
Bayangan itu perlahan menjauh. Sekilas gerakan tangan yang berayun tak sengaja menunjukkan wujud aslinya. Kulit putih nan kekar dengan cincin emas putih di jari manis. Abil hanya menyimpan bukti di dalam memori ingatannya dan tetap menemani sang kakak ipar.
Sementara di lorong bangunan ruang staff seseorang tengah menikmati rasa sakit yang terasa menghantam dada. Seakan ada yang sengaja mengirim guna-guna. Ia tidak menyadari adanya beberapa makhluk yang bergelayut mempersulit niat pelariannya.
Sorot cahaya memantulkan bayangan yang tampak jelas di dinding. Lirikan mata terperanjat begitu melihat hasil dari bayangannya sendiri. Tangan panjang dari sosok yang duduk di pundak terus memukul dada. Satu sosok lain dengan ekor panjang bergelayut manja memeluk kaki kanannya.
Sosok lain juga mengikuti setiap langkah kakinya. Sosok dengan tubuh tinggi besar yang siap meremukkan tubuh manusianya. Bayangan itu tampak nyata meski hanya berwarna hitam tanpa wujud nyata. Akal sehat yang tersisa berusaha mengembalikan kesadarannya meski semua terasa nyata.
Anehnya dari pantulan cermin yang menempel di lemari penyimpanan barang di sudut ruangan. Tidak ada kebenaran yang tampak bisa dipercaya. Apa yang terjadi padanya? Kenapa tubuh semakin terasa berat bahkan rasa sesak kian menyulitkannya untuk bernapas.
Orang itu berusaha untuk melepaskan diri. Sayangnya semakin berjalan maju mendekati pintu keluar. Justru langkah kakinya semakin berat. Apa yang harus dilakukan? Rasanya benar-benar tidak bisa berkutik tapi tiba-tiba ia mengingat serbuk abu yang tersimpan di saku celana.
Tanpa basa-basi diambilnya sebuah kantong mirip teh celup, lalu menyobek bungkusan tipis itu dengan kuku tajamnya dan tanpa perhitungan ia memejamkan mata. Kemudian mengayunkan tangan menyebarkan abu sehingga mengenai para makhluk tak kasat mata yang seketika mengerang kesakitan karena kepanasan.
__ADS_1
Suara jeritan nan melengking terdengar begitu memekakkan telinga membuat orang itu berlari secepat mungkin meninggalkan tempat aneh yang baru saja menyulitkan hidupnya. Ia yang berlari tanpa menoleh kesana kemari dan tidak menyadari tatapan tanya seorang pria dari arah rumah utama.
"Ka Gala! Kenapa berdiri di depan pintu? Masuklah!" Emir yang baru keluar berniat untuk memanggil Abi dan pamannya untuk pulang, tapi ia tak sengaja melihat keberadaan Gala yang sendirian.
Pria muda yang berusaha untuk bersikap normal itu berbalik menoleh ke arah Emir dan tak lupa menyunggingkan seulas senyum hangat. Meski menyimpan banyak rasa penasaran dan tanya tanpa jawaban, ia tak ingin menambah masalah yang ada di keluarga tersebut. Apalagi situasi masih dalam keadaan berduka.
"Sebenarnya aku ingin bertemu Abil tapi barusan ku lihat ada yang lewat. Gak taunya cuma angin. Emir, apa Abil ada di dalam?" tanya Gala dengan penjelasan yang membuat Emir berpikir keras.
Bagaimana tidak bingung? Jika sikap, ucapan serta gestur tubuh saling bertolak belakang. Apa ada sesuatu yang diketahui Ka Gala? Jika iya, kenapa tidak berterus terang saja. Yah setidaknya akan mempermudah merangkai peristiwa andai terjadi sesuatu di luar dugaan. Akan tetapi pemikiran orang dewasa dan anak-anak itu bisa slalu sama.
Azzam dan Abil berhenti di depan Gala dan Emir. Tatapan mata tanya membuat sang pemuda mengatakan apa yang tengah terjadi. Sejurus Azzam mengamati garis wajah Gala yang terlihat tampan tetapi memiliki aura berbeda. Jarak berdiri satu setengah meter saja ia bisa merasakan kehangatan dari tubuh sang teman adik iparnya.
"Keturunan klan Mangku Jiwa. Apa kabarnya tetua?" Azzam bertanya tanpa basa-basi mencari tahu identitas Gala. Pada dasarnya energi pria satu itu sudah menunjukkan jati diri tanpa harus dipertanyakan lagi, sayangnya Gala terkejut mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
Dipegangnya pundak sang kakak tanpa berniat mengakhiri apapun, tetapi mereka diluar rumah dan itu bukanlah baik untuk dilihat oleh orang lain. "Kita masuk saja! Apalagi malam semakin larut, Ka Bella pasti sudah menunggu di dalam."
"Benar kata Ka Abil. Bunda kan nyuruh aku buat panggil kalian supaya bisa makan malam. Apalagi Ka Najwa malah diam mengurung diri di kamar sejak sore." jelas Emir tanpa berlebihan dengan rasa khawatir mengingat kakaknya.
Azzam bergegas masuk ke dalam rumah. Perasaannya mendadak tidak enak. Entah apa yang terjadi pada Najwa karena ia sendiri terlalu larut dalam kesedihan, sedangkan Abil, Gala dan Emir menyusul ikut berjalan cepat. Langkah kaki terhenti di depan kamar dengan pintu tertutup.
"Mas, aku panggil Najwa sejak tadi tapi anak itu tidak menyahut dan pintu dikunci dari dalam. Tolong lakuin sesuatu." pinta Bella memelas menahan rasa takutnya, membuat Azzam mengkode Abil dan Gala untuk mendobrak pintu kamar Najwa.
Ketiga pria dengan tubuh kekar bekerjasama melakukan ancang-ancang, lalu satu gerakan secara bersama-sama menghantam pintu kayu yang didesain cukup kokoh. Sehingga mereka melakukannya secara berulang-ulang tetapi tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh dari dalam kamar Emir.
Suara itu bahkan terdengar lebih keras dari dobrakan pintu yang mereka lakukan. Secara perlahan derit pintu kamar terbuka mengubah suasana seketika menegang. Azzam menarik tangan Bella membuat sang istri beralih berdiri di belakangnya. Abil juga dengan cepat mengubah posisinya berdiri di depan Emir.
Semilir angin menyebarkan hawa dingin menyergap keberanian yang tersisa. Hati yang was-was kian bersitegang melihat sesuatu yang tampak begitu jelas di depan mata. Dimana di depan sana. Tepatnya di dalam kamar Emir yang gelap sesosok bayangan hilir mudik berjalan cepat seperti sibuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dipahami.
__ADS_1
"Abi, dia yang biasa mengganggu Ka Wawa di sekolah." celetuk Emir tanpa bisa mengendalikan diri menahan memberitahukan apa yang diketahuinya kepada sang ayah tercinta.