
Kesejahteraan untuk rakyat yang menempati alam gaib. Justru berbanding terbalik dengan kehidupan di dunia nyata. Dimana Abil mengajak kedua keponakannya untuk ikut ke makam nenek mereka. Meski tanah makam hanyalah tanah tanpa jasad, tetap saja di atas namakan sebagai makan mendiang Ibu Sulastri.
Kelopak mawar merah, putih bercampur kantil, dan tlasih yang merupakan paket kembang untuk berziarah sudah menjadi taburan menutupi tanah gundukan yang ada di tengah kelima manusia dengan iringan do'a untuk mendiang. Abil yang memimpin doa kali ini dengan suara merdu nan bergema terbawa sepoi angin.
"Aamiin," ucap serempak semua orang, lalu meraupkan kedua tangan membasuh wajah masing-masing.
Abil, Bella, Emir, Najwa dan tamu tak terduga yang tengah berkunjung ke Jakarta dengan niat lain akhirnya ikut ziarah tersebut yaitu Diana. Sang sahabat Bella yang katanya kini tengah berbadan dua dan ngidam ingin tinggal bersama keluarga Azzam selama beberapa hari.
Entah bagaimana cara mendapatkan izin dari sang suaminya, tapi kedatangan wanita itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Bella yang sangat merindukan kebersamaan mereka. Yah, ternyata harapannya bersambut baik dengan si jabang bayi yang akan menjadi calon keponakan.
"Ka, sebaiknya kita bergegas pergi dari makam." Abil melihat langit yang mendadak mendung menandakan sebentar lagi akan turun hujan, "Kita tidak pulang dulu, tapi ke cafe temanku. Ada yang harus diurus, tidak papa 'kan?"
"Tak apa, Ka Abil, tapi traktir es boba ya." ujar Emir tanpa sungkan, remaja satu itu langsung dekat dengan sang paman tunggal.
Najwa hanya bisa menghela napas pelan akan tingkah Emir yang selalu to the point. Seperti yang dikatakan Abil. Mereka beriringan meninggalkan makam Ibu Sulastri. Terutama untuk Diana, tempat tersebut tidak baik. Bagaimanapun wanita itu yang kini menjadi bumil memiliki riwayat memiliki mata batin.
Entah suatu saat nanti akan kembali lagi atau tidak kelebihannya itu, karena apa yang ditakdirkan untuk menjadi milik seseorang, maka akan tetap meski dunia sudah jungkir balik. Kelima insan masuk ke dalam mobil sedan Civil yang terparkir di depan warung si mbok penjual bunga. Lalu perlahan melaju berputar meninggalkan area pemakaman.
Jalanan batu yang tampak suram dengan perbatasan desa terdekat hanya berjarak satu kilometer. Abil sangat fokus dan membiarkan obrolan para ibu menemani perjalanan kali ini, sedangkan Emir memilih bersandar mendengarkan musik menggunakan earphones. Berbeda lagi dengan Najwa yang menatap ke luar jendela.
Gadis itu masih memikirkan langkah apa yang harus dilakukan esok. Hati gelisah dengan pikiran tak mau tenang. Ia tersudut, tapi sadar hanya karena keputusan yang bisa menjebak sang paman ke masalahnya. Semua berawal darinya, tapi kenapa justru keluarga yang menanggung? Bukankah itu salah?
__ADS_1
Perlahan ingatan menerawang masa depan. Gambaran-gambaran samar tampak mulai. Tanpa sadar tangannya mengepal menggenggam sabuk pengaman, membuat fokus Abil teralihkan. Sadar akan sesuatu yang tidak beres. Pria muda itu melantunkan syair yang sangat familiar di telinga sang keponakan.
Di pintu rahmat-Mu aku berdiri
Mengharap rahmat serta kasih
Meski bergelimang debu dosa
Berharap kepada-Mu senantiasa
Kini kuingin kembali
Kepada-Mu wahai Rabbul Izzati
Untuk sisa hidupku ini
Suara merdu membius menghantarkan kedamaian jiwa. Najwa menoleh ke samping kanannya, "MasyaAllah, suara paman bagusnya. Boleh ikut?"
Abil mengangguk mempersilahkan gadis itu mengikuti irama nada syair yang sedikit diubah lebih lembut dan pelan. Syair yang syarat akan makna menjadi teman perjalanan kali ini, bahkan Diana dan Bella ikut melantunkannya walau lirih. Sementara di tempat lain, Azzam baru saja selesai melakukan pekerjaan di luar pondok pesantren.
Pria itu memeriksa ponselnya yang ternyata memiliki beberapa notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab. "Astagfirullah, tumben Abi telepon sebanyak ini, ada apa ya?" Buru-buru ia menekan icon panggilan, kemudian menunggu hingga nada dering terhenti berganti suara sapaan salam dari seberang. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
__ADS_1
"Abi, apa semua baik?" Azzam bertanya dengan wajahnya yang serius, terlihat pria itu termenung mendengarkan jawaban dari seberang.
Ekspresi ketenangan perlahan memudar memucat menghilangkan rona merah di wajahnya. Jelas ada yang salah, tapi hanya dia yang tahu. Azzam bergegas meninggalkan kantor pertemuan, pria itu kembali masuk ke dalam mobil. Lalu mengetikkan sebuah pesan singkat yang ditujukan untuk istrinya, kemudian menyalakan mesin mobil.
Manusia selalu menjadi makhluk emosional. Keputusan yang berakhir tindakan, tak selamanya diambil dalam keadaan tenang. Justru seringkali waktu tidak memberi pilihan selain keputusan di saat itu juga. Begitulah yang dilakukan Azzam saat ini, dimana pria itu harus segera terbang meninggalkan Indonesia untuk menyelesaikan masalah di luar sana.
Satu pemikirannya adalah dirumah masih ada Abil yang bisa menjaga keluarga. Ia tahu, sang adik ipar sanggup menjadi peran pengganti ketika dirinya tidak ada di rumah. Sementara Bella yang terbiasa menyimpan ponsel di saku gamisnya masih tidak tahu akan keputusan sang suami yang mendadak.
"Wah, cafenya kekinian, Ka." Emir mengedarkan pandangan mata menelusuri setiap sudut cafe yang memang didesain indoor dengan tema mini garden home.
Tema yang mengusung tema impian negriku. Meja kaca yang menampilkan kolam ikan di bawah tempat mereka duduk dengan bantalan kain sebagai tempat ternyaman menyandarkan rasa lelah setelah melakukan aktifitas seharian. Memang sangat nyaman dan indah untuk dipandang.
Emir memilih meja paling sudut dengan view tambahan. Dimana mereka bisa melihat para bartender yang melakukan pertunjukan. Remaja itu begitu antusias, membuat ketiga wanita yang sudah terbiasa hanya bisa geleng kepala serempak. Sementara Abil langsung pergi melakukan pemesanan atas meja yang sudah dipilih sang keponakan.
Pria muda itu juga mengirim pesan pada teman lamanya yang merupakan owner dari cafe tersebut. Sayangnya, sang teman masih di luar tengah berbelanja untuk kebutuhan cafe, maka ia terpaksa menunggu konfirmasi ulang dan kembali berkumpul bersama keluarga. Waktu yang berlalu dinikmati tanpa ada ketegangan.
Satu jam kemudian, seorang pria dengan wajah yang tertutup masker hitam datang menghampiri meja keluarga Abil. Pria itu mengucapkan salam dengan sangat fasih seraya menangkupkan kedua tangan di dada sebagai salam perkenalan. Bella dan Diana saling pandang dengan tatapan keraguan. Entah kenapa suara itu terdengar tidak asing di telinga mereka.
"Ka, kenalkan. Gala Mahendra, owner cafe sekaligus teman kuliah ku saat di Kairo." Abil mengedipkan mata mengkode teman lamanya agar membuka masker agar sopan dengan orang yang lebih tua, "Bro, ini Ka Bella, Ka Diana. Dia Najwa dan Emir, keponakanku."
Komplit tanpa ada yang terlewat hingga masker hitam dilepaskan seketika Bella tersedak, begitu juga dengan Diana. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kedua wanita itu tampak begitu terkejut? bahkan seperti melihat bantu di siang bolong. Aneh dan nyata yang tidak bisa dipahami Abil. Akan tetapi ia tidak ingin ambil pusing saat ini.
__ADS_1
Gala mengulurkan tangan, tetapi Abil merangkul teman lamanya dengan harapan rindu diantara mereka terobati. "Aku ingin mengambil barangku sekarang. Apa kamu membawanya?" bisikannya hanya di dengar sang teman lama.