Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 37: Cerita Singkat


__ADS_3

Suara panggilan familiar yang terdengar hingga ke ruang ibadah, membuat Bella, Diana dan Emir beranjak keluar. Ketiga insan itu bergegas menuju ke ruang tamu tetapi begitu muncul dari lorong mata mereka tercengang melihat ruangan bak kapal pecah menabrak karang di lautan.


"Syukurlah kalian selamat." Abil menghela napas lega begitu mendapati keluarganya baik-baik saja, hanya saja ada yang kurang. Ia ingat memiliki dua keponakan, lalu dimana satu keponakannya lagi?


Seakan mengerti tanya di pikiran sang adik. Bella memberitahukan bahwa Najwa pergi meninggalkan mereka karena suara gaduh di pondok pesantren. Sementara mereka diminta tetap di ruang ibadah untuk tetap mengaji. Hal itu membuat Abil langsung berlari keluar rumah dengan seribu langkah kilat.


Tanggung jawab utama menjaga serta melindungi Najwa dari gangguan makhluk gaib. Lihatlah kedatangan Gala menjadikannya lupa untuk tetap di sekitar sang keponakan. Tindakan yang ceroboh karena melupakan terror bukan ditujukan untuk dia seorang. Yah, ia lupa saat ini tinggal di Indonesia bersama keluarga.


"Diana, Aku harus menyusul Abil." ucap Bella seraya melepaskan tangan sahabatnya yang masih mencoba menahannya lagi.


Kali ini, ia tak ingin meninggalkan sang putri seorang diri. Ia sadar bahwa keluarga tengah mengalami masa yang sulit karena kehadiran para makhluk tak kasat mata, lagi. Langkah wanita itu berlari melupakan kakinya yang tanpa alas kaki menyusuri ruang tamu dengan cepat. Lalu melewati Gala tanpa menoleh pada pria muda satu itu.

__ADS_1


Kepergian Bella di susul Diana, Emir serta Gala. Mereka semua mengikuti Abil mencari Najwa tetapi di saat mencapai halaman pondok pesantren. Anak-anak sudah berkerumun bahkan Abil tengah memangku seorang remaja yang diyakini sebagai Najwa. Sontak saja langkah kaki seorang ibu melemas.


Rasa pengap di dada terasa begitu menyesakkan, "De, bawa Wawa ke rumah!"


Tanpa menjawab perintah sang kakak. Pria muda itu menggendong Najwa. Langkah kakinya pasti meninggalkan kerumunan diiringi seluruh anggota keluarga. Namun tidak dengan Gala. Dimana pria satu itu mencoba mencari informasi apa yang sudah terjadi karena semua kejadian harus dirangkai untuk disatukan.


Sebagai seorang keturunan klan Mangku Jiwa. Maka dia memiliki misi yang harus dituntaskan dan tanggung jawab melindungi orang-orang yang terjebak dengan perjanjian gaib. Bukan hanya itu saja, ia juga tidak bisa kembali ke tempat asalnya selama misi masih dianggap blum berhasil.


"Anehnya tidak satupun dari mereka bisa bersuara. Saya pikir itu karena reaksi dari rasa gugup. Sehingga saya mencoba untuk membantu dengan menuntun adzan tapi suara saya juga ikut hilang entah kemana. Apalagi tenggorokan terasa tercekat seperti ada yang menahan di dalam sini.


"Tidak sakit hanya saja mengganjal dan tidak bisa diapa-apakan sehingga semua anak menjadi histeris ketakutan. Saya masih berpikir positif dengan berniat menyalakan suara adzan dari audio di ponsel. Lagi dan lagi hal di luar logika kembali terjadi. Dimana sapuan angin menghempaskan ponsel dari atas meja.

__ADS_1


"Suara benda jatuh yang tidak seberapa tetapi ponsel hancur sampai tak berbentuk. Ketika saya amati seperti diinjak-injak sekuat tenaga. Padahal jarak antara meja dan lantai tidak lebih dari satu meter. Blum juga berpikir jernih. Hawa dingin menyusup membuat tubuh menegang.


"Suara bisikan terdengar begitu jelas bergema di ruangan tausiyah. Bisikan tak jelas tapi membuat bulu kuduk berdiri. Untuk pertama kalinya saya mengalami hal di luar nalar sejak mengajar di pondok pesantren. Lihatlah anak-anak masih trauma tetapi begitu mendapati Non Najwa jatuh pingsan tak sadarkan diri. Mereka bergegas mencoba menolong."


Si guru yang menjadi saksi kunci menceritakan seluruh kejadian secara rinci. Padahal tangannya saja masih gemetar merasa ketakutan. Gala tak ingin semakin memberikan tekanan dengan pertanyaan lanjut. Pria itu memilih pamit untuk kembali ke rumah sang sahabat.


Kali ini langkah kakinya tak ada yang menghalangi. Keris yang diam dibalik punggungnya bahkan tidak bereaksi seakan mulai mengenal lingkungan sekitar. Begitu mengucapkan salam, lalu masuk ke dalam rumah dimana pintu depan masih terbuka lebar.


"Emir, kenapa kamu sendiri?" tanya Gala menyentuh pundak si remaja yang tengah sibuk mengumpulkan pecahan vas bunga di dekat sofa.


Emir menoleh menengok melirik ke arahnya. Netra mata yang merah bergerak begitu cepat memutar seperti gasing. Seketika Gala terhuyung ke belakang menyadari wujud di depannya bukanlah seorang manusia. Tangan terasa dingin mencengkram tangannya.

__ADS_1


"Hi-hi-hi ... Mati ... Mati ...," ringkikan tawa mengerikan menusuk gendang telinga.


__ADS_2