Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 35: Kosong? Menolong


__ADS_3

Suara panggilan yang terdengar dari luar seketika membuat Abil dan Gala beranjak dari tempat duduk mereka. Kedua pria muda itu tampak saling pandang satu sama lain. Apalagi pintu rumah lama yang hanya terkunci dengan satu batang kayu pengganjal mulai bergoyang akibat dorongan sesuatu dari luar sana.


Anehnya dari lubang bawah pintu tidak ada bayangan apapun. Jika benar ada orang di luar sana, bukankah seharusnya ada pantulan siluet refleksi cahaya? Lalu kenapa tetap kosong? Terpaan semilir angin yang menerpa bersambut suara bising tetapi suara yang terdengar seperti langkah kaki yang berjalan memutari rumah.


Perasaan kedua pria muda itu tidak enak hingga hening datang menyapa. Gala menyambar kerisnya, sedangkan Abil terpaksa membuka mata batinnya agar bisa mengantisipasi keadaan yang kemungkinan saja bisa memburuk. Meskipun begitu, ia tak berniat menggunakan ilmu pemisah jiwa karena terlalu berbahaya.


Perlahan memejamkan mata seraya menghembuskan napas dalam-dalam tanpa mengikat perasaan. Bibir tak hentinya melantunkan ayat suci Al-Quran, "Gala! Mereka terlalu banyak, tapi tetap tidak bisa menembus perisai rumah ini. Apa semua karena lukisan itu?"


"Entahlah, rasanya tak pasti hanya saja aroma ini bukan dari persembahan nyawa. Jujur saja, aku baru mencium aroma sebusuk ini tapi ada sisa semerbak bunga kemuning." tutur Gala meyakinkan Abil bahwa ia memang tidak tahu para makhluk yang ada di luar sana.


Kesunyian yang nyata semakin senyap, tapi udara di dalam ruangan perlahan mulai menipis. Apa yang terjadi? Abil masih bisa mendengar penjelasan Gala hanya saja ia disibukkan menghalau semribit mantra penghancur perisai. Di luar saja tidak ada wujud nyata, melainkan partikel bayangan dengan wujud tak enak dipandang.


Para makhluk kiriman seperti kepulan asap yang meleleh berusaha untuk masuk ke dalam rumah lama. Sayangnya rumah tersebut selalu digunakan untuk kebaikan dan meditasi untuk menambah ilmu serta meningkatkan keimanan. Situasi Abil dan Gala sudah terjebak. Jika membuka pintu, maka mempersilahkan para makhluk untuk masuk.


Namun suasana berbeda terjadi dirumah utama. Dimana Najwa meminta seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang ibadah. Gadis itu tahu, jika sang paman tengah mengalami masalah pelik. Maka ia sengaja membantu dengan cara mengaji bersama-sama membaca surat Al Ikhlas secara khusyuk.


Gangguan makhluk tak kasat masa yang berusaha menerjang perisai rumah lama perlahan mulai mereda, tapi tiba-tiba ... Dari arah pondok pesantren terdengar kericuhan yang teramat jelas mengetuk gendang telinga, membuat Bella merasakan kecemasan seketika. Sentuhan lembut tangan sang sahabat berusaha menguatkan nya.


"Emir, jangan hentikan ngajinya! Najwa izin pergi ke pondok, tapi tolong tidak satupun keluar dari ruang ibadah." Najwa beranjak dari tempat duduknya setelah menutup Al Quran, lalu ia bergegas turun ke lantai lorong rumah depan ruang ibadah.

__ADS_1


Panggilan sang bunda diabaikannya. Gadis itu tidak pergi begitu saja. Ia mengambil air suci yang selalu tersedia di beberapa titik ruangan, lalu mengibaskan sapu lidi mini yang ada di wadah air suci. Kepercayaan pada Allah SWT selalu diutamakan tetapi sebagai seorang hamba yang diberikan kelebihan.


Ia tahu bahwa air suci bisa menjadi garis pembatas agar terhindar dari gangguan makhluk gaib. Gadis itu sadar di dalam rumahnya ada barang yang seharusnya tidak disimpan. Siapa yang menyimpan? Sudah pasti sang paman karena pria muda satu itu memiliki sesuatu yang tidak ia tahu.


"Assalamu'alaikum, Wawa pamit dulu." Gadis itu berjalan cepat. Meski sang bunda berusaha menghentikannya, tapi masih ada Diana yang sigap menahan tangan sang ibu.


Bagaimanapun Diana lebih paham dengan semua tindakan Najwa. Ia cukup mengerti bahwa semua yang terjadi saling berkaitan satu sama lain. Apalagi sebelum pindah ke ruang ibadah, sang putri sahabat dengan jelas mengatakan mereka harus membantu Abil dan temannya agar bisa terbebas dari jebakan para makhluk tak kasat mata.


Sementara Najwa menahan aura dari dalam tubuhnya. Rasa panas dingin yang kian menyeruak menyatu seakan detak jantung dipaksakan untuk berhenti. Sesak napas tapi ia sadar masih dalam keadaan baik-baik saja. Apa yang terjadi padanya? Jujur saja tidak tahu hanya saja hati yakin melangkahkan kaki meninggalkan rumah utama.


Langit nan cerah mendadak tertutup arak awan nan gelap bersambut kilatan cahaya terang dengan suara menggelegar. Perubahan cuaca yang signifikan. Langkah kakinya terus berjalan maju menuju pondok pesantren dimana jeritan bercampur rasa khawatir terus saling bersahutan seakan tidak tahu harus melakukan apa.


Tatapan mata menelisik menatap ruangan anak-anak yang seharusnya tengah mendengarkan tausiyah salah satu guru dari pondok pesantren. Akan tetapi, ruangan itu kosong. Bagaimana bisa? Padahal suara yang terdengar begitu nyata, lalu apa yang terjadi? Kenapa ia tidak bisa melihat apapun?


"Astagfirullah, ilusi macam apa ini?" gumam Najwa dengan rasa penasaran dan tak paham akan situasi yang benar-benar tidak masuk akal.


Di tengah rasa bingung, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Sensasi dingin bak kutub utara terasa menyentuh bahunya, "Siapa kamu? Apa maumu?"


Hening tanpa jawaban, tapi aroma mawar yang semerbak menusuk hidungnya. Makhluk tak kasat mata jenis apa yang mendatanginya? Untuk pertama kalinya, aroma berbeda dan berhasil menyentuh raga yang notabene panas untuk di dekati para makhluk.

__ADS_1


Batu permata di dalam jantungnya merupakan perisai yang bisa menjauhkan ia dari makhluk tak kasat mata. Bagaimana bisa? Itu semua karena hanya serpihan kecil dan terbebas dari energi para makhluk gaib. Meski begitu, tetap saja ia menulis incaran para makhluk demi mendapatkan kekuatan yang lebih.


"Pergilah! Aku tidak ingin melukai bangsamu, jika tidak mengusik manusia." pinta Najwa setelah beberapa saat ikut terdiam memahami esensi partikel yang datang menemuinya.


Aroma mawar yang kian mendekat menyadarkan Najwa bahwa sosok di belakangnya enggan meninggalkan dia seorang diri. Akan tetapi apa alasan makhluk itu? Pertanyaan demi pertanyaan berubah menjadi rasa penasaran hingga sensasi dingin menyentuh lembut wajah membimbing gadis itu agar memejamkan mata.


"Mereka ada, tapi kabut bayangan jiwa menutupinya. Lihatlah dengan mata batinmu! Percayalah, kamu bisa melihat kebenarannya." Suara bisikan lembut yang terdengar begitu jelas walau semakin menjauh bersama hilangnya sensasi dingin.


.


.


.


...Bunga Kemuning...


Menurut hasil pencarian melalui mbah google. Bunga Kemuning sebaiknya jangan di tanam di area rumah karena bisa menjadi sarang lelembut. Makhluk tak kasat mata yang pasti tak diinginkan menganggu keluarga kita.


__ADS_1


__ADS_2