Jannah Sang Bidadari

Jannah Sang Bidadari
Pamanku H dan Syairku part 3 Rindu Kalian


__ADS_3



Banjir darah dan air mataku kamu anggap suatu kemerdekaan


Tak peduli seberapa keras aku mencari jalan penyelesaian


Setibanya disana kamu menyambut dengan tawa penghinaan


Sesal selalu berakhir demikian.



Tak berapa lama sahabatku melakukan pengakuan , sahabatku pun meninggalkan dunia untuk selamanya dan dikuburkan dekat dengan kubur tanteku. Aku mempunyai paman bernama H yaitu Adek dari pamanku Z.



Pamanku H mempunyai dua orang putra dan Istrinya. Pertama bernama I yang kedua bernama J. I ternyata sangat bodoh dan pemalas. Sedang J terkenal rajin dan pintar dalam bidang ilmu sastra. Pamanku H sangat menyukai J karena kecerdasannya tersebut. Ini tentu membuat istrinya tidak suka, lantaran suami pilih kasih. Padahal keduanya sama-sama putranya. "Suamiku kenapa Kamu tidak begitu menyayangi I?" tanya istrinya K.


"Karena anakmu I tidak bisa membuat syair dan tidak kenal dengan ilmu sastra," jawab Pamanku H.



"Suamiku, sebenarnya kalau mau I akan lebih menguasai ilmu sastra daripada saudaranya J. Sebenamya I lebih cerdas. I hanya malas saja," bicara istri K mencoba membela anaknya Itu..



"Apa buktinya?."bicara suami H.



"Baik, tidak lama lagi kamu akan melihat buktinya." Pada suatu pagi istrinya K memanggil putranya I.



"Aku baru saja berdebat dengan ayahmu mengenai dirimu," bicara sang ibunya K kepada putranya I .


"Aku tidak rela kamu dipandangnya sebelah mata dan dibanding-bandingkan dengan kakakmu J Karena itu kamu harus bisa menandinginya. Mulai sekarang kamu harus tekun mempelajari ilmu sastra, supaya menjadi seorang penyair yang hebat." ibunya K menambahkan pada putranya Itu.



Siangnya I pergi meninggalkan Rumah menuju ke sebuah tempat yang sepi. Di tempat itulah anaknya I itu mencoba mengasah pikirannya yang bebal. Anaknya Itu berusaha menulis bait-bait syair tanpa seorang guru atau tanpa bimbingan siapapun. Beberapa minggu kemudian setelah merasa mampu rnenguasai ilmu sastra dan menulis bait-bait syair, anaknya Itu pulang ke Rumah.



"Jadi kamu sekarang sudah bisa menulis syair, putraku I?" tanya ibunya K ketika menyambut kedatangan putranya I itu tersebut dengan gernbira.



"Sudah," jawab anaknya I



"Kalau begitu biar besok aku panggil pamanmu Z untuk menguji karya syairmu."bicara Ibunya K.


Esoknya pagi-pagi sekali Pamanku Z dan Aku sudah muncul dirumah pamanku H untuk memenuhi undangan tanteku K .



"Adik ipar ku Z coba kamu dengarkan karya syair putraku I ini," bicara Adek iparnya K dengan bangga.



"Baik, silahkan,bicara pamanku Z.


I lalu mernbacakan beberapa bait syair sebagai berikut



"Kami adalah diam di Surga Ma'wa. Kami duduk di atas kursi"


Pamanku Z hampir tidak sanggup menahan tawanya mendengar syair tersebut.



"Bagaimana?" tanya keponakannya I kepada pamanku Z.



"Ya, begitulah. Kalian memang dari daerah yang mulia," jawab pamanku Z ngeledek.



"Tapi coba teruskan."bicaraku.



"Kami berperang Dengan pedang dan tombak pendek."



"Syair macam apa itu bicara Pamanku Z yang sudah tidak mau berbasa-basi lagi. Keponakannya I Itu marah sekali mendengar hinaan Pamanku Z tersebut, Keponakannya I lalu menyuruh seorang pengawal untuk menangkap dan memasukkan Pamanku Z ke dalam penjara.

__ADS_1



Selama beberapa hari Pamanku z tidak pernah muncul di rumah pamanku H mehingga pamanku H. Merasa rindu. Belakangan Pamanku H mendengar kabar dariku bahwa Adeknya Z dimasukkan penjara oleh putranya I.


Pamanku H kemudian mengajak aku berserta putranya I itu ke penjara untuk menjenguk pamanku Z.



"Kenapa kamu memenjarakan Pamanmu Z?" tanya sang ayahnya kepada putranya I. Anaknya Itu kemudian menceritakan semuanya.



"Yang sangat menyakitkan Pamanku Z telah berani menghina syair karyaku, ayahku,"bicara putranya I.



"Tentu saja karena memang karya syairmu jelek.bicara ayahnya H.



Pamanku itu kan memang seorang penyair dan alim. Jadi bisa menilai mana karya syair yang bagus dan yang tidak bagus. Lagi pula apa yang pamanku Z bicarakan itu jangan kamu anggap sebagai hinaan, melainkan sebuah nasehat yang harus kamu terima dengan lapang dada," bicara ayahnya H menasihati.



"Baik.bicara anaknya I kepada ayahnya H.



Kalau begitu beri lagi aku kesempatan waktu untuk memperbaiki karya syairku, bicara putranya I sambil beranjak pergi, anak I menambahkan bicara.



Untuk kedua kalinya putranya I pergi ke tempat yang sepi guna mengasah pikiran dan mendalami ilmu sastra agar bisa menulis syair yang benar-benar bagus, tidak seperti sebelumnya, Dan beberapa minggu kemudian putranya I sudah pulang ke rumah.



Esoknya pada siang hari pamanku H, pamanku Z,aku, dan beberapa penyair sudah berada dirumah pamanku H. Rupanya pertemuan itu sudah diatur oleh istrinya pamanku H, dia ingin mereka mendengarkan karya syair putranya I yang baru saja pulang mendalami ilmu sastra.



"Dengarkan karya syair putraku I ,"bicara pamanku H.



"Baik, silahkan,jawab pamanku Z . Keponakannya I pun mulai membaca karya syairnya,



Rasanya tidak ada yang setolol kamu


Kamu seperti hidangan


Yang diolesi dengan minyak biji sawit dan minyak kelapa kental.


Seperti warna seekor kucing belang.



Begitu selesai mendengar syair tersebut Pamanku Z langsung bangkit dan hendak berlalu dari tempatnya.



"Kemana kamu, Adekku Z?" tanya kakaknya H atau pamanku H.


"


Aku lebih suka balik ke penjara saja, daripada mendengar syair macam ini. , sebentar lagi putramu I ini pasti akan menyuruh pengawal membawaku ke sana," jawab Pamanku Z .


Sebelum itu biarakan Keponakanku Ali untuk bersyair beberapa bait bicara Pamanku Z. Tambahkan pamanku Z.



Raja tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban dari Pamanku Z itu dan silahkan untuk bersyair kepada Keponakanku A bicara pamanku H.



Aku pun bersyair



syair mempunyai hak cipta dan dilindungi.



Rindu Kalian



Karya:IR. A. Jannah



Disini selalu ada cerita

__ADS_1


Aku dan keluargaku di antaranya


Yang menyisa pada sepenggal senja


Tersebab tak ingin malam cepat menyapa



Hari silih berganti hari


Tahun pun telah kita lalui


Selalu terpatri kokoh didalam hati


Rasa kerinduan hati ini



Pejamlah, lihat yang lesat dari mataku


Mengukur waktu kian berdebu


Yang berlahan menyelusuri malam yang syahdu


Dan kuberharap kalian merasakan rinduku



Rintik hujan seolah menjadi pertanda


Cerminan hatiku yang sedang merana


Akan hadir kalian yang jauh disana


Tak peduli seberapa jauh kalian berada



Kalian laksana cahaya Matahari


Sinarnya akan selalu menerangi hari


Satu yang ingin kuyakini


Cinta kalian selalu menemani



Sesekali pinjamlah rinduku


Sesekali kalian harus tahu,


Doa tempat penyampaian rinduku


mengantarkan doa-doa heningku



Disisi lain, Tanteku K duduk bengong. Kini Tanteku k sadar dan yakin bahwa putranya I memang bodoh dalam bersyair.



Mendengar syairku maka pamanku H memberikan aku hadiah dan serta uang.


Aku dengan senang dan bahagia menerima hadiah dan uang yang diberikan oleh pamanku H.



Tak lama azan ashar berkumandang dan maka Pamanku H menyuruh adeknya Z untuk jadi Imam shalat ashar, Pamanku Z menyuruh aku yang jadi Imam, aku jadi gugup kerena biasanya aku jadi Imam di sekolah misal di MI milik pamanku saja dan di sekolah Mts kalau ini gugup kerena banyak yang lebih pantas dipikiran ku.. Aku mau menolak tapi


Pamanku Z berbicara berbisik kalau mau Jadi Imam dapat hadiah dariku?..



Aku berbicara baiklah aku mau tapi paman jadi Muazin nya,bicaraku. Tak lama kemudian paman jadi Muazin sedangkan aku jadi Imam. Selesai shalat ashar aku di berikan hadiah oleh Pamanku Z.



Pamanku H bertanya: sejak kapan Keponakanku A bisa jadi imam?



aku berbicara: sejak TK di ajarin jadi Imam di kelas dan MI sudah jadi imam di musholla Mi dilatih oleh Paman Z dan sampai sekarang bisa jadi Imam ..



Pamanku Z berbicara menambahkan: Bahkan Keponakanku Ali bisa jadi khotbah Jumat, pernah mengantikan jadwal ku kerena bagus orang jadi suka bila khutbah Keponakanku Ali yang khutbah Jum'at.



Pamanku H: Merasa bangga sejak kecil Keponakanku A sudah bisa jadi Imam dan aku sebagai pamannya merasa bersyukur.


__ADS_1


__ADS_2