah dulu yaa Ris, aku dah dipanggil tu.. Udah yaa... " Darius mengusap air mata Marisa.


Marisa mengangguk.


" Pak, nanti tolong anter Marisa pulang yaa... Jangan ngebut yaa Pak." Kata Darius pada pak Sopirnya.


" Siap Den."


Darius kemudian memeluk Marisa dan mencium keningnya.


" I love you... Nanti kalaubaku dah sampe Bandung aku telpon yaa..."


Marisa hajya mengangguk kemudian mencium tangan Darius.

__ADS_1


Dariuspun berlalu masuk.


Setelah Darius tak terlihat, Marisa mengajak pak Sopir pulang.


Di perjalanan, Marisa masih terbawa perasaan sedih Sepanjang perjalanan pulang, Marisa diam sambil memandang foto profil Darius.


Pak sopir tersenyum melihat Marisa dari kaca mobil.


Darius mengirimi Marisa foto dirinya yang akan siap-siap take Off pesawatnya.


" Selamat sampai tujuan sayangku..." Pesan Marisa.


Darius hanya mengirimkan emoticon love.


Sekitar 20 menit Marisa sudah sampai di rumahnya.


" Makasi yaa Pak, sudah anterin Marisa. Bapak mampir dulu kah?"


Marisa mengangguk dan tersenyum " Hati-hati yaa Pak "


Marisa langsung masuk dan menuju kamar. Marisa tiduran dan tak bersemangat. Ada perasaan sepi karena tak akan bertemu dangan pujaan hati dalam waktu yang panjang.


Marisa sampai tertidur karena lelahnya.


Mama membangunkan Marisa saat hari sufah hampir menjelang malam.


" Nak... ayo bangun, makan malam dulu sayang..." Kata Mama.


Marisa menggeliat dan tersenyum memandang wajah mama.


" Sekarang kita makna dulu yaa sayang..."


" Iya Ma... Marisa mandi dulu yaa Ma, biar seger. " Marisa langsung memgambil handphone nya dan melihat apakah ada pesan masuk dari Darius.

__ADS_1


Ternyata taj ada pesan masuk. Hmmm.....


Marisa menghela nafas panjang karena kecewa.


Marisa memutuskan mandi dulu biar badan lebih segar dan bersemangat.


Selesai mandi, Marisa menuju suang makan dan ternyata papa dan mama sudah ada di meja makan.


" Sini duduk nak...." Kata mama.


" Baik ma... Marisa mengambil tempat duduk dan bersiap untuk makan.


Pikiran Marisa masih ke Darius, kenapa Darius tak mengabarinya.


" Sudah sayang... Ayo makan dulu, ntar keburu dingin jadi gak enak kan." Kata Papa.


" Iya Pa... Maafin Marisa Pa....ayo kita mulai makan Pa...."


Papa hanya mengangguk kemudian melanjutkan aktivitas makannya.


Selesai makan Papa menganjak Marisa ngobrol-ngobrol di ruang tengah.


" Marisa, Papa bersyukur kamu sudah diterima kuliah di perguruan tinggi negri di sini. Maafin Papa ma mama yaa..., Kata Papa memulai pembicaraan.


"Kenapa Papa monta maaf? Marisa seneng kok diterima kuliah di pergutuan tinggi X ini Pa. "


" Iyaa papa tahu itu... syukurlah kalau kamu senang. Tetap semangat yaa sayang... Soal cowokmu itu, jangan terlalu dipikirkan yaa... Kalau kamu berjodoh pasti akan ketemu."


Aku tersipu malu mendengar kata-kata Papa.


" Iyaa Pa..."


.

__ADS_1


__ADS_2