
Kakak beradik hanya membalas oh ria tanpa ingin bertanya lebih jauh. Bagaimanapun Bu Cinta Arunika adalah kepala sekolah mereka yang begitu sholehah bahkan seringkali membantu para guru ketika terjadi kesurupan massal dan yang lebih utama adalah tidak sekalipun pernah menganggap Wawa sebagai putri iblis.
"Paman, mana bekal makananmu? Jangan bilang lupa, ya." celetuk Emir mengalihkan perhatian Abil yang tersadar akan sesuatu yang seharusnya dibawa.
Kotak makan yang disiapkan sang kakak. Kemana perginya? Seingat dia sudah membawanya atau jangan-jangan tertinggal di mobil? Kebingungan yang melanda masih tetap dibawa stay tenang hingga uluran tangan putih menyodorkan kotak makan berwarna merah hati.
"Terima kasih," ucapnya melirik ke arah Cinta yang menundukkan pandangan mata. "Ayo, kita makan siang dulu. Sebelum jam istirahat berakhir.
Mereka berempat akhirnya membuka kotak masing-masing. Dimana tiga kotak memiliki isian yang sama yaitu nasi liwet dengan lauk nugget, sambal, urap sayur yang segar dengan bumbu kelapa. Sementara bekal milik Cinta lebih simple dan bukan menu berat yaitu salad buah, roti panggang, serta pudding susu rasa coklat.
Kebersamaan mereka juga diselingi obrolan singkat sekedar basa-basi. Terdengar celotehan anak yang saling menimpali sesekali disambut canda tawa begitu santai. Tanpa sadar kehangatan itu menyentuh hati Cinta yang sudah lama hidup seorang diri. Tidak ada orang tua tempat berbagi atau saudara untuk bercanda.
"Alhamdulillah sudah selesai, saya permisi mau sholat dulu." pamit Cinta seraya merapikan tempat bekal makannya.
__ADS_1
Abil melakukan hal sama begitu juga dengan Emir dan Najwa. "Ayo, kita sholat berjamaah."
"Jika Mas siap jadi imamnya, kenapa tidak." tukas Cinta pelan tetapi terdengar jelas menyeruak menyadarkan Abil akan perasaan yang kini kembali hadir.
Langkah kaki menyusuri setapak meninggalkan area taman. Keempat insan yang berjalan menuju mushola sekolah dengan tatapan mata jauh menerawang ke depan. Abil dan Emir di depan diikuti Najwa dan Cinta. Terlihat serempak seperti keluarga.
Di sekolah yang sebenarnya mayoritas siswa beragama islam. Ternyata bisa dihitung murid dan guru yang melaksanakan ibadah sholat. Lihat saja jumlah sepatu yang ada di pelataran mushola. Tidak lebih dari sepuluh pasang sepatu murid dan tiga sepatu guru. Sangat ironis akan fakta yang memang terpampang jelas di depan mata.
Secara umum, hukum sholat berjamaah adalah sunnah muakkad, menurut keterangan Syekh Wahbah Az Zuhaili dalam Kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu. Sunnah muakkad adalah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap umat muslim. Sholat berjamaah adalah sholat yang dilakukan secara bersama-sama terdiri dari dua orang yaitu imam dan makmum.
Semakin banyak jumlah makmumnya, maka akan semakin baik pula sholatnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Sholat berjamaah lebih afdal daripada sholat sendirian dengan perbandingan dua puluh derajat.” (HR Muslim).
Suara lantunan takbir terdengar begitu merdu bergema di seluruh mushola. Semilir angin terasa begitu sejuk dengan hati yang tenang. Sayup-sayup doa menyebar ke penjuru lorong sekolah. Abil sengaja menunaikan ibadah sholat dengan doa khusus agar lingkungan sekolah juga terjaga.
__ADS_1
Getaran partikel yang menyentuh dinding perisai tak kasat mata mulai bereaksi. Dimana para makhluk harus merasakan panas karena lantunan doa yang dipanjatkan Abil. Murka? Mereka ingin menghentikan acara sholat yang tampak begitu khusyuk tetapi pelindung sang kunci tak membiarkan adanya tindak kekerasan.
"Panaas ...," seru seorang makhluk dengan tubuh setengah terbakar berusaha berusaha ingin masuk ke dalam mushola tetapi di halangan makhluk lain yang berdiri menjadi pagar depan mushola.
Begitu juga dengan para makhluk lain ingin ikut melakukan pemberontakan. Sayangnya makhluk dari bangsanya sendiri menjadi penghalang utama. Para makhluk yang selalu keluar dari gelang milik Abil, disaat pria muda itu tengah melakukan ibadah.
"Enyahlah kalian dari hadapan kami! Tuanku hanya memberikan kalian pelajaran kecil," ucap makhluk kerdil dengan ekor panjangnya.
Sekelebat bayangan hitam melesat begitu cepat melewati kerumunan para makhluk. Begitu cepatnya hingga sekali terbang tanpa aturan mengecup dinding keselamatan yang langsung menghempaskan jiwa tak beraga kembali ke asalnya.
Suara salam dari dalam mushola menjadi awal doa pengusiran makhluk tak kasat mata. Cinta yang menyadari itu mulai gusar, ia tidak masalah akan niat Abil hanya saja pria itu belum tahu hasilnya nanti. Tak ingin bertindak gegabah, ia hanya bisa berbisik pada Najwa.
"Paman, hentikan!" tegas Najwa setelah mendapatkan bisikan dari sang guru.
__ADS_1