Jangan Menangis

Jangan Menangis
Darius menceritakan keadaan Ria


__ADS_3

Debur ombak bersahut-sahutan. Terdengar suara ombak yang silih berganti menghantam pantai dengan keras.


Darius mengajak Marisa ke Pantai favoritnya. Selalu ke pantai ini.


"Dar... Aku heran kenapa yaa kamu tu suka sekali ke pantai ini. Hmmm... " Marisa menatap Darius.


" Aku suka pantai ini Ris. Banyak kenangan denganmu. Oh iyaa tahu gak, kamu satu-satunya cewek yang kuajak ke sini. Dan cuma kamu cewekku, kekasihku. " Tatapan mata mereka bertemu.


" Hmmm.... Bener nih... gak ngegombal kan?"


" Gak Ris....Kamu harus percaya. Denger aku Ris... Aku percaya ma kamu, dan aku ingin kamu juga percaya ma aku. Kita harus saling percaya."


Marisa mengangguk. Darius mengecup kening Marisa dengan lembut lalu memeluk Marisa.


Darius dan Marisa menikmati keindahan pantai sambil menunggu sunset. Mereka bercerita tentang kuliah dan teman-teman kampusnya.


Saat mereka asyik bercerita, handphone Darius berdering. Namun Darius mengabaikannya.


" Kok gak diangkat?"


" Biarin aja... Aku tak ingin diganggu."


Namun karena telponnya terus berdering akhirnya Darius melihat siapa sih yang menelponnya. Ternyata Ria... Hmmmm .... Darius bergumam.


Marisa sekilas melihat nama kontak yang memanggil. Marisa menyuruh Darius untuk menerima telpon Ria namun Darius tetao tak mau.

__ADS_1


Ria mngirim pesan. " Tolong angkat telponku Dar... Aku lagi sakit...Please..."


Marisa yang melihat pesan Ria sudah merasa gak nyaman.


" Angkatlah telponnya, dia lagi butuh kamu."


Dariuspun menerima telpon Ria.


"Ada apa Ria... Aku lagi di pantai nih..."


" Kamu kapan pulang Dar... Aku sakit. Aku...butuh kamu."


Marisa merasa tak nyaman mendengar kata-kata Ria. Darius sengaja menspeaker suara handphone nya.


" Aku lama di sini Ria... Aku sedang bersama kekasihku. " Kata Darius kesal.


Darius mengiyakan kemudian mematikan handphone nya.


Darius melihat Marisa yang sudah tampak gak mood jadi serba salah.


Marisa bangun dari duduknya dan berjalan di pinggir pantai. Darius mengikuti Marisa berjalan di sampingnya.


Marisa diam saja, tak tahu perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya.


" Ris... Dengar penjelasanku. Aku tak ada menutupi apa-apa darimu. Aku sudah bilang ke Marisa kalau aku sudah punya kekasih, dan aku juga bilang kekasihku itu kamu. Tapi...." Darius tak melanjutkan kata-katanya dan Dairus duduk sambil menjambak rambutnya.

__ADS_1


Marisa tak melanjutkan langkahnya.


" Tapi apa? Kamu memberinya harapan Dar. Itu yang buat dia slalubingin dekat ma kamu.,"


Darius menggeleng. " Bukan itu masalahmya Ris...."


Marisa duduk di sebelah Darius. " Ada apa Dar?"


Darius menghela nafas panjang.


" Ris... Ria itu sakit Ris. Ria mengidap penyakit jantung sejak kecil. Jadi aku dekat dengan Ria saat-saat ini karena permintaan orang tua Ria. Dia tak bisa sedih atau tak stabil perasaannya. Karena itu berpengaruh ke jantungnya. "


" Oowh.... Kamu serius Dar?"


Darius hanya mengangguk lemah. Perasaan serba salah menyelimuti Darius.


" Kalau begitu, baliklah ke Bandung. Kasihan Ria...Dia butuh kamu Dar... Aku gak pa-pa kok."


Darius menggeleng, " Aku masih kangen ma kamu Ris. Aku gak mau. Aku mau di sini temenin kamu dulu seminggu setelah itu baru aku balik."


" Kamu balik besok Dar."


"Ris, jangan paksa aku, aku tetap tak mau."


Mariaa membujuk Darius agak mau balik ke Bandung namun Darius tetap tak mau. Marisa takut terjadi apa-apa pada Ria.

__ADS_1


Karena malam semakin larut, Darius mengajak Marisa pulang.


Di perjalanan pulang, Marisa dan Darius diam. Bahkan saat sampai di rumah Marisa pun Darius dan Marisa tak banyak bicara.


__ADS_2