Jannah Sang Bidadari

Jannah Sang Bidadari
Aku Berdagang Manusia


__ADS_3

Tak lama setelah kejadian keributan di Rumah Mentri. Hari ini Aku sangat kebingungan, bahkan Aku hampir putus asa. Sudah dua hari dapur tidak mengepul asap karena tidak ada lagi barang yang bisa Aku jual. Satu-satunya jalan yang bisa dia ambil adalah Perdagangan Manusia. Human Trafficking atau Perdagangan Manusia merupakan sebuah isu global yang ironisnya bukan hanya tentang perdagangan domestik; manusia bahkan sudah menjadi produk eksport dan import pasar gelap. Para pelaku perbudakan modern ini mengontrol korbannya melalui penipuan untuk dijual sebagai tenaga kerja paksa, pemuas seks dan penebus hutang. Para korbannya berkerja tanpa digaji bahkan segala surat identitas mereka dirampas untuk menghindari pelacakan polisi.


Jalan satu-satunya yang bisa dilakukan Aku adalah Berdagangan Manusia.



Akhirnya Aku memutuskan sesuatu yang tidak biasa, Aku akan tetap Berdagang Manusia untuk dijadikan tenaga kerja paksa oleh si pembeli manusia. Bukan menjual temannya melainkan Pamanku Presiden E.


Menurut Aku, hanya Pamanku Presiden E yang pantas untuk dijual. Bukankah selama ini Pamanku Presiden E selalu mempermainkan diriku dan menyengsarakan pikiranku? Maka sudah sepantasnya bagiku untuk menyusahkan Pamanku Presiden E.



Aku mencari cara agar bisa Memperdagangkan Pamanku Presiden E. Aku pun mendapat ide dan menemui Presiden E.



.."Ada sesuatu yang amat menarik yang akan Aku sampaikan hanya kepada Pamanku Presiden E."


"Apa itu Keponakanku Ali?" tanya Pamanku Presiden E langsung tertarik.



"Sesuatu yang Aku yakin belum pernah terlintas di dalam hati Pamanku Presiden E," bicaraku meyakinkan.



"Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya," bicara Pamanku Presiden E tanpa rasa curiga sedikit pun.



"Tetapi Pamanku Presiden E …,"bicaraku sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.



"Tetapi apa?" tanya Pamanku Presiden E tidak sabar.



"Bila Pamanku Presiden E tidak menyamar sebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu." Bicaraku.


__ADS_1


Karena memiliki keinginan besar dan rasa penasaran yang begitu besar, Pamanku Presiden E bersedia menyamar menjadi rakyat biasa. Melihat penyamaran Pamanku Presiden E berhasil, Aku dan Pamanku Presiden E berangkat menuju ke sebuah hutan.



Setiba di sana, Aku mengajak Pamanku Presiden E mendekati sebuah pohon besar dan rindang, Aku pun meminta Pamanku Presiden E untuk menunggu. Sementara itu, Aku pergi menemui seorang yang pekerjaannya menjual Berdagang Manusia. Aku mengajak pedagang Manusia itu untuk melihat Manusianya atau Pamanku Presiden E yang akan kujual kepadanya dari jarak yang agak jauh.



Aku tidak ingan menemui Pamanku Presiden E dan merasa tidak tega. Sementara itu, Aku beralasan calon Manusia yang akan dijualku adalah Musuhku sendiri. Setelah pedagang manusia itu memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Aku pun membuatkan surat kuasa yang menyatakan bahwa pedagang manusia sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu. Aku pun pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang manusia itu.



Pamanku Presiden E masih menunggu Aku di bawah pohon rindang tersebut, sampai tibalah pedagang manusia itu menghampiri diri Pamanku Presiden E. Pamanku Presiden E merasa heran, mengapa Aku tidak juga muncul dan mengapa ada orang lain selain diriku.



"Siapa kamu?" tanya Pamanku Presiden E kepada pedagang manusia.



"Aku adalah tuanmu sekarang," kata pedagang manuaia itu agak kasar.




"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Pamanku Presiden E dengan marah.


"Ali telah menjual kamu kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya," kata pedagang manusia dengan marah.



"Keponakanku Ali menjual diriku kepadamu?" Bicara Pamanku Presiden E sangat marah.



"Ya!" bentak pedagang manusia



"Tahukah kamu iapa aku ini sebenarnya?" tanya Pamanku Presiden E.

__ADS_1



"Tidak dan itu tidak perlu," kata pedagang manusia seenaknya. Lalu pedagang manusia menyeret manusia yang baru dibeli ke belakang rumah. Pamanku Presiden E diberi kapak dan diperintahkan untuk membelah kayu.


Pamanku Presiden E merasa heran dengan semua yang diperintahkan. Pamanku Presiden E melihat begitu banyak tumpukan kayu di belakang rumah pedagang manusia itu, sehingga memandang pedagang manusia itu saja, Pamanku Presiden E merasa ngeri, apalagi harus mengerjakannya.



"Ayo kerjakan!"bicara pedagang manusia.



Meski Aku merasa kebingungan dengan itu semua, Pamanku Presiden E mencoba untuk melakukan perintah dari tuan barunya. Pamanku Presiden E secara perlahan memegang kayu dan mencoba membelahnya, namun pedagang manusia melihat cara Pamanku Presiden E memegang kapak merasa aneh.



"Kamu ini bagaimana, kapak yang tumpul kamu potong ke kayu, sungguh bodoh sekali!"



Pamanku Presiden E mencoba memng asah kapak hingga tajam lalu motong ke kayu. Pamanku Presiden E mencoba memotong namun tetap saja pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi pedang manusia.



"Oh, beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja keras lebih dahulu. " .bicara Pamanku Presiden E



Pedagang manusia menatap Pamanku Presiden E dengan pandangan heran dan lama-lama menjadi marah. la merasa rugi barusan membeli manusia yang bodoh.



"Hai pedagang manusia!! Cukup semua ini aku tak tahan."



"Kurang ajar kamu cuman tenaga kerjaku harus patuh kepadaku!" Bicara pegang manusia itu sembari memukul Pamanku Preside E. Tentu saja Pamanku Presiden E yang tak pernah diperlakukan kasar itu menjerit keras saat dipukul kayu.



"Hai pedagang manusia! Aku adalah Presiden kamu " bicara Pamanku Presiden E. Sambil menunjukkan tanda kepresidenan.

__ADS_1



Pedagang manusia itu kaget dan mulai mengenal Presiden E pun langsung menjatuhkan diri sembari maaf kepada Pamanku Presiden E. Pamanku Presiden E mengampuni pedagang manusia itu karena ia memang tidak tahu. Tetapi kepada Keponakkanku Ali,, Aku sangat marah dan Ingin rasanya Aku meremas-remas tubuh Keponakanku Ali seperti Squishy...


__ADS_2