Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 36: Lukisan Perjanjian


__ADS_3

Najwa mengikuti arahan bimbingan sosok misterius yang entah siapa. Mata yang terpejam seraya melepaskan semua beban pikiran. Semilir embusan angin kian terasa merayap menyentuh ujung jemarinya. Semerbak aroma bunga kemuning menyebar menyeruak memenuhi rongga dada.


Bahaya mengintai tetapi ia menyadari aura yang begitu kuat masih tertahan. Sementara di depan sana tampak ruangan yang dihuni beberapa anak pondok bersama seorang guru tengah berdo'a meminta keselamatan. Kabut yang menutupi kebenaran tak lagi menjadi penghalang.


Namun siluet cahaya putih melengkung menjadi perisai yang melindungi para penghuni pondok pesantren. Sayangnya gadis itu lupa bahwa dialah yang kini berada di luar rumah. Semribit angin kencang meriapkan kain penutup wajahnya.


Astaghfirullah, apalagi ini? Ya Allah, lindungilah hamba-Mu dari segala marabahaya yang tak tampak oleh mata. Bismillahirrahmanirrahim.~ucap hati Najwa seraya mengerjapkan mata.


Ia kembali menutup mata batinnya agar rasa panas yang menyebar di dada bisa ia redam. Rasa takut sebagai manusia pastilah ada hanya saja keyakinan hati tidak bisa digoyahkan. Gadis itu tahu benar bahwa para makhluk tidak bisa menyentuhnya karena ia memiliki batu permata merah milik Pangeran Lucifer.

__ADS_1


Pemikiran sederhana yang menjadi ketenangan tersendiri. Keberanian itu nyata, walau ia seorang diri bertahan di antara bising suara yang berusaha membujuk, merayu bahkan mengancamnya. Najwa membiarkan raganya menjadi tameng di tengah rumah utama yang berseberangan dengan bangunan pondok pesantren.


Sementara di tempat lain terdengar suara tawa nan menggelegar. Puas dengan hasil yang baru saja didapatkan. Bagaimana tidak? Para makhluk yang ia panggil berhasil menjalankan perintahnya. Kain hitam yang menjadi penutup sebuah barang tergeletak di atas meja depannya. Apalagi jika bukan lukisan perjanjian.


Rasa tak sabar membuatnya bergegas melepaskan ikatan kain hitam, lalu menyingkirkan penutup hingga memperlihatkan barang yang dia harapkan. Tatapan mata terpana dengan bibir diam menganga tak percaya. Tangannya reflek menyambar barang yang ia pikir lukisan, tapi ternyata hanya sebuah bingkai kosong.


Erangan tak terima menyulut amarah di hatinya, "S!4l4n! Berani sekali mempermainkan aku."


Awalnya ia bahagia karena lukisan perjanjian bisa didapatkan kembali. Akan tetapi akhir dari kesenangannya berubah menjadi dipermainkan. Para makhluk yang dikirim ternyata gagal melakukan perintah darinya. Padahal perintah itu sangatlah sederhana.

__ADS_1


Aura cahaya siluet ungu menyebar ketika ia mengibaskan tangan bersambut suara melengking yang bergema memenuhi ruangan. Teriakan dengan frekuensi berbeda hanya mampu didengar dirinya seorang. Tak ada yang bisa menyelamatkan para makhluk dari pengadilannya karena dialah sang penguasa.


Namun, apalah dayanya? Selama lukisan perjanjian tidak kembali ke tempat asalnya, maka ia tidak bisa menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Harapan hanya tinggal kenangan tanpa bisa diwujudkan. Sekali lagi harus melangkah mundur agar mencapai kemenangan yang sejati. Seperti takdir yang kian membatasi tujuan hidupnya.


Kerlipan cahaya lilin terus bergoyang menari mengikuti irama semilir angin. Semerbak aroma kian tercium menyengat tetapi tak membuatnya melepaskan para makhluk hingga satu embusan angin nan kencang seketika memadamkan semua lilin menyisakan kegelapan tak berujung. Tak ayal para makhluk melesat pergi meninggalkan penyiksaan sang pemanggil.


"Kita harus keluar sekarang sebelum mereka kembali lagi. Ayo!" ajak Abil begitu merasakan energi disekitar rumah lama kembali bersih. Meski masih menyisakan partiker makhluk tak kasat mata yang baru saja mengepung mereka berdua.


Gala menurut karena ia sendiri juga merasa semua sudah kembali normal. Kedua pria muda itu akhirnya keluar dari rumah lama, lalu berjalan cepat memutar area belakang rumah utama hingga mencapai teras samping rumah. Tiba-tiba terdengar suara barang jatuh dari dalam rumah, membuat Abil berlari agar bisa melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


Tatapan matanya terperangah melihat ruang tamu yang berantakan dengan banyaknya barang berserakan pecah tak karuan. Seketika ia mengedarkan pandangan tapi tidak ada siapapun di ruangan itu, "Ka bella, Ka Diana, Emir, Najwa! Kalian dimana?"


__ADS_2