
Penghukuman Pamanku Presiden E, terhadapku ditunda kerena Aku dipindahkan dari Surga Ma'wa ke Surga Daun.
Puisi memiliki hak cipta dan dilindungi.
Puisi:
Pembunuh Jannah
Karya:IR. A. Jannah
Setelah sampai di pesantren,
Di pesantren ini aku menuntut ilmu,
Pulpen yang ku bawa bersama setumpuk buku,
Menjadi saksi bisu.
Berawal pelajaran di pesantren,
Aku tak tahu arah tujuan
Bagai hidup tak berpedoman
Seperti hidup dilanda kebodohan,
Pelajaran membunuh.
Sesampai dirumah,
Kutebarkan segala pesona rasaku,
Bersiap untuk membunuh.
Bunuh dengan hasrat dan benci.
Ku mencoba beberapa kali,
Membunuh,
Dan membunuh.
Memubunuh, selalu gagal.
__ADS_1
Setelah pelajaran paham dipesantren,
Tentang arti hidup yang sebenarnya,
Ketika ilmu tak kupunya,
membunuh dengan senilah jalannya.
Bukan dengan pisau,
Bersenjatakan syair-syairku.
Aku siswa baru di Pesantren Bidadari Na'im
Namaku Ali bisa di panggil Ali bisa juga A. Aku tinggal di Kota Surga Ma'wa. Lalu, kenapa Aku sekolah di Surga Daun? apakah pindah rumah? Tidak, aku di sana mondok di pesantren Bidadari Naim dan sambil sekolah di sana. Aku memang sangat ingin sekali mondok di sana pada hari itu Tanggal 3 Januari.
Hari ini aku harus berangkat kesana karena waktu liburan sudah akan habis, namun aku memutuskan untuk berangkat sekarang karena sudah tidak sabar..
Pada akhirnya aku sampai di sana, dan langsung menuju ke kamar tidurku, di kamarku tidak sendiri, tapi ada 5 orang temanku yaitu, F, G, H, I, dan J. Awalnya aku malu untuk berkenalan dengan mereka, dan akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan. Tidak lama Pamanku memutuskan untuk pulang ke kota Surga Daun dan meninggalkanku di pesantren Bidadari Na'im, aku merasa sedih dan terharu, tapi karena impianku ingin tinggal di pesantren Bidadari Na'im.
Keesokkan harinya, jam 4 subuh kami semua para santri bergegas untuk sholat subuh berjamaah di masjid dengan seluruh santri- santri dan pengurus yayasan pondok pesantren tersebut, setelah selesai sholat subuh berjamaah kami semua para santri mengaji bersama di pagi hari. Ya, itu kegiatan dihari pertamaku di pesantren sebelum esok hari pertama masuk sekolah.
Selesai mengaji aku dan santri lainnya pun kembali ke kamar masing masing..
F menyapaku “ehm.. Ana panggil antum siapa nih? A? Ali atau apa?”
Aku menjawab “panggil aja Ali”
“Oh iya deh ok, Ali lulusan dari mana?”
G bertanya.
Aku jawab “ana lulusan dari MI Pesantren Penuh Bidadari Surga”
__ADS_1
H memotong pembicaraan, “kamu dari Kota Surga Ma'wa? Wah jauh juga ya”
“Hehehe iya” aku menjawab sambil tertawa kecil, dan tak terasa waktu makan siang pun tiba, kami semua bergegas untuk mengambil makan siang di dapur.
Ternyata di sana sudah banyak para santri dan santriwati yang sudah pada berkumpul untuk makan bersama. Aku merasa senang, ternyata menyenangkan tinggal di pesantren… Aku suka menulis dalam diary.
Tak lama Aku tinggal di Pesantren, Aku kehilangan diary. Setelah Upacara hari senin 2 February. Aku melangkah menelusuri jalan setapak yang setiap hari kulewati. Aku menatap rumput-rumput kecil yang melambai-lambai tertiup angin. Jadi teringat pada puisi yang kutulis di diary. Kejadian ini 5 February
Ngomong-ngomong masalah diary. Aku sedikit memutar tubuh dan kulepaskan salah satu penyandang ranselku. Kucari diary-ku di sana, namun aku tak menemukan apa-apa. khawatir, kulepaskan ranselku dan kuletakkan di hadapanku, kali ini aku duduk di tengah jalan setapak menuju arah kamarku yang sepi itu. kucari diary-ku di setiap tempat. Namun lagi-lagi aku tak menemukan apa-apa.
Aku terdiam, sedikitpun tak menikmati degup jantungku yang terasa lebih cepat dari biasanya. Aku mencoba mengingat setiap kegiatan yang aku lakukan tadi di sekolah. hari ini aku memang sengaja membawa diary kecilku itu. karena aku tahu, hari ini tidak ada pelajaran. Aku ingat, seharian di sekolah aku hanya berdiam di perpus menulis diary dan membaca buku. Setelah itu ingatanku tentang diary semakin kabur. Kali ini aku yakin diary-ku tertinggal di perpus.
“Astaqpirullah!” keluhku pelan. Aku yakin malam ini, aku tidak akan mimpi indah. Allah, siapa pun yang menemukan diary-ku. Aku harap orang itu bisa menjaga rahasiaku, dalam doaku dalam shalat malam.
Aku berlari terburu-buru melewati jalan setapak. Tidak peduli dengan penampilanku yang mulai berantakan, tidak peduli dengan tubuhku yang penuh dengan keringat. Yang ada dalam otakku kali ini hanyalah nasib diary kecilku. Lama hanya diam, akhirnya aku memaksakan diriku untuk bertanya pada Cendekiawan An.
“permisi, Cendekiawan An”bicaraku pelan.
Cendekiawan An menatapku. “ada apa?”bicara cendikiawan An.
“ Cendekiawan An, melihat Diary warna hitam nggak?”bicaraku.
Kulihat Cendekiawan An mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian matanya melebar. “oh, diary? Kemarin setelah upacara selesai, dibawa Jannah. Aku titip ke dia, soalnya Aku takut lupa, kalo ditaruh di sini aku menemukan Diary itu.”bicara cendikiawan An.
Suara Cendekiawan An hanya terdengar samar di kepalaku. Sejak saat Cendekiawan An menyebut nama Jannah, tubuhku langsung lemas. Kebetulan yang sangat tak kuduga. Aku menulis semua tentang Jannah di sana. Dan diaryku jatuh pada orang yang tepat.
__ADS_1
“Astaqfirullahl!”bicaraku, dengan pelan.