Jangan Menangis

Jangan Menangis
Akhirnya aku menangis


__ADS_3

Udara siang ini teraaa sangat terik. Aku cepat pulang sekolah, karena pak guru ada kegiatan jadi kami hanya diberi tugas saja.


Sejak pertemuanku dengan Darius tadi di kantin, aku tak mengirimkan pesan apapun ke Darius. Aku kesal.


" Hai Ris... Aku boleh nebeng gak? Aku gak bawa motor." Kata Nanik yang masih ngos-ngosan mengejarku.


"Iyaa, ntar aku ambil motor dulu di parkiran. kamu tinggu di sini aja dah." Kataku.


Di parkiran, aku melihat Darius sedang ngobrol dengan Dinda. Hmmm Dinda lagi Dinda lagi...Sebelllllll!!! Gumamku.


Aku tak tahu apakah Darius melihat keberadaan ku atau tidak di parkiran. Aku langsung menuju motorku.


Aku kesulitan mengeluarkan motorku karena posisinya terjepit, ada motor lain yang menghadang juga. Aku berusaha namun aku kewalahan.


Aku melihat sekelilingku untuk melihat siapa kira-kira yang bisa membantuku. Tak sengaja mataku bertemu dengan mata Darius. Aku langsung memalingkan muka.


Darius memghampiriku.


"Sini kubantu. Kamu turun aja dulu dari motormu."


Aku menoleh ke belakang, ternyata suara itu datang dari cowok yang tadi memberikan tempat duduknya di kantin.

__ADS_1


Aku mengangguk dan turun dari motorku. Darius berdiri di sampingku tanpa berkata sepatah katapun padaku.


Cowok yang aku tak tahu namanya itu berusaha mengeluarkan motorku, sebelumnya dia memindahkan motor yang tadi menghadang.


Sementara Darius menggeser motor yang di sebealh motorku.


Akhirnya motorku berhasil dikeluarkan.


" Makasi yaah..." Kataku pada cowok tu dan tersenyum. Dia mengangguk, " Sama-sama."


Kemudian dia berlalu.


Aku melihat Darius, " Makasi." Aku langsung menunduk.


"Darius..." Darius menoleh dan menatapku tajam.


"Maafin aku kalau ada yang gak kamu suka dariku. "


" Kamu tu ...Hmmmm... "


" Kamu kenapa? Jelasin ke aku, kenapa kamu bersikap seperti ini. Pesanku cuma kamu baca tapi gak kamu balas. Ada apa sebenarnya?"

__ADS_1


" Ris... Kamu tetap aja gak ngerti. Pura-pura gak tahu lagi. Itu yang aku gak suka ma kamu!!!" Darius tampak geram.


" Maafin aku, aku bener-bener gak tahu. Tolong jelasin. " Kataku, air mataku akan keluar namun kutahan.


" Udah nanti aku ke rumahmu. Aku mau antar Dinda dulu." Darius pergi meninggalkan aku.


Aku lemas. Sebegitu berartinya Dinda sampai dia lebih memilih mengantarnya pulang daripada menjelaskan padaku.


Air mataku jatuh juga akhirnya. Aku menghidupkan motorku. Kulihat Darius membonceng Dinda. Aku merasa sangat kecewa.


Nanik berteduh di bawah pohon. Aku menghampirinya. Dan saat Nanik melihatku, dia langsung berlari mengejarku.


" Kok lama banget sih? Kenapa? Aku lihat Darius tadi keluar dari parkiran sambil membonceng Dinda. Hmmm aku sebel ngeliatnya Ris, pingin aku tonjok." Kata Nanik geram sambil naik ke motor.


Aku menjalankan motorku pelan. Aku ingin menangis dan berteriak sekeras-kerasnya. Namun aku menahannya.


Aku dan Nanik akhirnya diam sepanjang perjalanan. Saat sampai di rumah Nanik, Nanik mengajakku untuk mampir sebentar namun aku menolaknya karena aku ingin cepat-cepat sampai rumah.


"Lain kali aja yaa Nan... Maaf aku gak isa mampir. Kepalaku agak pening, aku ingin pulang dan tidur."


Nanuk mengangguk.

__ADS_1


Aku melanjutkan perjalananku pulang. Di sepanjang jalan pikiranku kacau berkelana je mana-mana. Aku berfikir kesalahan apa yang sudah kulakukan sampai Darius berubah sikapnya.


Aku berharap Darius segera ke rumah menemuiku dan membahas masalah apa sebenarnya ynag sedang terjadi. Aku tak ingin ini berlarut-larut karena membuat mood ku rusak seharian.


__ADS_2