Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 18: Lucifer Albiana Gael


__ADS_3

Penuturan yang sangat polos dari putranya mengingatkan ia pada dunia manusia. Terkadang perasaan tak bisa berbohong karena cinta yang masih berdetak di hati tak luput dari insan di alam berbeda. Sesaat ingatannya kembali menyapa. Senyuman manis Delisa tetap setia terukir di benaknya.



Selain usapan kepala yang menghantarkan kasih sayang, Gael berharap setiap jiwa tersesat bisa kembali ke jalan yang benar. Termasuk dirinya yang merasa jauh dari jalan kebahagiaan. Keinginan macam apa itu? Ia sendiri tidak bisa menjabarkan. Semua tampak samar dengan tertutupnya ilusi kenyataan.



"Nak, semua makhluk memiliki garis takdir kehidupan masing-masing. Saat ini, mereka masih terpenjara di alam kita. Mungkin suatu saat nanti ada seseorang yang ada untuk membebaskan mereka tanpa mengubah aturan alam semesta. Ayo! Kita harus kembali ke Istana untuk ritual mu."



Tubuh mungil yang digendong terbang bersama angin yang berhembus menuju istana. Gael sengaja tidak menggunakan ilmu menghilang karena ingin sekalian memeriksa wilayah sekitar yang selama beberapa waktu tidak ia kunjungi. Dari atas dapat melihat pemandangan yang sedap meremang membuat bulu kuduk merinding. Jika sebagai manusia.



Namun, dia itu raja iblis yang sudah kebal melihat wujud hancur, tidak utuh atau hanya segenggam daging dengan roh peluruhan. Melalui mata tajamnya, dari setiap penjuru dapat terlihat hingga tatapan mata terhenti pada sekelebat bayangan merah yang terus memutari sebuah pohon di sisi selatan mendekati perbatasan gerbang dimensi.



"Ayah, si merah sudah melakukan itu selama sehari semalam. Apa dia berniat keluar dari pengawasan kerajaan?" tanya Pangeran Lucifer yang juga memberikan laporan terkini.



Putranya memang memiliki kemampuan yang hampir sama dengannya, tapi usia muda masih tidak memahami bahwa kelebihannya itu bisa menjadi dukungan terbesar di masa mendatang. Alih-alih berpikir aneh, Gael tetap kembali ke istana dan memerintahkan pengawal untuk memeriksa lebih ketat gerbang pintu dimensi di setiap arah mata angin.



Hari ini merupakan hari bersejarah untuk keluarga kerajaan iblis. Dimana putra pertama dari Raja dan Ratu Iblis akan melakukan ritual pertamanya, lalu diberikan gelar putra mahkota dengan hak seperempat dari kursi kepemimpinan. Jangan salah, karena meski mereka makhluk gaib. Tetap saja memiliki aturan alam yang harus dipatuhi semua penghuni alam lain.

__ADS_1



Istana iblis, kolam pemandian pemujaan. Para petinggi sudah berkumpul di ruangan tersebut, termasuk sang raja yang duduk di singgasananya. Suara gema barisan makhluk kepala kuda mengantarkan iringan kedatangan Pangeran Lucifer memasuki tempat ritual. Tubuh tinggi dengan wajah rupawan, tetapi rambut putih bak manusia albino.



Dialah Lucifer Albiana Gael. Putra pertama dan terakhir yang bisa menjadi penerus raja iblis saat ini, dan tentu memiliki dua sisi jiwa yang menjadi satu. Dimana raga yang melahirkan anak itu seorang manusia berjiwa makhluk gaib, sedangkan ayahnya murni dari bangsa iblis.



Entah bagaimana akan menyebut anak itu karena identitasnya saja tidak jelas. Rupa yang sejak lahir sebagai manusia, tapi raga itu memiliki dua jiwa yang menjadi satu. Siapapun pangeran kecil mereka, tetap saja anak itu keturunan dari raja yang sah. Maka semua makhluk segan dan menerima tanpa membuat pertikaian.



"Lucifer Albiana Gael! Silahkan masuk ke dalam kolam pemandian." panggil seorang dayang tertinggi seraya mengulurkan tangan kanan menyambut tangan sang pangeran.




Indahkah? Atau lebih mengerikan dari yang pernah mereka lihat. Tidak satupun makhluk di ruangan itu kuasa berlama-lama menikmati kilauan cahaya dari tubuh pangeran mereka kecuali raja sendiri. Dimana Raja Gael hanya tersenyum tipis menunggu proses penyucian yang masih berlangsung. Ritual berlangsung cukup lama.



Beberapa waktu telah berlalu. Semua makhluk beralih ke tempat aula istana. Dimana hujan bunga melati dengan harum cendana menyebar di seluruh penjuru istana. Suara dentingan rantai dengan langkah kaki pasti datang masuk melewati pintu utama. Sejak kepemimpinan Gael, peraturan lebih dimanusiawikan.



Didalam istana bahkan dilarang terbang, apalagi menghilang begitu saja. Rupa bukan manusia tapi tingkah laku diusahakan untuk memahami aturan yang sudah ditetapkan. Semua itu dilakukan demi kenyamanan semua makhluk. Kembali ke acara penobatan, Pangeran Lucifer Albiana Gael menatap wajah ayahnya penuh percaya diri.

__ADS_1



Anak itu datang dengan tubuh diborgol rantai kebebasan. Sejak dilahirkan hingga detik ini masih berhak untuk bermain sesuka hati, tapi setelah rantai di lepas. Maka pangeran harus mulai berlatih memimpin karena waktu tidak selalu berpihak pada kerajaan iblis atau sang raja sendiri. Apalagi di luar istana banyak bahaya yang mengintai.


Raja Gael bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan menuruni anak tangga. Kali ini hanya dia yang berhak menuntun sang putra menuju kursi singgasana, sedangkan istrinya masih tetap berada di atas menanti kedatangan mereka berdua. Keluarga yang harmonis di dunia gaib dan hal itu terjadi untuk pertama kalinya.


Senyum saling bersambut dengan kedua tangan saling menggenggam. Irama langkah kaki yang searah berjalan beriringan, satu langkah demi langkah menyusuri tempat keduanya berpijak. Wajah tampan keduanya tampak begitu kontras bagaikan pahatan lukisan dengan dunia sisi berbeda.


"Salam Ibu Ratu." ucap Pangeran Lucifer begitu tangannya terlepas dari genggaman tangan sang ayah.


Anak itu mendekati wanita cantik dengan penampilan yang menawan bak dewi rembulan. Diraihnya kedua tangan sang ibu, lalu diletakkan ke atas kepala, kemudian meminta doa restu untuk awal kehidupan yang baru. Moment itu menjadi titik balik kasih sayang yang masih harus diperhatikan.


Hati seorang ibu tidak mengenal makhluk dari mana. Manusiakah, siluman atau makhluk tak kasat mata lainnya. Ibu, tetaplah memiliki cinta kasih, rindu, khawatir dan doa terbaik untuk keturunan mereka. Begitupun Sang Ibu Ratu, istri dari Raja Iblis. Baginya Lucifer adalah putra terbaik yang siap untuk menerima tanggung jawab masa depan kerajaan.


"Selalu bijaksana, adil dan mengayomi sebagaimana Raja mengajarkannya padamu, Pangeran Lucifer. Tahta adalah tempat untuk menegakkan yang benar tanpa berpihak pada garis keturunan. Ketika keraguan datang, temukan jalan kembali pada rumah yang kau jadikan sandaran." petuah Ibu Ratu, membuat Pangeran tersenyum sumringah karena restu telah ia dapatkan.


Kini langkah kakinya dibimbing menduduki singgasana yang menjadi milik Raja. Ritual selanjutnya adalah ketetapan status yang hanya bisa diputuskan melalui ritual persembahan sepuluh nyawa para pelarian jiwa. Dimana itu berarti melanggar aturan baru istana.


Raja Gael menjentikkan jari sehingga sebuah mahkota bunga muncul di hadapannya. Mahkota dengan tujuh kuncup bunga berbeda warna yang sengaja dijadikan lambang kepemimpinan reformasi. Sebagai seorang raja, ia berharap sang putra bisa meneruskan perjuangan yang sudah dimulainya.


"Dengan ini, Aku nobatkan Pangeran Lucifer Albiana Gael menjadi putra mahkota kerajaan iblis. Di masa yang akan datang, dialah pewaris tunggal tempat para makhluk berpulang."


Penobatan disahkan dengan suara terompet yang bergema di seluruh alam gaib. Sayup-sayup pengumuman atas kesuksesan ritual pertama sang pangeran tak luput dari perbincangan para makhluk.


.


.


.

__ADS_1


...😳Lucifer Albiana Gael👑...



__ADS_2