Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 7: Ternyata Dia..


__ADS_3

Satu pertanyaan dari pak supir mengalihkan perhatian pria muda yang duduk dibelakang. Ia tahu dan sangat paham maksud dari pertanyaan tersebut, tetapi jika berkata jujur. Pasti bisa diusir dari dalam mobil taksi karena teman yang dimaksud bukanlah manusia seperti dirinya.


Tak ingin berbuat kesalahan apalagi hal yang mencurigakan. Ditutupnya buku kuno dengan pembatas jari kelingking, lalu menoleh kesana kemari dengan tampang bingung. "Bapak bicara teman yang mana?"


"Astagfirullah, ternyata Mas ini bukan indigo ya? Pantes aja gk tahu kalau diikuti mereka. Ya udah, banyak-banyak istighfar aja Mas." ujar Pak supir kembali fokus pada jalanan agar tetap aman tanpa ada gangguan.


Indigo? Tentu saja ia seorang indigo bahkan sejak kecil dan kemampuannya semakin meningkat setelah mempelajari banyak hal mistis yang sengaja dikumpulkan sebagai sarana ilmu pengetahuan. Entah kenapa setelah peristiwa yang menimpa keluarga memberi kesadaran bahwa dunia memang ditempati dua alam berbeda.


Hari ini adalah sejarah pertama yang ingin ia ukir untuk menjadi saksi kehidupannya. Tidak tahu tentang esok hanya saja baginya waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Alih-alih merasa terganggu dengan keberadaan para makhluk gaib yang sudah menjadi teman. Pria muda itu kembali melanjutkan bacaannya.


Perjalanan masih berlanjut menyusuri bahu jalanan perkotaan yang dipenuhi hingar bingar keramaian. Bukan hanya kendaraan yang berseliweran, tetapi manusia metropolitan juga memenuhi kehidupan tak bertuan. Satu fakta yang tidak bisa dia lupakan yaitu perbedaan pola hidup di Jakarta begitu signifikan.


Lima jam telah berlalu, mobil taksi memasuki kawasan pedesaan dengan jalanan kanan kiri yang menjadi area persawahan. Padi mulai menguning menunduk karena isi dari setangkup benih tumbuh sempurna menjadi. Pemandangan berteman sinar mentari yang kian bersembunyi kembali menuju peraduan. Senja yang temaram bak awan bergelombang.


"Mas, ini kanan atau kiri ya?" Pak Supir bingung dengan jalan cabang di depannya karena ia yakin daerah itu tidak memiliki jalan bercabang.

__ADS_1


Namun kebingungan itu hanya milik sang supir, sedangkan pria muda yang duduk di belakang tersenyum penuh arti. Lalu ia memberikan isyarat mata agar rintangan yang ada di depan bisa hilang tanpa harus melakukan hal yang dirinya anggap membuang waktu dan tenaga. Suara deru semilir angin terdengar begitu jelas mengalihkan perhatian.


"Semua padi bergoyang ditambah anginnya begitu kencang. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ...," keluh Pak supir terhenti karena ia baru menyadari bahwa penumpangnya sudah ada di luar. "Mas!"


Panggilan itu diabaikan, kini tas sudah di pundak. Sepertinya banyak makhluk yang membenci kedatangannya. Apa ia semenakutkan itu? Siapa manusia dan siapa setannya? Terkadang heran dengan situasi yang selalu menjebak bahkan terkesan memang kehidupan menginginkan langkah kaki di jalan kebingungan.


Kepergian sang pelanggan, membuat Pak Supir hendak menyusul tetapi setelah melihat beberapa lembar uang mata asing tergeletak di kursi belakang. Niatnya berubah dan memilih pergi untuk menjauh dari bahaya yang pasti tidak sanggup diatasi seorang diri. Mobil kembali melaju begitu berputar dijalan yang tak seberapa luas.


Sementara si pria muda berjalan dengan santai bak berjemur di tepi pantai. Tidak ada beban hati, apalagi beban pikiran. Walau begitu ia memiliki keyakinan pasti akan kemampuan yang Allah berikan untuk melindungi dirinya dan orang-orang disekitarnya. Selama iman dan takwa bersatu terikat dalam keteguhan.


Kalimat yang panjang, tetapi bukan untuk ancaman. Ia hanya memiliki satu tujuan dan tidak bisa diganggu gugat. Tidak peduli mudah atau sulit jalannya nanti harus dilalui bersama-sama. Baik ia atau teman yang kini mendampingi, maka harus bekerjasama. Meski untuk melakukan perubahan membutuhkan waktu dan perjuangan yang tidak mudah.


Akhirnya sisa perjalanan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Pria muda itu berhasil menyingkirkan penghalang pertama untuk memasuki wilayah yang penuh dengan energi negatif bercampur positif. Setiap langkah meninggalkan jejak doa harapan nan tulus. Jujur saja, ketika merasakan tatapan mata tak suka dari berbagai arah. Kedamaian hatinya sedikit terusik.


Bukan rasa takut yang menyesakkan dada. Akan tetapi ingatan masa lalu yang kian melanda. Setiap luka atas kehidupan yang menjadi tidak sempurna. Ketika anak lain mendapatkan cinta kasih keluarga, ia harus hidup jauh demi kebaikannya sendiri. Alasan yang diberikan memang pendidikan, padahal dibalik itu semua menyimpan alasan lain.

__ADS_1


Hari ini ia datang untuk menggali serta menyudahi akar masalah yang tengah dihadapi keluarganya. Pendidikan yang dia tekuni hingga memiliki gelar sarjana, nyatanya tak mengalihkan perhatian untuk tetap pulang ke pangkuan orang-orang terkasih. Hidup sebagai seorang pria bebas selama bertahun-tahun, justru mengajarkan arti tanggung jawab yang lebih besar.


Langkah kakinya terhenti di depan gapura bercat hijau pupus daun pisang bertulisan Pondok Pesantren. Seulas senyum menghantarkan rasa rindu yang kian menggebu, "Assalamu'alaikum keluargaku, Aku pulang untuk kembali bersama kalian. Semoga kehadiranku menjadi kebaikan untuk semua orang."


Wajahnya yang rupawan dengan kulit eksotik menjadi pusat perhatian warga. Dimana beberapa penduduk desa mengira akan ada guru pondok baru sehingga salah satu warga berlari masuk ke dalam pondok pesantren memberitahu perihal kedatangan pria asing yang berdiri di depan gapura.


Jarak antara rumah utama dengan pintu masuk tidaklah jauh karena hanya memerlukan waktu sepuluh menit kurang. Azzam datang bersama warga yang memberikan informasi seperti orang tidak sabaran. Begitu sampai di tempat yang dimaksud, langkah kakinya terhenti dengan pandangan mata terpatri menelisik sang pria muda.


Wajah yang dulunya imut menggemaskan, hari ini berubah tampan dengan tubuh kekar yang terkesan sering berolahraga, bahkan tidak jauh beda dari dirinya. "Apa kamu tidak capek berdiri trus? Atau mau jadi patung penyambutan? Kemarilah peluk kakakmu!"


Tas dipunggung yang berat terasa semakin ringan begitu kerinduan hatinya mulai terobati. Setelah sekian lama bisa merasakan dekapan seorang kakak yang selalu menjadi idolanya. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan isi hati terdalamnya selain ucapan syukur alhamdulillah atas nikmat yang menjadi awal perjalanan baru.


"Terima kasih selalu menjadi panutanku, Ka. Siapapun diriku saat ini, semua berkat dukunganmu. Ka Azzam memang terbaik untuk kami," Dilepaskannya pelukan agar bisa bernapas dengan baik, lalu tanpa sungkan meraih tangan sang kakak kemudian mengecup sebagai tanda hormat.


Pertemuan yang mengharukan hingga tak sadar ia menangis mengingat masa lalu yang menjadikan mereka keluarga seperti sekarang. "Kalian keluargaku, sebagai kakak sekaligus kakak ipar tentu aku berhak mendidik adik semata wayang kami. Bukankah begitu Abil?"

__ADS_1


__ADS_2