Jannah Sang Bidadari

Jannah Sang Bidadari
Pamanku Amir dan Aku


__ADS_3

Suatu hari Pamanku Amir merasa geram dengan sikap Aku. Ya, beberapa kali Aku, sudah membuat Pamanku Amir malu di depan keluarga. Muncul rasa dendam di hati Pamanku Amir, akhirnya Pamanku Amir hendak membuat jebakan untuk Aku. Seperti biasa, jika Aku gagal maka akan mendapatkan hukuman.



Pamanku Amir pun akhrinya memanggil Aku untuk menghadap Pamanku Amir. Pamanku Amir pun lalu memberikan pertanyaan."Wahai Ali, di depan mejaku itu ada sepanggang daging Kambing lezat dan enak dilahap, tolong segera ambilkan," perintah Pamanku Amir. Aku merasa bingung dengan perintah itu, karena tak biasanya Pamanku Amir suruh mengambilkan makanan sang Pamanku Amir."Mungkin Pamanku Amir ngin menjebak Aku, Aku waspada," kata Aku dalam hati.



Aku khirnya menuruti perintah itu. Aku pun mengambil Kambing panggang Pamanku Amir kemudian memberikannya kepada Pamanku Amir. Namun, sang Pamanku Amir belum langsung menerimanya, ia bertanya lagi."Ali, di tangan kamu ada sepotong Kambing panggang lezat, silahkan dinikmati." Pamanku Amir memberikan perintah lagi.


__ADS_1


Aku hendak menyantap Kambing panggang tersebut, tiba-tiba Pamanku Amir berbicara lagi,"Tapi ingat Keponakkanku Ali, dengarkan dulu petunjuknya. Jika kamu memotong paha Kambing itu, maka aku akan memotong pahamu Ali, dan jika kamu memotong dada Kambing itu, maka aku akan memotong dadamu Ali. Tidak hanya itu saja, jika kamu memotong dan memakan kepala Kambing itu, maka aku akan memotong kepalamu Ali. Akan tetapi kalau kamu hanya mendiamkan saja Kambing panggang itu, akibatnya kamu akan aku gantung kamu, Ali" berbicara oleh Pamanku Amir kepada Aku.



Aku pun merasa bingung dengan petunjuk yang dibicarakan Pamanku Amir itu. Dalam kebingungannya, Aku yakin jika hal itu hanya akal-akalan Pamanku Amir saja demi untuk menghukumku. Tak cuma Aku yang tegang, melainkan semua Keluarganya yang hadir di Rumah Pamanku Amir tampak tegang pula.


Lima menit lamanya, Aku hanya membolak-balikkan Kambing panggang itu. Kemudian Aku mulai mendekatkan ayam panggang itu tepat di indera penciumanku.



__ADS_1


"Jika saya harus memotong paha Kambing ini,maka paman Amir akan memotong pahaku, jika saya harus memotong dada Kambing ini, maka Pamanku Amir akan memotong dadaku, jika saya harus memakan dan memotong kepala Kambing ini, paman Amir akan memotong kepalaku, tetapi coba lihat, yang Aku lakukan adalah mencium pantat Kambing ini," bicaraku.



"Apa maksudmu, keponakanku Ali" tanya Paman Amir."Maksud Aku adalah kalau Aku melakukan demikian maka Paman Amir uga akan membalasnya demikian, layaknya Kambing ini. Nah, Aku hanya mencium pantat Kambing panggang ini saja, maka Paman Amir juga harus mencium pantat Kambing panggang ini pula," jelas Aku kepada Pamanku Amir.



Sontak saja penjelasan Aku itu membuat para undangan dan keluarga yang hadir menahan tawa, tetapi ragu-ragu karena takut dihukum Pamanku Amir itu, Paman Amir mendengar ucapan Aku mulai memerah mukanya karena malu untuk kesekian kalinya. Untuk menutupi rasa malunya itu, Paman Amir memerintahkan Aku untuk pulang dan membawa pergi Kambing panggang yang lezat itu."keponakanku Ali, cepat pulanglah, jangan sampai aku berubah pikiran," kata Pamanku Amir.


__ADS_1


Sampai di rumah, Aku mengundang tetanggaku ntuk berpesta Kambing panggang. Untuk kesekian kalinya,, Aku kembali sukses mempermalukan Pamanku Amir di depan para undangan dan keluarga..



__ADS_2