
Setelah beberapa hari Aku diuji kecerdikan oleh Pamanku Zainal Abidin. Aku pun kerumah Pamanku Ilyas kerena disana di adakan Teka-teki berhadiah.
Teka-Teki Berhadiah
Pamanku Ilyas kelihatan murung. Semua anak buahnya tidak ada yang sanggup menemukan jawaban dari dua pertanyaan Pamanku Ilyas. Bahkan para guru pun merasa tidak mampu memberi penjelasan yang memuaskan pada Pamanku Ilyas. Padahal Pamanku Ilyas sendiri ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya. Mungkin karena amat penasaran, para guru menyarankan agar Aku saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu.
Tidak begitu lama Aku kehadapkan, Pamanku Ilyas. Pamanku Ilyas bahwa akhir-akhir ini sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan.
" Pamanku Ilyas, sebenarnya keinginantahuan yang manakah yang Pamanku Ilyas maksudkan?" Aku bertanya ingin tahu.
"Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku." kata Pamanku Ilyas.
"Bolehkah aku mengetahui kedua teka-teki itu Pamanku Ilyas ."
"Yang pertama, di manakah sebenarnya batasan Dunia ini?" tanya Pamanku Ilyas.
"Di dalam penglihatan, " jawabku dengan yakin,"Pamanku Ilyas," "Ketidakterbatasan itu ada karena adanya keterbatasan, Maka keterbatasan kita dalam melihat Dan keterbatasan itu ditanamkan oleh Allah di dalam otak manusia. Dari itu manusia tidak akan pernah tahu di mana batas Dunia ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas ."
Pamanku Ilyas mulai tersenyum karena merasa puas mendengar penjelasanku yang masuk akal. Kemudian Pamanku Ilyas melanjutkan teka-teki yang kedua.
__ADS_1
"Keponakanku Ali, manakah yang lebih banyak jumlahnya: Sampah di Bumi ataukah Manusia di Bumi?"
"Manusia di Bumi." jawabku dengan yakin.
"Bagaimana kamu bisa langsung memutuskan begitu.
Apakah kamu pernah menghitung jumlah mereka?" tanya Pamanku Ilyas heran.
"Pamanku Ilyas, bukankah kita semua tahu bahwa manusia itu makhluk hidup yang dapat berkembang biak. Walaupun ada yang meninggal tetap akan banyak kerena banyaknya manusia di Bumi. Sementara sampah-sampah itu tidak pernah habis, jumlah mereka juga banyak, sedang sampah benda mati"jawabku meyakinkan.
Mobil Koenigsegg CCXR Trevita Ajaib
Salah satunya Mobil Koenigsegg CCXR Trevita adalah yang bisa berjalan tanpa menggunakan etanol, bagi yang berilmu. Cukup dengan beberapa wirid yang sudah biasa dikalangan kaum muslimin.
Suatu ketika, saat ada temanku Yusuf yang ingin pergi ke pasar untuk keperluan Rumah, pinjam Mobilku Koenigsegg CCXR Trevita tersebut.
"Maaf Ali, mengendarai Mobil Koenigsegg CCXR Trevita ini bagaimana?"tanya Yusuf.
__ADS_1
"Ohhh..., begini, bacalah basmalah untuk menstarter, hamdalah untuk nge-gas dan istighfar untuk mengerem."
Tanpa pikir panjang, Temanku Yusuf langsung membawa' itu Mobil Koenigsegg CCXR Trevita milikku
"Bismillahirrahmanirrahiim" motor kemudian hidup, meskipun tanpa suara tapi ada tandanya. "Alhamdulillah", motor mulai melaju. Tikungan pertama, Temanku Yusuf yang Menyetir Mobil Koenigsegg CCXR Trevita membaca istighfar, "Astaghfirullah" menikung dengan mulus, karena perjalanan ke pasar lumayan jauh, sudah begitu jalan yg dilalui melewati sisi tebing, dengan selamat hal ini membuat Temanku Yusuf membaca Alhamdulillah .
Oleh karenanya hampir tanpa disadari Temanku Yusuf telah memacu Mobil Koenigsegg CCXR Trevita semakin kencang.
"Alhamdulillah". "Alhamdulillah". "Alhamdulillah". Mobil Koenigsegg CCXR Trevita melaju serasa melayang, tapi tanpa disadari. Di depan mereka ada tikungan tajam yang menghadap dengan jurang yang sangat dalam.
Dengan sontak Temanku Yusuf mengurangi laju Mobil Koenigsegg CCXR Trevita"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah... ". Mobil Koenigsegg CCXR Trevita berhenti beberapa centimeter dibibir jurang.
Dengan perasaan lega luar biasa, Temanku Yusuf bersyukur atas selamat kejadian yang hampir menimpa mereka. Dengan sontak Temanku Yusuf mengucapkan, "ALHAMDULILLAH..."
Mobil Koenigsegg CCXR Trevita jatuh, kedalam jurang.
"Krusaakkkkk, brugh gedebrugh brakh, Aakkhhhh........." (suara dari dasar jurang) ..
__ADS_1