Jannah Sang Bidadari

Jannah Sang Bidadari
Pertemuan dengan Jannah 4 januari Dikira Bersama Pacar Jannah Sekalinya Paman Jannah


__ADS_3

“astagfirullah” bicaraku dengan meneteskan airmata.



syair hak cipta dan dilindungi




Kesedihanku



Karya: IR. A. Jannah



Bulan pelit cahayanya untuk dinikmati sendiri


Bumi semakin beku dalam sepi


Seakan kesedihan antri untuk mengisi hari


Sekilas senyuman Jannah pencegah erosi hati 



Bagai angin malam yg berhembus kencang


Yang menggema pada dinding-dinding


Kesedihanku itu datang tanpa ku undang


Ku ingin cintaku sekuat karang



Seakan menyentuh hingga menusuk kalbu


Yang membuat hati menjadi bisu


Hati Jannah yang selalu membeku


Kepada aku yang selalu menunggu



Saat kulihat senyum bidadariku


Sembunyikan romansa dengan bidadariku


Ku pegang bunga ternyata berduri


Saat ku rasakan ujian ilahi



Biarlah ku tanggung semua beban dan derita


Asal tku lihat senyuman bidadariku disana


Tanpa kabar ataupun sapa


buat selintas sepi dalam dada



sementara kita asyik bermain duri


kitapun dapat membunuh diri


Aku lemas dalam fikiranku sendiri


mencari solusi sedang hati memakan diri




Aku kembali mengingat rasa sakitnya di masa aku tidak ingin hatiku kembali terluka, dan aku tidak ingin cinta Jannah merusak iman dan ketakwaanku.



“kenapa lo Ali?” bicara Jannah,, dengan ramah dan senyuman .


“gua gak papa kok Jannah. bicaraku dengan tersenyum menyembunyikan perasaanku..



Lagi-lagi aku harus berbohong untuk menyembunyikan perasaanku, aku tidak berani untuk bicara dengan orang lain mengenai hatiku, dalam sujud aku selalu berserah diri, bercerita dan bersimpuh meminta petunjuk ilahi akan rasaku dan tanpa sadar airmata itu selalu keluar saat aku menyebut nama Jannah dalam doaku.



Tidak banyak yang dipinta aku hanya minta agar tidak jatuh di hati yang salah dan agar cinta ini tidak merusak iman dan takwaku.


__ADS_1


“dek” bicaraku, Jannah dengan tersenyum di depan mushola.



“iya kak, duluan ya kak” jawab Jannah.


Dengan cepat aku berjalan meninggalkan Jannah lagi-lagi jantung terasa seperti bedug lebaran rasa senang yang bercampur takut akan luka dan pedihnya cinta.



“mau nomer siapa Ali? Nomor togel ya” ujar teman lain E.



“sembarangan aja bukanlah, aku cuma mau mastiin kalo wa dan we chatnya aktif” jawabku dengan nada pelan.



“wa siapa yang aktif” bicara Temanku E, dengan rasa penasaran.



Namun aku selalu menyembunyikan semuanya dengan rapi tanpa memberitahu siapapun tentang perasaanku, malam harinya Aku kembali terbangun dari tidurku dan selalu melaksanakan shalat malam, namun setelah shalat aku selalu bermimpi yang sama setiap malam, mimpi yang menurutku begitu aneh tetapi mau tidak mau aku harus menyampaikan mimpi itu kepada Jannah.



“mimpi apa ini ya allah, kenapa harus bermimpi ini? Apakah yang harus aku sampaikan kepada Jannah, hamba tidak ingin Jannah tahu tentang perasaan hamba”bicaraku di atas ranjang saat pagi hari dengan air mata yang perlahan menetes.



Aku menyeka air mata itu dan bangun untuk shalat subuh dan bersiap untuk sekolah. Di lokal setelah pulang aku menyempatkan diri untuk menemui Jannah dengan perasaan yang amat sangat membuatku merasa panas dingin, aku memberanikan diri untuk bicara.



1 pertanyaan berhasil terjawab, sama siapa kamu semalam? dan siapa orang itu? bicaraku.



jannah bicara: Aku semalam sama seorang lelaki dan lelaki itu adalah adek dari pamanku Z yaitu Pamanku Y oleh jannah . namun 2 pertanyaan dalam mimpi itu belum terjawab.


Aku merasa sedikit lega namun aku kaget ketika Jannah mampu menjawab pertanyaan itu, bagaimana bisa Jannah menjawabnya sedangkan itu hanya pertanyaan untuk test kejujuran.



“kak nanti lagi ya soalnya udah dekat ashar mau pulang” bicara Jannah yang membereskan tempat duduknya.



“iya dek enggak papa nanti besok jangan dilupain ya, aku masih ada 2 pertanyaan lagi soalnya” jawabku dengan nada sedikit kecewa



“ya allah apa aku harus jatuh cinta dengan nya? Sedangkan Jannah tidak mencintaiku” Aku memikirkan sambil berjalan menuju parkiran kendaraan untuk kembali ke asramaku




Hari berganti hari semakin lama perasaan itu semakin tumbuh, aku selalu bertemu dengan Jannah ketika shalat bahkan saat aku berdoa di tengah shalatku, aku merasa ada seorang gadis yang diam-diam memperhatikan doaku, namun aku tidak tahu siapa gadis itu, yang aku tahu gadis itu memakai seragam ciri khas mts ku.



Ada sedikit kejanggalan yang aku alami meskipun sekarang aku telah memiliki contact Jannah dan Jannah memiliki contacts wa ku , dan saling chat walau hanya sesaat namun tidak merubah keadaan aku dan Jannah saat di sekolah.



Aku yang terlihat cuek ketika bertemu dengan Jannah dan seperti tidak ada perasaan apa-apa dibalas dengan sifat cuek Jannah saat bertemu aku.



Kadang sorot mata aku dan jannah seperti ingin menegur namun saling malu dan kalah dengan rasa pura-pura tidak perduli.



Jannah berada di depanku namun saat Jannah menoleh ke arahku aku seolah membuang pandanganku, begitu juga dengan Jannah yang membuang pandangan ketika aku menoleh kehadapannya. Aku dan Jannah seperti terlihat munafik namun itulah cara untuk menjaga hati agar tidak jatuh terlalu dalam dan tidak timbul fitnah saat berpandangan.



Sesekali aku ingin sekali memberanikan diri untuk menegur Jananh namun rasa itu kalah dengan rasa takut dan malunya, malu kepada Allah karna memandang sesuatu yang belum halal bagiku.



Sampai ketika tiba saatnya aku merasakan dada sesak dan hancur ketika melihatnya bersama dengan lelaki lain yang dibonceng jannah pulang. E yang mulai mengetahui bahwa aku menyukai Jannah mencoba menghibur dan menenangkanku.



Aku meluapkan semua rasa sedihku kepada Allah dalam doaku dan syairku di dalam syairku.....



Kesedihanku



Karya: IR. A. Jannah


__ADS_1


Bulan pelit cahayanya untuk dinikmati sendiri


Bumi semakin beku dalam sepi


Seakan kesedihan antri untuk mengisi hari


Sekilas senyuman Jannah pencegah erosi hati 



Bagai angin malam yg berhembus kencang


Yang menggema pada dinding-dinding


Kesedihanku itu datang tanpa ku undang


Ku ingin cintaku sekuat karang



Seakan menyentuh hingga menusuk kalbu


Yang membuat hati menjadi bisu


Hati Jannah yang selalu membeku


Kepada aku yang selalu menunggu



Saat kulihat senyum bidadariku


Sembunyikan romansa dengan bidadariku


Ku pegang bunga ternyata berduri


Saat ku rasakan ujian ilahi



Biarlah ku tanggung semua beban dan derita


Asal ku lihat senyuman bidadariku disana


Tanpa kabar ataupun sapa


buat selintas sepi dalam dada



sementara kita asyik bermain duri


kitapun dapat membunuh diri


Aku lemas dalam fikiranku sendiri


mencari solusi sedang hati memakan diri



.



Aku merasa cintaku mulai tumbuh semakin dalam aku memohon, batinku menjerit agar perasaan itu segera hilang namun lagi-lagi harapan itu kembali muncul dan suasana sedih itu kembali bahagia saat Aku melihat Jannah tersenyum menegurku.



“semangat kak” bicara Jannah dengan berjalan melewati aku yang berdiri di depan pintu lokalku.



Seketika sapaan itu dan senyum itu kembali membuatku merasa bahagia, wajah teduh Jannah yang penuh dengan keimanan di mataku itu membuat aku kembali tersadar bahwa dialah orangnya, orang yang mampu mengobati luka di hatiku.



Kembali di jam shalat. Aku selalu berdoa dan memohon menyebut nama Jannah dalam setiap doaku, namun secara yang tanpa disengaja pula saat aku keluar dari mushola Jannah berada di depan mushola tengah mengenakan sepatu hitam putih miliknya, lagi-lagi aku mengalihkan pandangan berusaha agar tidak melihat Jannah, namun aku sadar Jannah memperhatikan langkah kakiku berjalan namun aku tetap diam tanpa menegur sepatah katapun kepadaku.



Selalu seperti itu yang terjadi antara aku dan Jannah jika salah satu aku dan Jannah melihat maka satu aku dan Jannah akan pura-pura tidak melihat,



Hari terus berganti kini aku mulai merasa cukup untuk memendam rasa cinta. Yaitu cinta dalam diam nya harus berakhir saat mengetahui cerita tentang cinta Jannah dikira-kira pacarnya saat diboncengnya awal aku mengira itu pacarnya, sebelum Jannah memberitahu padaku bahwa itu pamannya Yb Yang adek dari pamannya Zc. Aku sadar bahwa aku jatuh cinta kepada orang yang mencintai orang lain, pada saat melihatnya berboncengan dengan lelaki lain.



Hatiku hancur, hatiku pedih air mataku mengucur dengan deras saat bersujud di hadapan ilahi, rasa sakit yang dialamiku kini lengkap sudah. Saat itu aku berpikir untuk melupakan perasaan kepada Jannah.



“Ya muqolibal qulub tsabit qolbi alaa diinii” wahai zat yang maha membolak balikan hati teguhkan aku dalam agamamu, hilangkanlah cinta ini jika aku memang bukan untuk Jannah, namun pertahankan cinta ini jika memang Jannah orang memang jodohku”bicaraku yang merintih dalam doaku.



Namun ternyata allah menjawab doaku Allah berkehendak lain Allah tidak menghilangkan rasa suka itu, bahkan allah memberiku penawar untuk tidak merasa sakit, Aku kembali dekat dengan Jannah mengobrol berdua dan sekedar bercerita bersama itu pun kumpul bersama teman.

__ADS_1



Allah mendekatkan kembali aku dan Jannah dari MI sampai kuliah walau beda dan bahkan berpisah oleh jarak. Mengobati luka itu kembali.. Aku dan Jannah sama-sama berdoa semoga dapat berjodoh dan selalu dibahagiakan bersama Jannah, dari MI sampai sekarang tak ada kata pacaran untuk kami berdua bila berjodoh, pacarannya setelah menikah .. Walaupun kuliah berbeda Kami tak pernah sekalipun niat terbersit untuk ketemuan kerena malu sama Allah..


__ADS_2