
Kendaraan roda empat di depan sana sudah sangat jauh bahkan hampir mencapai belokan terakhir memasuki area pondok pesantren. Akan tetapi orang yang mengintip baru berani keluar dari tempat persembunyian dengan penampilan kacau karena celananya dipenuhi lumpur sawah.
Diambilnya ponsel dari saku, lalu mencari sebuah nomor di antara ratusan daftar kontak, kemudian melakukan panggilan singkat. Saat ini hanya dia yang bisa membantunya untuk menyelidiki siapa pria muda yang bersama keluarga pemilik pondok pesantren. Kini niat hati sudah bulat ingin mendapatkan gelang pengikat sukma.
Gelang itu memang tidak familiar di kalangan masyarakat karena terlalu awam. Hanya saja di dunia para pecinta ilmu gaib, pasti mengenalnya sebagai salah satu benda mistis yang harus dimiliki para pejalan dimensi. Sebenarnya ia pun baru memulai memiliki rutinitas yang cukup menantang adrenalin.
Namun tanpa sadar disetiap pencarian barang yang diinginkan sang guru spiritual. Justru keinginan hati dan pikiran terus menggebu-gebu seakan itulah impian yang harus diwujudkan. Padahal dulu, dia hanya seorang pemuda biasa yang seringkali dikatai bodoh oleh teman sekelasnya.
__ADS_1
"Balik rumah dulu, deh. Lagian kenapa jadi orang-orang sawah sih? Gak papa deh, asal guru besar bisa memberikan ilmu turun temurun padaku." ucapnya berdialog pada diri sendiri dengan langkah kaki menjauh dari area sawah.
Ia tidak tahu, jika salah satu makhluk yang menjadi teman Azzam berdiri mengikuti setiap langkah kakinya. Ketika manusia berani membicarakan sang tuan, bagaimana ia bisa terima dengan lapang dada? Tidak ada yang boleh berniat buruk, apalagi ingin merebut harta berharga yang selama ini menjadi rumahnya.
Tanpa menunda apapun lagi. Sosok itu mengembuskan napas meniup tengkuk leher si manusia, tapi masih tidak berpengaruh. Sehingga ia kembali berbuat ulah dengan beterbangan mengelilingi pemuda itu, sayangnya tidak terjadi apapun. Apa dia sudah kehilangan hak untuk menakut-nakuti manusia?
Sekelebat bayangan melesat terbang di depan wajahnya. Bayangan putih dengan cahaya merah. Tak ingin berpikir negatif, pemuda itu melihat posisi matahari yang masih menyembul. Rasa was-was di hati kembali menghilang hingga langkah kaki tetap berjalan menyebrang. Tiba-tiba dari arah utara datang sebuah mobil pick up.
__ADS_1
Suara klakson yang terdengar nyaring diabaikan si pemuda itu dan justru berhenti di tengah-tengah jalan hanya untuk mengikat tali sepatu kotor supaya bisa berjalan tanpa gangguan. Tangan besar berkuku panjang menutup kedua telinga si manusia dengan bisikan diam yang memprovokasi pemuda itu agar tetap tidak mendengarkan kebisingan dunia nyata. Sehingga bisa dipastikan menjadi sasaran kepuasan para makhluk asing.
Benturan tak bisa lagi dihindari. Rasa terkejutnya berakhir denyutan hebat di kepala karena menghantam bahu jalan. Samar-samar terlihat seseorang turun dari mobil dengan langkah kaki lari menghampirinya, tapi wajah tampak semakin tidak bisa dikenali. Selain seulas senyum nanar yang berusaha untuk membangunnya.
"Kita kerumah sakit aja, ya. Aku akan tanggung jawab," si penabrak bergegas membantu korban bangkit dari tempat kejadian kecelakaan, ia tak keberatan dengan ceceran darah yang ikut mewarnai baju koko nya.
Kecelakaan itu hanya ada dua saksi. Satu penabrak dan satunya lagi yang ditabrak. Suasana sekitar memang lah sangat sepi dari kehadiran para manusia. Mungkin karena belum memasuki musim panen yang biasanya masyarakat sekitar seharian di sawah, tapi kali ini sunyi senyap bagaikan kuburan.
__ADS_1