
Puisi memiliki hak cipta dan dilindungi.
Puisi
Pembunuh Jannah
Karya:IR. A. Jannah
Setelah sampai di pesantren,
Di pesantren ini aku menuntut ilmu,
Pulpen yang ku bawa bersama setumpuk buku,
Menjadi saksi bisu.
Berawal pelajaran di pesantren,
Aku tak tahu arah tujuan
Bagai hidup tak berpedoman
Seperti hidup dilanda kebodohan,
Pelajaran membunuh.
Sesampai dirumah,
Kutebarkan segala pesona rasaku,
Bersiap untuk membunuh.
Bunuh dengan hasrat dan benci.
Ku mencoba beberapa kali,
Membunuh,
Dan membunuh.
Memubunuh, selalu gagal.
Setelah pelajaran paham dipesantren,
Tentang arti hidup yang sebenarnya,
Ketika ilmu tak kupunya,
Membunuh dengan senilah jalannya.
Bukan dengan pisau,
Bersenjatakan syair-syairku..
__ADS_1
Lama hanya diam, akhirnya aku memaksakan diriku untuk bertanya pada Cendekiawan An..
“permisi, Cendekiawan An” Kataku pelan.
Cendekiawan An mendongak menatapku. “ada apa?”
“ Cendekiawan And ngeliat Diary warna nggak?”bicaraku.
Kulihat Cendekiawan An mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian matanya melebar. “oh, diary? Kemarin dibawa Jannah. Aku titip ke dia, soalnya Aku takut lupa kalo ditaruh di sini.”bicara Cendekiawan An.
Suara Cendekiawan An hanya terdengar samar di kepalaku. Sejak saat Cendekiawan An menyebut nama Jannah, tubuhku langsung lemas. Kebetulan yang sangat tak kuduga. Aku menulis semua tentang Jannah di sana. Dan diaryku jatuh pada orang yang tepat.
“Astaqfirullahl!”bicaraku pelan, supaya tak kedengaran Cendikiawan An.
Buru-buru kupasang sepatuku lalu aku kembali berlari menuju kelas. Aku telah mempersiapkan alasan karena telat masuk kelas. Begitu tiba di depan pintu kelas. aku tak percaya melihatnya. Ustad K memegang sebuah buku kecil berwarna hitam di tangan. Mendadak tenggoronganku terasa kering. Dan aku tercekat di sana. Tak bisa melakukan apa-apa. Bernapas pun aku tak kuasa.
“Biar nanti Ustad berikan ke Ali.”bicara Ustad K.
Aku hanya mendengar Ustad K berujar pelan. Aku kembali menarik napas. Aku yakin, pasti Jannah yang menyerahkan buku itu pada Ustad K Atau Jannah telah membaca diarynya?
Tap-tap-tap! Bunyi langkah kakiku dan Aku berlari.
Aku spontan mendongak begitu mendengar suara sepatu Ustad K yang berpadu dengan lantai.
“lho? Ali Ngapain di sini?”bicara Ustad K. melihatku di depan pintu.
Aku menunduk dalam-dalam.
“maaf, Ustad Saya terlambat tadi saya sakit perut,”bicaraku.
__ADS_1
Ustad K tersenyum. “nggak pa-pa, ya udah masuk. Hari ini Ustad nggak bisa ngajar. Kamu belajar sendiri ya. Oh iya, ini buku diarymu kan?”bicara ustad K.
Tanganku gemetar saat mengambil diary kecilku itu. Aku segera masuk ke kelas. Tak berani melirik Jannah di belakang. Saat bel istirahat pun aku tak melirik perempuan itu. dan aku tak peduli dia telah membaca bukuku atau tidak. Dan aku tak peduli, apa pandangannya terhadapku.
Kumelirik Jannah yang melangkah keluar. buru-buru ku kejar Perempuan itu.
“Jannah” panggilku. Aku merasa suaraku terlalu keras untuk memanggil seorang Jannah.
Jannah langsung menghentikan langkahnya. Aku semakin gugup dan jantungku melompat-lompat tak karuan. Ingin mengajakku agar cepat berlari.
Kulihat Jannah bingung menatapku.
Sementara aku hanya diam. Menarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri kerena gugup juga perasaan yang tak karuan.
“aku… aku nggak bermaksud nulis kayak gitu kok di diaryku. Jadi kamu nggak usah GR, Jannah”bicaraku.
“maksud Kamu, apa Ali?”bicara Jannah.
Aku terpaku. Seketika aku sadar. Ternyata Jannah tak membaca diaryku. Aku terdiam lalu kupaksakan bibirku untuk tersenyum. walaupun aku malu setengah mati.
“e… nggak… asal ngomong kok. hehe…”bicaraku.
Setelah berdoa diriku, berkali-kali aku langsung memutar tubuh dan melangkah pergi untuk kembali ke kelas.
“Ali,”bicara Jannah.
Seketika kuhentikan langkahku. Aku kembali memutar tubuhku untuk menghadap Jannah yang berada sekitar dua meter di depanku. Jantungku kembali tak tenang.
“Aku cuma mau bilang, setiap orang punya hak.”bicara jannah.
Setelah bicara begitu, Jannah tersenyum lalu melangkah pergi.
Aku terpana melihat Jannah. Hanya diam tak mengerti maksud dari bicara, Jannah. Namun entah mengapa ada kelegaan yang merasuki tubuhku seketika.
__ADS_1
Nantikan Pembunuh Part selanjutnya