
Pengakuan Emir mengalihkan perhatian Azzam. Ia bepikir keras sejak kapan putranya bisa melihat makhluk tak kasat mata atau hanya kebetulan saja? Sungguh di luar dugaan jika Emir memiliki kemampuan indra keenam yang seharusnya tidak dimiliki. Tak ingin larut dalam rasa penasaran di situasi menegangkan.
Sosok itu masih hilir mudik bahkan kegelapan di dalam kamar dengan sorot sinar temaram dari luar semakin mengubah energi disekitar mereka. Semilir angin berembus menyebarkan aroma amis bercampur bau busuk yang langsung membuat Diana mual.
"Dia itu, salah satu dayang iblis yang biasanya diperintahkan untuk meneror para pelaku perjanjian. Beberapa orang memanfaatkan sebagai alat untuk menjatuhkan musuh karena diyakini bisa memberikan pengaruh tidak baik bagi yang diganggu." tutur Diana seraya menutup hidung mencoba bertahan dengan situasi yang ada.
Tatapan mata menelisik menatap sahabatnya. "Diana, apa mata batinmu sudah kembali?" tanyanya dengan harapan besar karena ia tahu sang sahabat memiliki jiwa penolong yang bisa membantu orang lain.
Sayangnya Diana menggelengkan kepala pelan. "Makhluk Cakil suka menampakkan diri tanpa pilih kasih. Siapapun yang mengirimnya kemari, maka berniat untuk menakuti kita semua."
Abil menyimak penjelasan Diana. Begitu juga dengan Bella, Gala, Azzam dan Emir. Makhluk Cakil yang berwujud buto ijo ketika murka tetapi berubah sebagai bayangan hitam tak berwajah disaat memulai aksinya. Makhluk satu itu memiliki sifat suka bercanda.
Namun jangan salah paham karena sifat akan mengikuti perintah dari tuannya. Sang pemilik dayang yang selalu memberikan makan pada makhluk tersebut. Disisi lain ada beberapa hal yang harus diketahui yakni permainan hidup dan mati yang menjadi awal teror.
"Seingatku, makhluk itu tidak bisa masuk kecuali ada yang mengundang. Salah satu di antara kita pasti memanggilnya datang." celetuk Gala setelah mengingat sejarah dari Makhluk Cakil.
__ADS_1
Obrolan yang kian memanas tak mengubah suasana bahkan mereka lupa tujuan utama berkumpul di sana. Perlahan memejamkan mata seraya berdzikir, suara desiran angin kian terasa. Arah embusan yang berasal dari dapur dengan aroma anyir bercampur bau busuk.
"Abil, periksa dapur!" titah Azzam setelah menemukan petunjuk melalui mata batinnya.
Pria itu menyadari rumah mulai tidak aman karena berulang kali dimasuki para makhluk tak kasat mata. Siapa yang memulai? Ia sendiri masih tidak tahu bahkan benar-benar heran akan situasi yang mendadak seperti terkurung di alam lain. Padahal jelas masih di dunia nyata.
"Bunda, kenapa?" tanya Emir yang melihat wajah Bella pucat pasi seperti melihat sesuatu yang tidak diinginkan.
Gelengan kepala pelan berusaha menahan tubuh yang kian. melemah. Entah apa yang terjadi tapi semakin mendengar suara rapalan mantra yang Gala ucapkan. Hatinya merasa tidak tenang seakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tiba-tiba ia mengingat satu nama yang langsung menyentak kesadarannya.
"Wawa!" Seru Bella mengejutkan semua orang, membuat Gala menghentikan rapalan mantra dan Azzam ikut tersentak telah lupa tentang putrinya.
__ADS_1
Satu suara teriakan menghadirkan rasa takut. Azzam bergegas kembali mendobrak pintu di temani Gala. Kedua pria itu berusaha begitu keras hingga dorongan ketiga pintu berhasil terbuka. Kamar dengan cahaya terang benderang menyilaukan mata menyambut kehadiran mereka.
"Mas, cahayanya terlalu terang." ucap Bella seketika melangkah mundur. Ia mencoba menyesuaikan pandangan matanya terlebih dahulu, sedangkan Azzam memilih memejamkan mata.
Pria itu kembali memusatkan diri mengandalkan mata batinnya. Ruangan kamar tampak berantakan dengan barang-barang yang berserakan. Siapa yang mengobrak-abrik kamar putrinya? Satu langkah berjalan memasuki kamar seraya mengedarkan pandangan dengan tangan terangkat ke atas.
Satu kode darinya agar yang lain tidak ikut masuk. Sementara ia kembali melangkahkan kaki. Langkah demi langkah maju melewati garis batas merah yang ada di lantai. Pembatas yang tidak disadari Azzam hingga tiba-tiba pintu bergerak begitu cepat menutup sendiri.
Suara bantingan seketika mengejutkan semua orang yang panik melihat hal diluar dugaan. Bella mencoba memanggil suaminya seraya menggedor pintu, Gala ikut membantu tetapi sayang tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Seketika kembali hening dengan keraguan di hati.
"Ka! Coba lihat apa yang kutemukan di dapur." Abil datang membawa sebuah kendi dari tanah liat. Pria muda itu belum tahu apa yang barusan terjadi. "Kalian kenapa?"
__ADS_1