Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 26 : TERROR SHOLAT ISYA


__ADS_3

Umpatan kasar bersambung mantra yang meluncur menggoyang bibir yang komat-kamit. "Ing awak sing tenang, gawe lara nembus pikiran sing paling jero. Nggowo asmane leluhur kang duwe getih pitik cemani."



Si dalang mencelupkan buntalan kain kafan ke dalam batok kelapa yang berisi darah ayam cemani. Mantra kembali dilanjutkan seraya meletakkan buntalan itu ke atas bara api, lalu ditaburi bunga kembang tujuh rupa yang merupakan bunga layu dari atas kuburan.



Ritual balas dendam masih berlangsung hingga kepulan asap hitam melesat pergi meninggalkan kediamannya. Sihir peruntuh kekuatan telah ia kirim sebagai teluh. Dalang itu masih tidak sadar bahwa lawannya bukan bocah ingusan. Dimana Abil yang memiliki firasat buruk sengaja mengumpulkan semua orang di ruang ibadah.



Rasa syukur tidak terkira ketika suara adzan isya berkumandang dari masjid pondok pesantren. Kali ini, sholat berjamaah dilakukan bersama-sama walau tidak bisa keluar dari rumah. Hal itu dilakukan untuk keamanan semua orang karena apapun yang akan terjadi tidak boleh ada pihak lain yang masuk dan terlibat.


Suara merdu mulai memenuhi ruang ibadah. Abil menjadi imam dengan makmum semua anggota keluarganya. Lantunan surat Al-fatihah mengalun khusyuk dengan keyakinan hati memasrahkan diri dalam perlindungan Yang Maha Esa.


Suara aamiin bersambut do'a lain, tiba-tiba desiran angin mulai menyusup membuat bulu kuduk meremang. Lambaian mukena beterbangan bergoyang mengikuti arah semilir hembusan tak bertuan. Pajangan di dinding ikut terombang-ambing seakan ada lindu dadakan. Semua itu menjadi godaan keimanan.



Tidak satupun tergoyahkan karena teror yang mereka rasakan. Dimana suara cekikikan memenuhi ruang ibadah berganti panggilan manis tanpa wujud yang bisa digambarkan. Lantunan do'a tak hentinya membasahi bibir menyentuh harapan kembali pada Sang Pencipta. Sholat empat rakaat kian menegangkan ...


__ADS_1


Mata batin yang terbuka membuat Najwa melihat hal-hal di luar nalar. Kepala yang menggelinding bermain di depan mata, tangan yang mencakar dinding menghasilkan suara mengerikan. Walaupun begitu, ia tetap memusatkan diri menuntaskan shalatnya hingga suara salam terdengar diikuti semua orang.



Tiba-tiba lampu padam. Sontak saja ruangan menjadi gelap gulita, membuat hati tak tenang. "Bismillahirrahmanirrahim ...,"



Suara Abil kembali bergema tapi kali ini, do'a khusus yang sengaja dipanjatkan untuk menetralkan kondisi rumahnya. Lima detik telah berlalu hingga lampu kembali menyala. Najwa mengedarkan pandangan mata ke sekitar dimana Bunda, Ibu Diana dan Emir masih duduk di tempat semula, tapi kemana perginya sang paman?



Pria muda satu itu menghilang entah kemana. Padahal ruang ibadah hanya memiliki satu pintu keluar yang merupakan pintu masuk juga. Jadi apa yang terjadi selama lampu padam? Ingin sekali mencari tahu, tapi keluarga juga membutuhkannya. Diantara mereka berempat, hanya dia seorang yang bisa membuat perisai pertahanan agar tidak diganggu makhluk astral.




Diana melepaskan mukena, ia berniat mengambil minuman untuk semua orang. Akan tetapi Najwa langsung mencekal tangannya seraya menggelengkan kepala. Tatapan sang putri menjelaskan bahwa mereka aman jika tetap di ruang ibadah. Tak ingin menambah beban, maka ia kembali duduk berkumpul bersama yang lain.



"Bunda, izinkan Najwa untuk menolong paman." ucap lirih gadis itu dengan hati tak kuasa menahan diri untuk tetap diam seperti orang tak mampu. Ia tahu, dimanapun pamannya berada. Pasti tengah berjuang untuk menyelamatkan hidup semua orang, lalu ia sendiri?

__ADS_1



Ketika ditakdirkan menjadi manusia biasa tanpa memiliki kelebihan. Rasa bersalah dan ingin menolong tidak akan sebesar Saat ini karena ia ingat siapa dirinya. Memang sakit ketika banyak orang memanggilnya sebagai putri iblis. Namun ia menyadari bahwa kekuatan dari sang pangeran memang ada di dalam tubuhnya.



Apa gunanya memiliki batu permata merah sang penguasa alam gaib? Ketika tangan dan kakinya terbelenggu aturan rumah dan janji pada kedua orang tuanya. Situasi saat ini tidak bisa dibiarkan bahkan ketika mengingat kepala yang menggelinding saat sholat. Satu hal bisa dipastikan bahwa sang pengganggu bukanlah sembarang orang.



Bella tidak paham dengan permintaan sang putri karena gadisnya bukanlah Azzam yang bisa melakukan ruqyah dan juga menjaga diri ketika melawan para makhluk tak kasat mata. Tentu saja tidak bisa dibiarkan pergi, apalagi kepercayaan hati masih teguh meyakini sang adik mampu menyelesaikan kasus kali ini.



Diusapnya kepala Najwa agar gadis itu melepaskan rasa bersalah yang terpancar dari sorot manik matanya. "Nak, Pamanmu bukan pemuda sembarangan. Mari kita bantu dia dengan doa dari sini. Percayalah segala sesuatu yang ditakdirkan Allah memiliki sebab dan akibat yang tidak bisa kita debat."



Pupus sudah harapan Najwa atas penolakan yang dilakukan sang Bunda, tapi ia maklum karena wanita yang telah melahirkannya itu hanya mengkhawatirkan keselamatan mereka semua dan tidak ingin menambah masalah untuk adik semata wayangnya dalam menyelesaikan teror para makhluk tak kasat mata.


Sementara di luar sana, Abil berhasil menangkap sebuah lukisan yang terbang meninggalkan kediamannya. Bibir tak henti melantunkan ayat suci Al-Quran, ditatapnya lukisan pemandangan yang terus bergetar ingin membebaskan diri. Ia tak percaya dengan energi kuat yang terus memberontak dan tersimpan di setiap goresan cat minyak.


Lukisan ini seperti yang Abil katakan di kantor Gala. Apakah itu berarti, Gala tahu tentang asal usul lukisan ini? Astaghfirullah, aku harus segera mengurus masalah ini, tapi siapa yang berniat mencelakai keluargaku? ~batin Abil mencoba mencerna semua kejadian yang terjadi secara beruntun.

__ADS_1


Pria muda itu langsung membungkus lukisan menggunakan kain hitam yang sudah dibacakan doa, lalu diikat dengan tali rotan yang diambil dari tali cambuk. "Gala, tunggu kedatanganku! Jika kamu ingin mempermainkan perasaan dan pikiranku, maaf saja karena ku tidak selemah itu. Disini ada keluarga yang bisa menjadi taruhan nyawa. Maka jangan sampai mengubah pendirianku untuk tetap menjadi orang baik."


Teror sholat isya berakhir, membuat pria muda itu kembali masuk ke dalam rumah. Hanya saja langkah kakinya terseok-seok menapaki setapak menuju pintu rumah utama. Sisa tenaga yang berusaha ia pertahankan memeluk kesadaran untuk tetap berjuang. "Ya Allah, semoga firasat ku hanyalah sebuah ketidakbenaran."


__ADS_2