
Kebersamaan keluarga Abil seperti asupan kehangatan untuk semua orang di dalam rumah tersebut. Meskipun badai tengah mengintai, tak seorangpun merasa akan jatuh seorang diri. Semua itu karena kepercayaan yang ada di hati satu sama lain. Seperti pondasi rumah yang saling menguatkan, maka tidak tergoyahkan.
Namun kepercayaan diri yang tinggi di alam lain dalam hati sang pangeran mengubah sejarah menjadi kenyataan tanpa sentuhan. Pangeran Lucifer melakukan semedi di depan gerbang cahaya dengan harapan bisa menaklukkan kekuatan alam yang ia sendiri masih mencoba untuk mempelajari.
Perbuatannya langsung membuat Gael turun dari tahta, lalu menyambangi tempat sang putra berbuat ulah. Rasa amarah tak bisa lagi ditahan, jika bukan pencegahan seorang ibu untuk kehidupan sang putra. Mungkin saja ia akan menjatuhkan hukuman berat.
Istana kerajaan iblis. Semua perwakilan rakyat yang mendapatkan pesan khusus dari raja berkumpul di istana karena pemimpin mereka ingin menyikapi ulah putranya dengan serius. Bagaimanapun keadilan harus ditegakkan. Jika contoh dari pemberontakan berasal dari keluarga istana, maka bukan tidak mungkin rakyat melakukan hal serupa.
Selama ini gerbang cahaya sudah tertutup, bahkan tidak berniat untuk membukanya kembali. Kenapa? Sebagai seorang pemimpin lebih mengutamakan masa depan yang harus dijadikan kebaikan bersama. Ketika dia saja bisa egois menahan rasa cinta untuk seorang manusia. Lalu kenapa sang pangeran dengan sengaja ingin membuka gerbang cahaya?
"Yang Mulia, semua perwakilan sudah datang menunggu kedatangan Anda." lapor seorang ajudan dari luar kamar pribadi sang raja.
Dimana Gael tengah menatap pantulan tubuhnya di cermin dengan sorot lampu temaram. Tiba-tiba ada tangan yang melingkari perutnya, siapa lagi jika bukan wanita yang menjadi ratu kerajaan iblis. Sang istri selalu berusaha untuk menenangkan emosi yang kian membara.
"Rajaku, maafkan Pangeran Lucifer atas perbuatannya kali ini. Aku tahu, tindakannya tidak bisa ditoleransi karena membahayakan semua makhluk. Akan tetapi, sebagai orang tua, bukankah kita harus bersikap lebih bijaksana? Apapun keputusan seorang raja pasti demi seluruh rakyatnya.
"Namun, sebagai ayah? Apakah keras hati bisa meluluhkan hati seorang anak? Pangeran Lucifer hanya ingin para jiwa yang tersesat berpulang ke asal alam masing-masing. Hanya itu dan tidak bermaksud yang lain. Pahamilah antara tindakan pemberontakan atau penyelamatan dari tindakan putra kita." ucapnya mengakhiri sesi penjelasan sudut pandang yang diyakininya.
__ADS_1
Gael melepaskan tangan yang saling bertautan mengunci perutnya. Lalu membimbing wanita itu agar berpindah ke hadapannya. Kemudian ia merengkuh dagu sang istri sehingga keduanya saling menatap satu sama lain. Tatapan mata tak berkedip yang saling menelusuri kedalaman emosi.
"Katakan padaku, apa kamu tidak percaya dengan suamimu sendiri?" tanya Gael semakin lekat menatap intens sang istri, wanitanya menggelengkan kepala. "Pangeran Lucifer juga putraku, tapi dia merupakan pangeran kerajaan iblis. Apa kamu lupa hal tersebut?"
"Tuanku, bukan itu maksud ...," Istrinya berusaha memberikan alibi, tetapi satu kedipan mata mengunci bibir wanita itu agar tetap diam.
"Gerbang cahaya memang bisa menjadi jalan pulang untukmu kembali ke alam manusia. Aku tahu segala sesuatu yang terjadi di istana. Seorang ibu mencurahkan emosi sebagai bentuk keluh kesahmu, lalu seorang putra berusaha mewujudkan impian terakhir sang ibu. Bukankah ini yang sebenarnya terjadi?
"Aku membebaskanmu dari penjara bawah tanah agar hutang budi ku terhadap Simbah bisa terbayarkan. Sudah ku katakan sejak awal di hari kamu meminta seorang raja iblis untuk menikah denganmu bahwa hubungan kita dimulai dari sebuah kesepakatan. Apakah kamu melupakan siapa dirimu selama ini?
Andai saja Ela mau berkata jujur padanya, ia bisa saja memberikan kesempatan pada wanita itu untuk melihat keluarganya yang ada di dunia manusia. Akan tetapi dengan cara yang menyakiti kepercayaan hati, sang istri berhasil mendirikan benteng pertama di antara ia dan Pangeran Lucifer. Sejatinya Ela sudah bukan bagian dari alam manusia karena jiwa tidak lagi dikandung badan.
Hanya saja ingatan masa lampau masih terpatri jelas sehingga seringkali mengganggu caranya bertindak dengan keinginan hati yang menggebu-gebu ingin kembali ke dunia manusia. Sementara di sisi lain, pangeran Lucifer tidak memahami perbedaan dari setiap elemen yang bisa dijadikan sebagai sandaran atau sekedar batu loncatan.
Ela terdiam menundukkan pandangan. Ia sadar dirinya salah dan jelas tidak bisa membenarkan apa yang dianggapnya sebagai rasa rindu keluarga. Benar yang dikatakan Gael, bahwa ego masih menguasi sisa energi dari raga manusianya. Sepintas ingatan kembali datang menyapa membasuh rasa yang kian tenggelam dalam kegelapan.
"Pulangkan aku kembali ke dunia manusia!" Seru seorang gadis dengan penampilan tak karuan setelah terbebas dari ruang penjara bawah tanah yang dihuni ratusan makhluk penghukum.
__ADS_1
Raga mungkin manusia, tapi jiwa? Wanita itu belum sadar ketika pertama kali masuk ke penjara maka secara langsung jiwanya diambil makhluk penunggu penjara. Dimana itu berarti jiwa ia tidak hidup dan juga tidak mati di alam gaib. Akan tetapi jika kembali ke alam manusia, maka yang tersisa hanya raga tak bernyawa.
"Ela! Kamu sudah mati bagi keluarga dan jika tetap memaksa untuk kembali ke alam manusia. Tidak satupun kata bisa terucap karena yang kembali hanya ragamu saja. Apa kamu masih ingin dengan keputusan tersebut? Jika iya, aku akan melakukan malam ini juga." Gael menjelaskan tanpa ada yang ditutupi hingga membuat Ela jatuh tak bertulang.
Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Jika benar yang dikatakan oleh pemuda di depannya, maka apa harus bersikeras kembali ke dunia manusia? Bahkan ia tidak bisa merasakan keimanan di dalam hatinya. Hanya ingatan yang masih segar tanpa ada cacat sedikitpun. Di tengah kenyataan yang begitu pahit, tiba-tiba sebuah ide melintas.
"Menikahlah denganku sebagai ganti atas rasa sakit yang rakyatmu berikan hingga menghilangkan jiwa manusiaku. Apa kamu bersedia?" Ela menatap Gael begitu tajam tanpa seulas senyum, sedangkan yang ditatap terkesiap tak habis pikir dengan permintaannya.
Pernikahan yang seharusnya dilakukan oleh satu alam, tiba-tiba menjadi sebuah guncangan. Sebagai seorang raja, ia bisa memiliki dan melakukan apapun yang diinginkan tanpa harus meminta izin. Akan tetapi sebagai seorang kekasih, hatinya masih milik sang kekasih yang kini tak bisa lagi dia temui.
Satu permintaan bersambut penjelasan akan masa depan yang tidak bisa diubah lagi. Hari itu, seorang raja menjadikan tahanan sebagai pendamping hidup dan kehidupan baru dimulai dengan kesepakatan yang menjadi pondasi dasar hubungan pernikahan mereka. Seketika tubuh Ela kembali lemas mengingat kilas masa lalunya.
"Ela, bukankah kita berjuang bersama untuk belajar saling memahami satu sama lain? Jika aku ingin menjadikanmu sebagai tahanan istana, kamu tahu bahwa hal itu bisa dilakukan kapanpun dengan satu perintah dariku. Diantara kita ada Lucifer. Jangan sampai keputusan dan keinginan egois seorang manusia mengakibatkan kehancuran untuk dua alam.
"Pahamilah seberapa besar pengorbanan orang-orang terdahulu hingga gerbang cahaya bisa tertutup. Dua alam terpisahkan dan lihatlah! Kehidupan tidak melulu tentang karma yang harus dibayar dengan darah pembantaian. Ikhlaskan semua yang sudah terjadi, istriku." Gael merengkuh tubuh Ela hingga terbenam di dada bidangnya.
Rasa sesak di dada bukan karena ia gagal menjadi seorang raja, tetapi telah lalai menjaga perasaan sang istri. Sebagai seorang suami dan ayah, tentu kewajibannya lebih besar. Apa mungkin selama ini kurang memberikan kasih sayang pada kedua anggota keluarganya? Entahlah.
__ADS_1