Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 33: Ternyataa...


__ADS_3

Rasa kasihan memang tertuju pada Gala, tapi temannya memiliki hal lain yang tidak bisa menembus dinding perisai. Apa yang dibawa pria itu? Tentu harus ditinggalkan di luar rumah, tapi sepertinya tidak memungkinkan ketika melihat reaksi wajahnya.


Abil duduk di anak tangga setelah menutup pintu rumah. Pria muda itu menatap Gala dengan tatapan nanar diselimuti keraguan. Bibir masih terbungkam menunggu jawaban sang teman. Satu kali saja ia berharap ada kejujuran yang akan mengubah keadaan.


Namun, itu hanya harapannya. Bagaimana dengan Gala? Apakah sepemikiran dan sehati dengannya? Atau datang hanya untuk mengambil lukisan mistis yang ada pada dia. Rasa penasaran semakin meningkat tetapi lebih dari itu, ia hanya berharap memiliki perdamaian di tengah rasa ragu.


"Apa kamu tidak bosan menatapku? Bisa gak, bantu aku bangun gitu," ujar Gala menatap Abil memelas, tapi yang ditatap masih diam tak bergeming.

__ADS_1


Sementara tubuhnya semakin terasa membara. Ia sadar bahwa bentrokan dari kekuatan yang bertolak belakang saling meremukkan dari dalam raga. Aliran darah yang mengalir di sudut bibir membuktikan pertarungan sesaat langsung memukulnya telak.


Sejujurnya, ia tidak tahu Abil berasal dari keluarga mana. Akan tetapi satu langkah kaki yang menyentuh perisai rumah sang teman, seketika menyadarkan mereka dari dua tempat berlawanan. Memang benar sama-sama manusia hanya saja tidak dengan identitas.


"Gala, apa kita harus duduk seperti ini sepanjang hari? Matahari mulai naik, bisa langsung katakan saja inti dari tujuanmu!" jawab Abil setelah merenung harus berbicara apa.


Ditahannya rasa sakit dari dalam, ia berusaha untuk duduk bersila. Lalu dikeluarkannya sesuatu dari balik punggung. Sinar matahari langsung menerpa memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. Apalagi ketika kepala sebuah keris ditarik keluar dari sarungnya.

__ADS_1


"Abil, Aku tidak bermaksud membohongimu tentang keluargaku. Semua itu karena demi keselamatan orang-orang terdekatku. Sekarang pasti kamu tahu apa alasannya ...,"


"Apa kalian sudah tidak waras? Bicara di tempat terbuka. Kenapa tidak sekalian pinjam toa masjid." Najwa datang tanpa permisi langsung menyela pengakuan Gala. Gadis itu harus bertindak begitu merasakan sesuatu yang buruk datang mengintai. "Paman, bawalah temanmu ke rumah lama kakek! Disana juga aman untuk kalian tanpa gangguan."


Rumah lama yang ada di belakang rumah utama. Sebuah gubuk dengan satu kamar, satu ruang tamu, satu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur. Rumah itu biasa digunakan para leluhur selama beberapa generasi untuk melakukan puasa.


Seperti badai yang siap menerjang. Abil melambaikan tangan mengajak Gala untuk ikut bersamanya, membuat sang teman kembali menyimpan keris sehingga cuaca kembali normal. Aneh karena kekuatan dari pengaruh senjata itu sangatlah luas.

__ADS_1


Rumah lama menjadi tempat yang disarankan Najwa. Abil bahkan tidak bertanya, kenapa keponakannya ingin mereka berbicara di tempat yang sudah lama tidak dihuni. Meskipun tidak kotor karena setiap dua hari sekali selalu dibersihkan oleh orang kepercayaan Abi.


"Assalamu'alaikum," ucap salam kedua pria itu serempak hingga saling pandang. Tidak ada tatapan benci karena mereka bukanlah musuh. Saat ini keadaan hanya agak canggung dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.


__ADS_2