
Keramaian di pasar Bidadari tiba-tiba dihebohkan dengan bicaraku, Aku, Ali “Wahai masyarakat di pasar Bidadari, ketahuilah! Aku, Ali, adalah orang yang sangat membenci pada yang Haq (kebenaran) dan Aku adalah orang yang lebih kaya dibandingkan Pamanku Zainal Abidin”, Teriakku. Padahal Kekayaan Pamanku Zainal Abidin lebih kaya dari pada Pamanku Presiden E.
Membuat heboh seisi pasar, yang membuat orang heran kerena apa tak takut dihukum paman Zainal Abidin. Bicara masyarakat. Pamanku Zainal Abidin itu walau pamanku terkenal jahat bahkan tak segan-segan untuk membunuh juga menyiksa.
Aku ini sangat aneh karena selama ini dia dikenal sebagai orang yang alim dan bertakwa, meskipun memang suka bersikap jenaka. Aku pun ditangkap oleh anak bauh pamanku Zainal Abidin dan dihadapkan kepada Pamanku Zainal Abidin.
“Hai Ali, benarkah engkau berkata begitu?” tanya Pamanku Zainal Abidin.
“Benar Pamnku Zainal Abidin,” jawabku kalem.
“Mengapa kamu berkata begitu, sudah tak takut matikan kamu?”jawab pamanku Zainal Abidin.
“Ah, Aku kira Pamanku Zainal Abidin juga seperti Aku. Pamanku Zainal Abidin juga pasti membenci perkara yang haq” ujarku dengan serius.
“Gila benar kamu, Ali!” Pamanku Zainal Abidin berbicara,, memarahiku dan mau menyiksaku.
__ADS_1
“Jangan menyiksa aku dulu , pamanku Zainal Abidin dengarkan dulu keteranganku,” bicaraku meredakan kemarahan pamanku Zainal Abidin.
“Keterangan apa yang ingin kamu beritahukan. Sebagai seorang Paman, aku membela dan bukan membenci perkara yang haq, kamu harus tahu itu dan aku paling tidak suka orang mengakui kekayaannya lebih dari aku!” ujar Pamanku Zainal Abidin.
“Pamanku Zainal Abidin, setiap ada orang yang membacakan talqin aku selalu mendengar bahwa meninggal itu haq . Nah siapakah orangnya yang tak membenci meninggal itu? Tidakkah Pamanku Zainal Abidin juga membencinya seperti aku?” ujarku menjelaskan.
“Cerdik pula kamu ini,Ali” ujar Pamanku Zainal Abidin setelah mendengarkan penjelasanku. Mengapa kamu mengatakan lebih kaya dibanding diriku?” tanya Pamanku Zainal Abidin. Padahal presiden E, saja kaya aku,bicara Pamanku Zainal Abidin.
Itu memang benar, tetapi apa maksudmu berkata begitu di tengah pasar sehingga membuat kehebohan,” tanya Pamanku Zainal Abidin.
Cara begitu, aku akan ditangkap dan kemudian dihadapkan kepada Pamanku Zainal Abidin seperti sekarang ini,” Jawabku lemah lembut.
Apa perlunya kamu menghadapku?”tanya Pamanku Zainal Abidin.
__ADS_1
Agar bisa mendapat hadiah dari Pamanku Zainal Abidin” jawabku.
Penangkapan dan penyelidikan yang mulanya tegang, menjadi penuh gelak tawa. Tak lupa Pamanku Zainal Abidin pun menyerahkan hadiah kepadaku.
Pada keesokan harinya, Pamanku Zainal Abidin,memanggil 15 orang anak buahnya.“Kalian tahu didepan Istana ini ada sebuah kolam. Aku akan memberikan masing-masing sebutir telur Bebek kepada kalian, menyelamlah kalian ke dalam kolam itu dan kemudian serahkanlah telur-telur itu kepadaku apabila kamu muncul kepermukaan. Aku ingin tahu kecerdikan kepeonakku, Ali.”bicara Pamanku Zainal Abidin.
Pamanku Zainal Abidin menyuruh anak buahnya, memanggilku ke rumah Pamanku Zainal Abidin. Kepada keponakku Ali dan kelima belas orang anak buahnya itu Pamanku Zainal Abidin memerintahkan, “Kamu sekalian aku perintahkan turun ke dalam kolam itu, menyelam, dan apabila muncul kepermukaan serahkanlah kepadaku sebutir telur bebek. Barangsiapa tidak menyerahkan telur bebek, niscaya mendapat hukuman dariku.”bicara Pamanku Zainal Abidin.
Mencari telur Bebek didalam air? Pikiranku, sambil memandang kepada anak buah Pamanku Zainal Abidin. Mereka tampak biasa dan siap melaksanakan perintah. “Adakah bebek betina di dalam kolam itu?”pikiranku.
Hari pun malamlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, anak buah Pamanku Zainal Abidin itu menyelam kedalam kolam, dan ketika muncul dari dalam kolam, masing-masing membawa sebutir telur Bebek dan menyerahkan kepada Pamanku Zainal Abidin.
Aku tidak kunjung muncul di permukaan kolam, Aku berenang kesana-kemari mencari telur Bebek. Di korekku dinding kolam, namun tak juga ditemukannya telur Bebek. Setelah cape mengitari dasar kolam, terpikir dalam benakku bahwa dirinku diuji kecerdikan oleh Pamanku Zainal Abidin.
Maka Aku pun berdoa kepada Allah mohon keselamatan. Keluarlah Aku dari kolam dan naik ke darat. Didepan Pamanku Zainal Abidin serta anak buahnya, Aku berkuek-kuek dan berjalan laksana seekor Bebek jantan.
__ADS_1