
Keesokan harinya. Seluruh anggota keluarga dikumpulkan, Abil sudah duduk bersila di ruang keluarga dengan bibir yang komat-kamit dan mata terpejam. Semalaman pria muda itu tak berhenti melakukan ikhtiar demi keselamatan bersama.
Yah, ia membiarkan keluarga beristirahat dengan tenang. Sementara tugasnya terus dilakukan tanpa gangguan. Satu persatu anggota keluarga masuk ke ruang yang biasa dijadikan tempat ceramah si Abi Azzam, terkadang sang kakek. Mereka duduk membentuk lingkaran karena di ruang tersebut lebih mengutamakan kebersamaan sehingga area tengah digelar karpet bulu berwarna coklat.
"Najwa, bantu aku ambilkan kitab milik Ka Azzam yang ada di laci ketiga!" titah Abil, membuat gadis berhijab tunik biru muda beranjak dari tempat duduknya.
Gadis yang penurut walau memiliki rasa penasaran yang tinggi. Kitab diambilnya sesuai seperti yang dijabarkan sang paman, lalu diberikan pada pria muda yang masih enggan membuka matanya. Bagaimana caranya membaca kitab? Semua orang saling pandang karena tidak mengerti tujuan dari Abil melakukan semua itu.
Tiba-tiba semilir angin kencang menerobos masuk ke dalam ruangan. Derit jendela yang mengalihkan perhatian bersambut suara tawa cekikikan. Suara yang terdengar jauh, tapi wujudnya begitu dekat berusaha untuk mendekati salah satu manusia yang menjadi sasarannya.
"Coba saja sentuh mangsamu! Aku tidak akan menjadi penghalang." ujar Abil begitu jelas dan didengar semua orang yang mulai gelisah merasakan atmosfer berubah dingin hingga bulu kuduk meremang kedinginan.
Tawa yang mendekat, tetapi wujud menjauh. Seketika membuat Abil membuka mata, lalu menatap kitab yang ada di pangkuannya. "Lingsir wengi, pitu dalan nyambung nyowo. Sek tak ati-ati nganti bali marang abdimu."
Mantra pembuka kitab terucap mulus meluncur dari bibir begitu saja. Pria muda itu membuka halaman pertama yang bertuliskan batu permata sang penguasa. Sebuah kisah yang berakhir tragis untuk kedua alam berbeda. Kitab yang menceritakan perjuangan seorang pemuda pada masanya.
"De, itu kitab tulisan tangan Mas Azzam 'kan?" Bella memberanikan diri untuk bertanya, meski hati masih was-was dengan suasana sekitarnya.
__ADS_1
Sang adik hanya menganggukkan kepala karena fokusnya masih tertuju pada warna judul yang berbeda. Hitam bercampur merah, garis perpisahan dan juga semburat warna putih yang dihasilkan dari ekstrak bunga. Kenapa Ka Azzam melakukan itu? Pertanyaan sederhana yang langsung mendapat kepastian.
Apapun yang dilakukan kakak iparnya pasti ada maksud dan tujuan tertentu. Tak ingin salah membuat kesimpulan. Dibukanya halaman kedua, dimana sebuah sub judul agak menyita rasa penasaran. Sang pemilik raga tak bertuan. Apa maksud dari itu? Setiap kata yang tertuang dibacanya secara teliti dan juga menghayati.
Kesibukan Abil mempelajari kitab milik Azzam, berbanding terbalik dengan kegiatan yang dilakukan sang pemilik kitab. Dimana pria dua anak itu baru saja masuk ke sebuah ruang perawatan rumah sakit internasional. Tatapan matanya nanar, sendu, lemah tak mampu berkata walau ingin sekali mengungkapkan rasa rindu dan cinta untuk sang abi.
Pria hebat yang kini terbaring sakit dengan tubuh dipenuhi peralatan medis bahkan ada selang oksigen agar tetap bisa bernapas. Seorang anak selalu membutuhkan nasehat dan teguran ayah mereka. Apalagi ketika kehidupan hanya memberi satu kesempatan untuk hidup saling mengasihi. Tentu harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Tak ingin mengurangi rasa sedihnya, Azzam juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Baik, Sus." Jujur saja, ia bingung karena tiba-tiba mendapatkan kabar abi masuk rumah sakit, sedangkan alasan anfal masih menjadi tanda tanya.
Suasana lorong rumah sakit begitu teduh dengan beberapa pasien, dokter, dan staf lain yang berlalu lalang untuk memenuhi tanggung jawab masing-masing. Suster yang berjalan di depan sesekali menoleh ke belakang, hanya untuk memastikan Azzam tidak ketinggalan.
Ruangan ke enam dari lorong ke-tiga yang sudah dilewati keduanya. Pintu kaca dengan sebuah papan nama Dr. Omar Solaiman. Suster mengetuk pintu kaca itu seraya mengucapkan salam yang langsung dibalas salam dari dalam serta mempersilahkan keduanya masuk keruangan.
"Silahkan duduk! Sus, tolong periksa pasien lorong empat dan minta bantuan suster yang berjaga di sana." kata Dr. Omar Solaiman membuat si suster tak berlama-lama di ruangannya. Bukan mengusir, tapi pembicaraan kali ini akan keluar jalur dari ilmu kedokteran yang sudah dipelajarinya.
__ADS_1
Azzam duduk di kursi pasien, sedangkan Dr. Omar duduk di kursi kebanggaan yang kini memberi tanggung jawab sosial sebagai manusia yang mendapat kepercayaan masyarakat. Kedua pria itu saling pandang, wajah yang sama-sama tampan. Meski berbeda usia dan juga asal negara kelahiran. Tetap saja garis wajah memiliki kesamaan.
"Dok, kenapa diam? Apa yang sebenarnya terjadi pada Abi saya? Bisa tolong jelaskan!" Tatapan mata berharap bisa segera mendapatkan jawaban. Hatinya tak tahan menikmati duka yang menimpa sang ayah.
Selama ini, Abi menjadi pribadi yang tangguh bahkan jarang sekali sakit. Sekali atau dua kaki dan itupun hanya karena demam yang disebabkan kecapean aktivitas sebagai seorang ulama. Bagaimana seorang anak bisa tenang ketika mendapatkan kabar tentang pria hebat yang tiba-tiba jatuh anfal.
Dr. Omar mengeluarkan rekam medis pasiennya. Lalu menyodorkan map hijau muda ke depan Azzam. "Anda bisa berbahasa Arab dan fasih, maka laporan bisa mudah Anda pahami. Silahkan periksa!"
Obrolan kedua pria itu memang menggunakan bahasa Arab, tetapi demi kenyamanan pembaca. Maka si othoor mengalihkan bahasa sebagaimana mestinya.
Laporan dibuka, lalu dengan serius dipelajari. Baru membaca beberapa paragraph tapi hati langsung tertampar akan kenyataan yang selama ini disembunyikan oleh Abi. Bagaimana bisa, tubuh yang tampak baik, sehat dan bugar. Ternyata mengidap penyakit mematikan. Kenapa Abi menyembunyikan semua itu darinya?
Tak terasa air matanya jatuh membasahi kedua pipi. Rasa sesak di dada menelan pil kekecewaan yang mendalam. Kenapa di saat ia berpikir keluarga akan kembali bersama tanpa ada yang terpisah. Justru ujian datang dalam bentuk terkuaknya sebuah rahasia. Apalagi menurut hasil rekap medis, Abi harus dirawat intensif.
"Tuan, kami tidak bermaksud menyembunyikan semua ini dari keluarga pasien. Semua ini atas perjanjian yang telah disepakati bersama. Sebenarnya maksud dan tujuan kami ...," Dr. Omar berusaha menjelaskan situasi yang memang serba salah, tapi tangan Azzam menghentikannya.
Tatapan mata tak mampu lagi menampung luka atas kebenaran yang tersaji tanpa ada peringatan. Bukannya mengeluh pada takdir Illahi, tapi ia juga manusia biasa yang bisa kecewa, marah dan terluka. Apa orang-orang yang membuat perjanjian bisa bertanggung jawab atas tugasnya sebagai seorang putra yang lalai menjalankan kewajiban terhadap orang tua.
"Persiapkan pemindahan rumah sakit untuk Abi! Saya terima berapapun biaya yang harus ditanggung, tapi jangan lupa bahwa disini akulah putra dari pasien Anda." Jelas Azzam memberikan keputusan di kala kepalanya masih panas membara, membuat Dr. Omar menghela napas panjang.
__ADS_1