
Disisi lain, Tanteku K duduk bengong. Kini Tanteku k sadar dan yakin bahwa putranya I memang bodoh dalam bersyair.
Mendengar syairku maka pamanku H memberikan aku hadiah dan serta uang.
Aku dengan senang dan bahagia menerima hadiah dan uang yang diberikan oleh pamanku H.
Tak lama azan ashar berkumandang dan maka Pamanku H menyuruh adeknya Z untuk jadi Imam shalat ashar, Pamanku Z menyuruh aku yang jadi Imam, aku jadi gugup kerena biasanya aku jadi Imam di sekolah misal di MI milik pamanku saja dan di sekolah Mts kalau ini gugup kerena banyak yang lebih pantas dipikiran ku.. Aku mau menolak tapi
Pamanku Z berbicara berbisik kalau mau Jadi Imam dapat hadiah dariku?..
Aku berbicara baiklah aku mau tapi paman jadi Muazin nya,bicaraku. Tak lama kemudian paman jadi Muazin sedangkan aku jadi Imam. Selesai shalat ashar aku di berikan hadiah oleh Pamanku Z.
Pamanku H bertanya: sejak kapan Keponakanku A bisa jadi imam?
aku berbicara: sejak TK di ajarin jadi Imam di kelas dan MI sudah jadi imam di musholla Mi dilatih oleh Paman Z dan sampai sekarang bisa jadi Imam ..
Pamanku Z berbicara menambahkan: Bahkan Keponakanku Ali bisa jadi khotbah Jumat, pernah mengantikan jadwal ku kerena bagus orang jadi suka bila khutbah Keponakanku Ali yang khutbah Jum'at.
Pamanku H: Merasa bangga sejak kecil Keponakanku A sudah bisa jadi Imam dan aku sebagai pamannya merasa bersyukur.
Aku diberikan kendaraan motor oleh Pamanku H. dan aku disarankan untuk menginap dirumahnya . aku pun setuju menginap, akan tetapi Pamanku Z tak mau menginap dan pulang kerumah mengendarai Mobil miliknya.
Pada esok hari Supupu J mengajak aku sepupunya untuk memetik jagungnya di kebun. Mereka membawa karung untuk tempat jagung yang mereka petik. Baru beberapa biji jagung yang dipetiknya, aku telah malas untuk melanjutkannya. Aku mengantuk. Aku pun lantas tidur di dalam karung.
Ketika azan Dhuhur terdengar, Sepupu J menyelesaikan pekerjaannya. Sepupuku J sangat keheranan karena tidak mendapati Aku sepupunya bersamanya. “Dasar pemalas!” bicara sepupuku J. “ Sepupu A tentu telah pulang duluan karena malas membawa karung berisi jagung yang berat!”
Sepupuku J terpaksa menggotong karung berisi Aku itu kembali ke rumah. Betapa terperanjatnya Sepupuku J saat mengetahui isi karung yang dipanggulnya itu bukan jagung, melainkan Sepupunya A!
“Karung ini bukan untuk manusia tapi untuk jagung!” bicara sepupu J setelah mengetahui Aku lah yang dipanggulnya hingga tiba di rumah.
Keesokan harinya Sepupuku I mengajak Sepupunya itu untuk ke kebun lagi guna memetik Apel. sepupuku I masih jengkel dengan kejadian kemarin . Maka sepupuku I ngin membalas dendam Kakanya J padaku. Ketika Aku sedang memetik Apel, dengan diam-diam sepupuku I masuk ke dalam karung dan tidur. Sepupuku I ingin Aku memanggulnya pulang seperti yang diperbuatku kemarin terhadap kakanya J.
Adzan Dhuhur terdengar dari musholla di kejauhan. Aku menghentikan pekerjaan memetik Apel. Dilihatku Sepupuku I tidak bersamaku. Ketika aku melihat ke dalam karung, aku melihat Sepupuku I itu tengah tertidur. Tanpa banyak bicara, Aku pun lantas mengikat karung itu dan menyeretnya.
Terkejutlah sepupuku I, dirinya diseret olehku. Sepupuku I pun berteriak-teriak dari dalam karung, “Sepupuku A! ini Aku Sepupumu I bicaranya. Jangan kamu seret, Sepupumu seperti ini!”
Namun, aku tetap saja menyeret karung berisi sepupu I itu hingga tiba di rumah. Bicaraku sambil menyeret, “Karung ini untuk tempat apel, bukan untuk manusia.”
Karena kejadian itu sepupuku J dan I sangat marah kepadaku. Sepupuku J dan I, mendiamkan Aku. Tidak mau mengajakku berbicara dan bahkan memalingkan wajah jika Aku menyapa mereka atau mengajak mereka bicara. Sepupuku J dan I terlihat sangat benci dengan aku sepupunya, yang malas lagi banyak alasan itu.
Aku menyadari kebencian sepupuku J dan I itu kepadaku. Bagaimanapun juga aku merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. Aku lantas mencari cara agar Sepupuku J dan I tidak lagi membenci diriku. Ditemukanku cara itu. Aku pun bertanya pada pembantu tentang nama asli sepupuku J dan I.
“Mengetahui nama asli Sepupumu J dan I pantangan Sepupunya J dan I!” bicara pembantu L. memperingatkan.
“Bukankah kamu sudah tahu masalah ini?”bicara pembantu L menambahkan.
Aku berusaha membujuk. Disebutkannya jika aku hendak mendoakan sepupuku J dan I itu agar panjang umur, selalu sehat, murah rejeki, dan jauh dari segala mara bahaya.
“Jika aku tidak mengetahui nama Sepupuku J dan I, bagaimana nanti jika doaku tidak tertuju kepada sepupuku J dan I bahkan malah tertuju kepada orang lain?”bicaraku.
Pembantu L akhirnya bersedia memberitahu jika aku I berjanji untuk tidak menyebarkan rahasia itu, bicara pembantu L.
“Nama sepupuku J dan I yang asli itu , Sepupu J nama aslinya Muhammad J dan Sepupumu I adalah Muhammad I. Ingat, jangan sekali-kali kamu sebutkan nama sepupu J dan I itu kepada siapa pun!”bicara pembantu L.
__ADS_1
Setelah mengetahui nama asli Sepupumu J dan I, aku lantas mencari madu , Diambilku pula tepung dalam jumlah yang banyak. Aku menuju kolam tempat sepupuku J dan I biasa mandi. Aku lantas membasahi seluruh tubuhku dengan madu dan menaburkan tepung disekujur tubuhku. Aku kemudian memanjat pohon dan duduk di dahan pohon sambil menunggu kedatangan Sepupuku J dan I yang akan mandi.
Ketika Sepupuku J dan I sedang asyik mandi, Aku lantas bicara dengan suara yang dibuatku terdengar lebih berat, “Muhammad J dan Muhammad I”
Sepupu J dan I sangat terkejut mendengar namanya dipanggil. Seketika Sepupuku J dan I menatap arah sumber suara pemanggilnya, semakin terkejutlah sepupu J dan I ketika melihat ada makhluk putih yang sangat menyeramkan pada pandangannya. “Si siapa kamu itu?” tanya sepupuku J dan I terbata-bata.
“Muhammad J Dan Muhammad I, aku ini Kakek penunggu kolam ini.”bicaraku. “Aku peringatkan kepada kalian Muhammad J dan Muhammad I, hendaklah kalian menyayangi Sepupumu A karena ia cucu kesayanganku.
Jangan berani-berani kalian menyia-nyiakannya. Urus dia baik-baik. Urus sandang dan pangan Sepupumu A. Jika kalian tidak melakukan pesanku ini, niscaya kalian tidak akan selamat!”
Sepupuku J dan I sangat takut mendengar bicara kakek penunggu kolam, Sepupuku J dan I berjanji untuk melaksanakan pesan ‘Kakek penunggu kolam’ itu.
Sejak saat itu Sepupuku J dan I tidak lagi membenciku .Disayanginya aku itu. Dicukupinya kebutuhan sandang dan panganku.. Bahkan, diberikannya pula sebuah vila meski kecil, untuk tempat tinggal tersebut bila ingin berlibur ke pinggir gunung M.
Setelah mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari Sepupuku J dan I, aku juga sadar akan sikap burukku selama itu. Aku pun mengubah sikap dan perilakuku. Aku tidak lagi malas-malasan bila aku membatu sepupuku J dan I. Sepupuku J dan I tetap menyangka Aku sebagai cucu ‘Kakek penunggu kolam’. Sepupuku J dan I sangat takut untuk memusuhi atau menyia-nyiakan Aku karena takut tidak akan selamat dalam hidupnya seperti yang telah dipesankan ‘Kakek penunggu kolam.
Setelah aku bermalam di rumah pamanku H aku pun kembali ke sekolah Mts. Tak di sangka
Di ujung jalanku..
Posisi yang tak lain adalah posisiku saat ini. ketika aku mencintai dalam diam seorang gadis bernama Jannah.
Mata ini bisa terbuka, bisa melihat, dan memperhatikan setiap detail wajah yang lalu-lalang di depan mata, hingga mata ini tertuju pada sesosok yang ku kagumi itu.
Kuhembuskan nafas panjang di awal hari ini, untuk menghilangkan ribuan rasa cemasku mengenai suatu hal. Perlahan mulai kukendarai sepeda motorku pemberian Pamanku H atas bangga kerena dari kecil aku bisa jadi Imam.
Hari ini dan seterusnya, aku harus lebih fokus dan konsentrasi lagi, agar angan yang kusiapkan jauh-jauh hari itu tak hanya menjadi khayalanku belaka. Namun, menjadi hal yang nyata. Maka dari itu, aku selalu menasihati diriku sendiri untuk bersemangat dan bersungguh-sungguh karna dengan begitu dua orang yang amat ku cintai itu dapat ku banggakan.
Belajar menjadi rutinitasku yang semakin ku intentsifkan. Hal yang kuanggap penting dalam perwujudan kesungguhanku, yang kurangkum dalam agenda harianku.
Pukul 03:30 dini hari,
setelah selsai melaksanakan agendaku, terbersit dalam benakku untuk mengunjungi account twitterku. Sedari tadi ku tatapi layar laptop ku lekat-lekat, menafsirkan beberapa patah kata dari Jannah yang tersemat di Timelineku. Bunyinya
Aku mencintai dalam diam.
2 menit yang lalu.
Rasanya jantungku berdetak tak keruan, lidahku terlalu kelu, mataku serasa tak percaya sesosok yang kukagumi itu seakan menuliskan sesuatu yang ditujukan padaku.
Yaa..
Aku terlalu percaya diri jika hal itu ditujukan padaku, wajahku berubah, kini hatiku merasa sedih.
__ADS_1
Ya..
Jannah
“Sesosok yang kukagumi.”
Wanita yang lucu, yang sering menyapaku dengan sebutan “AKHI juga bisa Kaka untukku.
dan terlalu sulit untuk sekedar menemukan Jannah, dan menanyakan kabar Jannah yang kini kurindukan.
“jannah.
Mencintaimu akan selalu kulakukan. Meski kau tak tau dan diriku akan segera menanggal. Namun, aku percaya Allah akan memberi jalan yang sangat baik.”
Syair memiliki hak cipta dan dilindungi
cinta dalam diam
Karya:IR. A. Jannah
kamulah sosok sederhana
Memberikan cinta tiada duanya
Bahwa daun yang jatuh pun terkesima
Membuatku tidak bisa kuucap dengan kata
Kutuliskan syair cinta dalam diam
Aku hanya mengagumimu dalam diam
Bahwa aku menyimpan cinta yang dalam
Hanya di hati bersemayam.
Tapi izinkan diriku tak mengganggu hatimu
Tak merusak kekhusu’an ibadahmu
Tak mengusik kebahagiaan munajatmu
Aku meyapa namamu dalam tiap untaian doaku
Catatan di daeryku, hal yang sulit diketahui Jannah dan beginilah cara menyampaikan rasaku pada Jannah.
Hari ini mentari sudah tampak lagi.
“upacara bendera hari senin.” 2 bulan Febuari.
Hari yang amat ku sukai, dimana disinilah sedikir rinduku dapat terobati, yang kupendam sendiri. Secarik rasa yang tersemat di hati, tanpa harus Jannah pahami.
__ADS_1
Hariku akan semakin cepat. Aku bahagia masih dapat menemukan hal semacam ini dalam hidupku. Hari seterusnya akan ada banyak hal yang menyulitkan, yang membuatku semakin sulit memedamkannya.