Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 39: Kehilangan Orang Terkasih


__ADS_3

Omar menghela napas. Tangannya kembali menutup botol minum yang ia tawarkan kepada Azzam. Keras kepala yang sama seperti Abi. Bagaimana akan membujuk hati yang patah? Sadar benar bahwa kondisi tengah tak baik. Sekarang hanya bisa bersabar seraya mencoba untuk menjaga pria yang kini sudah dianggap sebagai kakak.


Hatinya ikut merasakan perih ketika pasien yang mengajarkan banyak hal tentang ilmu agama harus berpulang. Rasa sayangnya membawa ia ke negara Indonesia untuk mengikuti pemakaman jenazah Abi. Siapa yang tahu umur? Tak seorangpun karena menjadi misteri.


Suara sirine ambulans kian terdengar nyaring begitu memasuki sebuah gapura desa. Suasana di luar sana hanya ada hamparan sawah di sisi kanan dan kiri. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam sepertinya para penduduk tengah asyik bercengkrama di balik selimut menghalau hawa dingin yang menusuk.


"Pak, sebentar lagi sampai." lapor Si Supir tanpa basa-basi, membuat Azzam membuka kelopak matanya.


Pandangan pertama menatap kubah masjid yang memang bangunannya paling tinggi dibandingkan bangunan lain di area pondok pesantren. Sedih itu wajar 'kan? Ketika rasa sakit kehilangan tak bisa lagi terbendung tetapi masih harus disembunyikan. Rasa sesak di dada semakin merapuhkan jiwa.


Suara sirine terdengar begitu jelas memasuki halaman pondok pesantren seketika menyita perhatian orang-orang yang masih berjaga. Apalagi setelah apa yang terjadi pada siang hari. Abil meminta para lelaki dewasa untuk berjaga demi melindungi semua penghuni dan ia pun tak sungkan bergabung ronda.


Lantunan dzikir terus membasahi bibirnya, tetapi tatapan mata tak lepas dari benda bergerak yang melaju pelan hingga berhenti tepat di parkiran dekat taman tempat latihan anak-anak beladiri. Satu pertanyaannya terdiam di dalam kepala. Ia tak ingin berspekulasi apapun sampai melihat kakak iparnya turun dari dalam mobil ambulans.


"De, kenapa Mas Azzam sedih ya?" tanya lirih Pak Mahmud sang guru matematika, membuat Abil menggeleng kepala pelan.


Tak ingin mengikuti arus rasa penasaran. Abil beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan cepat menghampiri Azzam. Ia bisa melihat tatapan mata sendu, wajah lelah, bibir pucat sang kakak ipar. Hati mendadak merasa tak nyaman. Aroma kematian menyergap mengikat kesadarannya.


Setelah beberapa hari menghilang dengan alasan penting. Kenapa Azzam kembali seperti patung tak bernyawa? Dimana semangat seorang pria yang selalu menjadi idolanya itu? Apa yang terjadi hingga raga berjalan bagaikan robot tanpa emosi. Kesedihan yang begitu tergambar jelas.

__ADS_1


Satu hal pasti adalah sang kakak ipar tengah hancur. Tiba-tiba saja tubuh kekar yang biasanya tegap menjaga seluruh anggota keluarga. Kini lemah tak berdaya. Rasa sakit yang tak mampu diutarakan. Direngkuhnya tubuh sang kakak ke dalam dekapan. Sesak tak mampu menahan derai air mata yang terbendung.


Sensasi basah di pundak dibiarkan tanpa keluhan. Diam di tengah keheningan malam. Sekedar pelukan pelepas rasa yang terpendam berteman pilu tanpa kata. Semua samar hingga dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah brankar diturunkan dari dalam ambulans. Raga tertutup kain putih itu, siapa?


Semilir angin yang berhembus menerpa kain putih sehingga Abil melihat wajah Abi. Alam menyambut raga yang selama ini memajukan kesejahteraan para penghuni pondok pesantren. Sang pemimpin yang selalu menjadi teladan bagi sesama manusia. Abi seorang ulama dengan julukan ayah penyayang.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Tabahkan hatimu, Ka. Biarlah Allah menjaga Abi di sisi-Nya. Ikhlaskan agar beliau tenang di alam sana. Ayo! Kita harus beritahu yang lain. Kakak itu sandaran kami. Tetaplah kuat karena kakak tidak sendiri." Abil menyemangati sang kakak ipar, meski ia sendiri harus menahan diri untuk tetap tenang.


Abi memberikan cinta sebagai ayah yang akan selalu menjadi salah satu alasan ia bersyukur dalam hidupnya. Siapapun dia saat ini, maka tak luput dari pengaruh sang ayah angkat. Hubungan hati memang unik dan selalu memiliki ruang istimewa. Ia tak memungkiri masih berhutang balas budi sebagai seorang anak.


Berita meninggalnya Abi menyebar begitu cepat seperti semilir angin mengembuskan kesegaran. Waktu kian larut tapi tidak mengubah niat hati manusia. Orang-orang mulai berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Seluruh penghuni pondok gotong royong menyiapkan tempat untuk para pelayat.


Semribit aroma harum bunga menyebar ke seluruh penjuru membuat beberapa orang berbisik tak karuan arah. Semua tampak sunyi, tetapi tak mengurangi suasana khidmat para pelayat. Sementara keluarga inti tengah berkumpul di ruang keluarga. Bella menangis dipelukan Azzam. Najwa memeluk Emir yang ikut menangis, sedangkan Abil sibuk menyiapkan segalanya dibantu Dokter Omar.


Begitu juga ketika di area makam. Lantunan doa mengiringi hari kelam keluarga Azzam. Meninggalnya Abi menjadi pukulan telak untuk seluruh hati yang mencintai sang ulama. Tak heran banyak tangan yang ingin sekali bisa menyentuh keranda saat perjalanan menuju makam.


"Nak, ikhlaskan kepergian Abi mu. Beliau sudah tenang disisi Allah SWT. Lihatlah ke sekelilingmu! Mereka membutuhkan pemimpin untuk bangkit kembali. Percayalah semua yang terjadi adalah takdir Illahi." Pak Ustad Zaki membesarkan hati Azzam sebagai seorang ayah karena ia salah satu teman Abi.


Azzam hanya tersenyum tipis seraya mengangguk pelan. Abil yang berdiri di sisi kirinya selalu berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuh yang tak sanggup lagi untuk berdiri. Jika benar ia seorang pemimpin. Kenapa hati begitu kejam tak mau mengerti rasa kehilangan bagian dari kehidupan?

__ADS_1


Benar yang dikatakan Pak Ustad Zaki. Tatapan mata kerinduan penuh harapan terarah padanya, "Abil, minta orang-orang untuk datang ke pengajian nanti malam! Aku akan memikirkan segalanya terlebih dahulu."


"Mas, apa harus terburu-buru? Jangan paksakan hatimu ketika belum siap. Kita semua manusia yang memahami rasa sakit karena kehilangan orang terkasih. Bismillah, kamu bisa memulai segalanya dengan hati yang tenang." tutur Bella menasehati suaminya.


Istri mana yang ingin seorang suami melakukan tindakan gegabah? Ia tak mampu untuk berdiri diposisi Azzam tetapi kenyataannya sebelum duka hari ini. Rasa kehilangan sudah pernah dirasakannya. Seketika wajah sang ibu melintas menghampiri ingatan. Kini gilirannya menjadi kekuatan Azzam.


"Mari pulang! Kita ada untuk satu sama lain. Jangan lepaskan tanganku ketika hati jatuh tanpa sandaran karena kamu harus pulang berkeluh kesah pada rumahmu sendiri. Assalamualaikum, Abi. Bella pamit bersama Mas Azzam." lanjut Bella menggandeng lengan suaminya.


Satu per satu mulai meninggalkan pemakaman. Termasuk keluarga Azzam yang memilih berjalan kaki padahal jarak menuju pondok pesantren cukup jauh memakan waktu lima belas menit. Sinar mentari bersinar begitu indahnya menyambut pagi yang temaram. Kehangatan menyebar menghangatkan raga yang lelah.


.


.


.


...🍁Kehilangan 🍁...


Tanpa sadar derai air mata mengalir membasahi pipi.

__ADS_1


Rasa tak lagi sama seakan dunia runtuh.


Awan temaram tak mampu menahan sesak di dada.


__ADS_2