Jannah Sang Bidadari

Jannah Sang Bidadari
Perdagangan Manusia Dan Kelinci


__ADS_3

Aku pulang kerumahku tetapi ditengah jalan aku bertemu pengawal Pamanku Presiden E . Mereka disuruh oleh Pamanku Presiden E untuk ditangkap oleh pengawal pamanku Presiden E dan dihadapkan kepada Pamanku Presiden E. Setelah sampai dihadapan Pamanku Presiden E.



 “Maaf, Pamanku Presiden E. Alasan Aku adalah ingin memberikan laporan yang jujur bahwa ada sesuatu yang tidak benar di masyarakat. Aku bingung mau melaporkannya. Apabila Aku bicara jujur secara jujur, takut Pamanku Presiden E tidak percaya. Biar Pamanku Presiden E sendiri yang melihat langsung perilaku rakyat yang seperti itu. Bicaraku.


Mendengar jawabanku tersebut Pamanku Presiden E tidak dapat berbicara lagi.



Setelah kejadian peristiwa Pamanku Presiden E, suatu hari seorang Temanku Ramadhan tiba-tiba punya niat jelek kepada Aku. Temanku Ramadhan tersebut iri pada perhatian Rukayah, yang dianggap berlebihan padaku. Tak ada angin dan tak ada hujan, Temanku Ramadhan tersebut tiba-tiba memberikan seekor kelinci kepadaku.



"Ajari kelinci itu membaca. Dalam satu minggu, datanglah kembali kemari, kita lihat akhirnya," bicara Temanku Ramadhan kepadaku.



Tanpa mikir panjang dan melontarkan pertanyaan, Aku menerima kelenci pemberian Temanku Ramadhan. Padahal dalam hatiku, Aku merasa cemas, apakah Aku bisa menuruti kemauan Temanku Ramadhan atau tidak. Aku juga penasaran dengan maksud dan tujuan Temanku Ramadhan yang tiba-tiba memberikan kelinci.



"Apakah ini satu di antara tipu daya Temanku Ramadhan buat menghancurkan nama baikku atau mau mendapatkan hati Ruqayah?tanya dalam hatiku.



Meski merasa cemas, Aku tetap berusaha tenang. Satu minggu kemudian, Aku kembali ke Rumah Ruqayah Anak dari Pamanku Presiden E dan bertemu dengan Temanku Ramadhan. Tanpa banyak bicara, Temanku Ramadhan kemudian mengajak Aku menghadap Pamanku Presiden E.



" Aku akan perlihatkan siapa sesungguhnya diriku ini," kata Temanku Ramadhan tersebut.

__ADS_1



"Hai menteri Ramadhan, ada apa dengan dirimu?" tanya Pamanku Presiden E itu dengan suara tinggi.



"Tenang Presiden E, hari ini Presiden E akan tahu kecerdasan akalku sesungguhnya, mengungguli kecerdasan Keponakanmu Ali," bicara menteri Ramdhan itu dengan sombong.



Mendengar pernyataan menteri Ramadhan tersebut, Aku merasa heran dan penasaran dengan maksud bicara Temanku Ramadhan.



"Apa yang akan dibuat oleh Temanku Ramadhan ini?" Bicara Aku dalam hati.



"Baiklah, bila satu di antara kalian menang, maka yang memiliki hak memperoleh satu kantung emas ini, namun untuk yang kalah akan dihukum tiga bulan di penjara,"bicara Pamanku Presiden E.




"Coba tunjukkan bila kelinci itu dapat membaca, tidakkah kamu cerdas dalam semua hal?" Temanku Ramadhan meminta padaku.



Tanpa berpikir lama, Aku lalu menggiring keliciku ke buku itu. Sampul dibuka. Kemudian kelenci memandang buku itu. Dalam beberapa saat, kelenciku mulai membalik halaman demi halaman dengan tanganya.


__ADS_1


Kelenci itu terus membalik lembar demi lembar, hingga halaman paling terakhir buku itu. Setelah tak ada lagi lembaran yang harus dibuka, kelenci tersebut memandangku.



"Demikian, kelenciku dapat membaca," kataku. Mendengar kata-kataku, Temanku Ramadhan kembali bicara.



"Bagaimana cara kamu mengajari kelinci membaca?" tanya Temanku Ramadhan mulai merasa panik.



"Sesampainya di rumah, Aku siapkan lembaran-lembaran besar serupa buku serta Aku sisipkan Wortel di dalamnya," jawabku.



"Kelenci itu harus belajar membalik halaman agar bisa memakan wortel itu, hingga kelicinya terlatih benar untuk bisa membalik halaman buku," lanjutku.



"Namun bukankah kelincinya tak tahu apa yang dibacanya?" bantah Temanku Ramadhan.



"Memang demikian cara kelenci membaca, kelinci cuma membalik-balik halaman tanpa tahu isinya," jawab Aku tenang.




Jawaban cerdik Aku tersebut mendapat anggukan setuju dari Pamanku Presiden E tahu, sepintar-pintarnya hewan, tak ada yang bisa sesempurna manusia. Hanya manusia bodoh saja yang tidak mau memakai akalnya buat berpikir.

__ADS_1



Mendengar penjelasanku, Temanku Ramadhan tersebut merasa kesal. Pamanku Presiden E, akhirnya memberikan hadiah berupa sekantung Emas kepadaku sedangkan Temanku Ramadhan masuk penjara sesuai perjanjian yang sudah disepakati..


__ADS_2