Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 10: Pengakuan Najwa


__ADS_3

Sebagai seorang adik yang ingin kakaknya tetap berpikir positif. Abil berusaha bersikap sangat normal. Dimana ia menyembunyikan fakta terbesar dalam hidupnya yaitu memiliki teman dari dunia lain. Gelang ditangan kanan dengan liontin berbentuk kunci merupakan rumah bagi teman-teman gaib.



Bukan bermaksud untuk menduakan Allah, ia hanya berteman dengan makhluk lain yang tidak panas ketika sholat dan melakukan ibadah lainnya. Selain itu tidak ada niat lain yang menyeleweng dari ajaran agama, maka semua aman sebagaimana mestinya.



Lima belas menit kemudian, Bella dan Abil keluar dari dapur membawa nampan yang menampung mangkok mie spesial ala chef kakak beradik. Mie kuah merah dengan topping berlimpah menjadi menu makan pengganjal malam mereka. Kebersamaan itu semakin lebih terasa karena canda tawa tanpa mengurangi batasan masing-masing.



"Abi, kata Ka Wawa tadi siang, dia mau bicara sesuatu serius, loh." celetuk Emir di sela obrolan santai mereka hingga mengalihkan perhatian semua orang yang serentak menatap Najwa penuh tanya.



Tatapan mata secara bersamaan jelas membuatnya grogi. Kenapa jadi begitu canggung? Ia pun tak paham karena jujur niat hati sudah berubah dan tidak ingin berkeluh kesah lagi. Semua yang terjadi di sekolah akan lebih baik jika tetap disimpan saja, tapi sekarang tidak punya pilihan lain.



Najwa meletakkan sendok buah kembali ke mangkuk, lalu mengubah posisi duduknya agar nyaman. "Abi, Bunda, Paman, Emir. Sebelumnya aku minta maaf karena apapun yang akan menjadi topik pembahasan agak jauh menyimpang dari kehidupan manusia."



"Disini kita semua tahu tentang sejarah keluarga yang bersinggungan dengan mereka para makhluk tak kasat mata, terutama dengannya yang tak bisa disebut. Abi dan Bunda ingin aku pindah sekolah karena melihat situasi tidak lagi kondusif. Benar 'kan?"



Najwa mencoba untuk mencari kata yang tepat untuk menyampaikan semua maksudnya agar tidak menjadi salah paham. Apalagi sebagai anak pertama, maka ia harus bersikap lebih dewasa. Alih-alih memperumit keadaan, gadis itu kembali melanjutkan pembicaraan yang sensitif.



"Disini bukan anak lain yang menjadi kekhawatiranku, melainkan bangunan yang kini ditempati para siswa dan seluruh guru serta pengurus sekolah. Tanah dari bangunan itu merupakan tanah perbatasan. Dimana disana menjadi pintu gerbang dunia kita dan dunia mereka.

__ADS_1



"Jangan menatapku seperti itu," Najwa menghela napas pelan, "Aku sengaja mencari tahu sejarah dari bangunannya serta silsilah yang selama ini ada. Sayangnya beberapa hal tidak bisa kutemukan dan alasanku tetap bertahan karena semua orang yang harus diselamatkan. Apakah salah membantu sesama?"



Azzam merenung, ia tengah mencerna niat sang putri. Bella berulang-ulang membaca istighfar. Emir hanya bisa melongo seraya geleng-geleng kepala karena memiliki kakak yang benar-benar pecinta sosial, sedangkan Abil masih santai seperti dipantai.



Satu kepastian yang tidak bisa diganggu gugat adalah Najwa itu versi Bella masa lalu. Bedanya hanya jalan cerita dan sikap yang diputuskan. Pertanyaannya adalah apakah tindakan kali ini lebih berbahaya dari yang sudah terjadi? Mampukah tetap bertahan ketika tahu benar semua itu tidaklah mudah? Satu persatu sebab dan akibat harus dipahami.



"Wawa, sejauh mana pertarungan di antara kalian? Fisik atau non-fisik?" Abil bertanya tanpa beban, tetapi hatinya tetap bertahta pada keyakinan.



Najwa belajar untuk mengendalikan diri, "Non-fisik, bukankah masih aman?"




"Kita permudah saja ya," Abil mengambil tumpukan mangkuk bekas mie, nampan dan juga gelas kosong yang ada diatas meja. Lalu membentuk benteng pertahanan seperti tengah menyiapkan strategi perang karena prinsip harus ditunjukkan agar mudah dipahami.



Dua mangkuk menjadi penahan satu nampan sehingga area meja berubah menjadi pagar dan masing-masing dibelakang memiliki personil gelas yang dianggap sebagai makhluk hidup. "Manusia," Abil menunjuk sisi bagian kanan meja, lalu beralih ke bagian kiri. "Makhluk gaib. Kehidupan sudah memisahkan perbedaan alam serta dimensi ruang dan waktu."



"De, kamu belajar semua itu?" tanya Azzam menyela penjelasan Abil karena ia tak menyangka sang adik ipar sampai mengetahui teknik demo yang sudah lama dilupakannya.

__ADS_1



Abil mengangguk dengan kerlingan mata nakalnya, "Najwa, kita mungkin hidup berdampingan tapi jangan lupakan fakta bahwa manusia dan mereka memiliki kodratnya masing-masing. Jika boleh jujur, ini bukan sekedar tanah bangunan seperti yang kamu maksud. Iya 'kan?"



Seperti tengah ketahuan mencuri saja. Di hadapan Abil semua rahasianya seakan terungkap tanpa ada tedeng aling lagi. Entah kenapa perasaan semakin tidak tenang dengan keadaan yang ada. Apalagi kedua orang tua dan adiknya kembali menatap tanya.



"Ibu dan anak sama ya, Ka Bella terbiasa untuk bertindak gegabah meski demi keluarga dan keponakanku terbiasa untuk menyimpan rahasia dari fakta yang diungkapkan. Mau aku yang cerita atau kamu? Ingat ya, kita ini keluarga." sambung Abil menyudutkan Najwa.



Dimana gadis belia yang semakin merasa serba salah itu langsung menundukkan pandangannya. Tidak tahu harus menyikapinya keadaan yang ada seperti apakah rasa harapan terdalam dari hatinya bisa menjadi penolakan nyata oleh keluarga sendiri. Bukankah sulit berkata kebenaran yang belum siap untuk diperdengarkan?



Tiba-tiba usapan tangan hangat mengalihkan rasa takut dan cemas yang membelenggu hati serta pikirannya. Bunda menatapnya penuh kasih sayang, wanita itu selalu berusaha menekan ego demi menjaga keseimbangan emosi kedua anaknya. Seperti yang ia lakukan pada Najwa.



"Aku tidak bisa pindah karena terikat dengan tempat itu. Jika tanya kenapa, jujur saja aku tidak tahu kepastiannya. Seingatku setelah satu bulan menjadi siswa, di hari itu saat jam olahraga terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku.



"Aku berdiri ditengah para siswa teman sekelas, tiba-tiba gambaran orang-orang kesurupan menyerang kepala hingga tanpa sadar sebuah janji terucap dari bibir ini." Wawa menerawang ingatan yang sebenarnya ingin dilupakannya, "Aku berjanji akan menjadi penghalang antara dua dunia. Kurang lebih itulah alasan ...,"


"Wawa! Apa kamu tahu resikonya dengan keputusan yang kini menjadi masalah? Abi hanya berpikir situasi tidak sedemikian rupa, tapi ternyata," Azzam mencoba menahan diri karena ia sadar akan niat hati sang putri tidaklah salah, hanya saja tindakan nekat Najwa bisa berdampak pada keluarga.


Wajar manusia memiliki insting melindungi. Akan tetapi terkadang manusia lupa bahwa ego di zaman sekarang semakin lebih tinggi dari apa yang di perjuangan. Bantuan tulus saja, bisa diartikan cari perhatian. Miris sih, tetapi seperti itulah kenyataan yang memang semakin riskan.


"Percuma untuk berdebat atau memberikan pembelaan atau memutuskan ultimatum, Ka. Semua sudah terjadi, maka hanya tinggal satu cara yang tersisa. Apakah Najwa mau melakukan itu atau kekeh dengan pilihannya yang bisa menyeret keluarga. Bagaimana Wawa?" Abil menatap Najwa lebih lembut lagi karena bagaimanapun gadis belia itu keponakannya sendiri.

__ADS_1


Sebagai seorang ibu memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan anaknya. Ia tak ingin ada masalah baru setelah satu masalah berakhir, "Cara apa yang kamu maksud, De?"


__ADS_2