
Tubuh pria muda itu terhuyung ke belakang karena menghindari pisau yang melesat terbang ke arahnya. Beruntung ia memiliki skill keseimbangan fisik yang mumpuni sehingga bisa bergerak cepat dan tetap berdiri dikakinya sendiri. Akan tetapi, ia heran bagaimana bisa keluarga mengalami kerasukan?
Rumah selalu dalam benteng perlindungan. Bukankah iya? Kenapa jadi meragukan hal tersebut. Lalu apa maksud dari urusan para makhluk? Saat ini, tanggung jawabnya adalah mendampingi perjalanan Najwa. Mana mungkin ia tidak ikut campur, tapi dari energi para makhluk menjelaskan asal usul yang berbeda.
Mereka tidak merasuki tubuh anggota keluarga, melainkan menggunakan sihir pengendali pikiran. Sontak saja Abil semakin gencar melantunkan doa yang bisa mengusir energi positif serta berusaha mencari media penghubung semua orang dengan si dalang. Langkah kaki berjalan mendekati area pintu dapur. Tiba-tiba ...
Suara benda berjatuhan datang dari arah belakang. Pria muda itu masih bertahan tanpa mengabaikan hingga Najwa yang memiliki sedikit kesadaran berusaha menunjuk keranjang di atas meja dapur. Bibir gadis itu kelu dengan tubuh tak bisa digerakkan. Remuk redam seperti tak bertulang.
"Bismillahirrahmanirrahim," Abil meraih tubuh Najwa, lalu mengusap wajah gadis itu diiringi do'a. Kemudian menyambar garam yang bisa menetralisir guna-guna.
Perjuangannya tak begitu dipersulit karena para makhluk hanya berupa sisa energi untuk menjadi pengalihan perhatian. "Alhamdulillah, kalian bisa kembali sadar." Tubuh lemah dengan wajah bingung menatapnya nanar. "Apa yang kalian rasakan?"
"De, kenapa kita ada disini?" Bella menatap dirinya sendiri yang duduk di depan bahan makanan, tapi apa maksud dari kekosongan pikirannya.
Diana juga merasakan hal sama, tapi tidak dengan Emir. Remaja satu itu seperti tersentak akan sesuatu, "Lukisan itu!" Emir beranjak dari tempat duduknya, lalu berlari meninggalkan dapur, membuat Abil menyusul tanpa berpikir ulang.
__ADS_1
Sesuatu pasti telah terjadi dan keponakannya tahu alasan dibalik peristiwa barusan. Langkah kaki yang beriringan masuk ke dalam kamar. Emir mencari lukisan yang tiba-tiba menarik seluruh kesadarannya. Lukisan rumah penginapan yang terletak di tepi danau, tapi setelah memeriksa setiap sudut ruangan. Tidak ada barang yang ia cari.
"Emir!" Abil memegang pundak sang keponakan hingga membuat remaja itu berbalik menghadap ke arahnya. "Apa yang kamu cari sampai seperti hilang akal begini? Katakan padaku dengan jujur!"
Disingkirkannya tangan sang paman dari pundak, lalu dengan sadar mengumpulkan keberanian dan ingin mengutarakan apa yang menjadi pemikirannya. "...,"
Hah? Kenapa suaraku tidak bisa keluar?~batin Emir seraya mencoba lagi untuk mengungkapkan bahwa ia tengah mencari si lukisan pemandangan.
Sekali lagi mengatakan tanpa ada beban dengan suara lantang, tapi tidak satu katapun berhasil di dengar Abil. Sang paman bergegas memeriksa tenggorokan dan suhu tubuh remaja itu. Benar saja ada yang tidak beres, ternyata si dalang telah membatasi gerak remaja satu itu dengan tujuan keberadaannya tidak bisa ditemukan.
Ketika ia sibuk mengunci tubuh Emir agar tidak meronta dengan proses ruqyah yang langsung dilakukannya. Najwa, Bella dan Diana ikut masuk ke dalam kamar remaja itu, tatapan mata semua orang terpana. Kondisi Emir tidaklah baik, dimana anak itu meronta kesakitan karena do'a yang dipanjatkan sang paman.
Proses cukup panjang bahkan Abil harus membuka mata batin lebih lama dari biasanya. Setelah satu jam bergulat dengan energi tak kasat mata. Pria muda itu menggendong Emir masuk ke kamar mandi, dan tak lupa meminta Najwa menyiapkan air suci untuk proses pemandian adiknya.
Ketika pikiran sudah dikendalikan makhluk lain, maka raga tidak bisa diajak kompromi lagi. Bath up yang berisi air penuh seketika luber begitu tubuh Emir dimasukkan. Abil masih mengunci tubuh keponakannya dan tidak sedetikpun menghentikan bacaan ayat suci Al-Quran selama proses masih berlangsung.
__ADS_1
"Paman, lepasin. Sakit, panas. Paman kok tega? Lepas ... Hi-hi-hi ...," suara tawa cekikikan yang menyadarkan tubuh remajanya masih dikuasai oleh makhluk lain.
Abil tak menggubris, tapi ia memasukkan tangan bergelang liontin ke dalam bath up. Cahaya berpendar menyilaukan mata manusia biasa. Warna air mulai mengalami perubahan dari bening menjadi keruh kehitaman, aroma busuk kian menyebar menyesakkan dada. Rupanya si dalang tak segan-segan untuk meremukkan jiwa Emir dari dalam, benar-benar tidak punya hati.
Apa kamu berpikir ilmumu sehebat itu? Bukan salahku untuk melenyapkan ilmu sihir terkutuk yang menjadi belenggu keluargaku. Enyah kau dari sini!~tegas Abil membatin sebagai pesan telepati untuk si dalang, kemudian guci tanah liat pemberian Najwa disiramkan ke atas ubun-ubun Emir.
Remaja itu meronta kesakitan selama beberapa saat. Tubuhnya kejang tak karuan hingga mengalami muntah darah yang cukup mengejutkan. Rasa sakit yang dirasakan sang adik, membuat Najwa menangis dalam diam. Dzikir terus menerus terucap dari bibirnya tanpa rasa lelah.
"Najwa, minta Bunda dan Ka Diana untuk tetap di kamar. Tolong jaga mereka untuk sementara waktu!" Abil masih membantu Emir agar semua energi negatif dan guna-guna bisa keluar dari dalam tubuh remaja itu melalui muntahan darah yang juga berisi rambut dan paku.
Manusia selalu memiliki cara untuk melakukan hal diluar nalar, tapi hanya beberapa orang yang bisa menghentikan kemusyrikan. Seperti yang terjadi pada Emir. Remaja itu menjadi sasaran utama karena dialah perantara sesungguhnya. Apapun yang diketahui sang keponakan, maka itulah jawaban utama dari apa yang barusan terjadi.
Dua puluh menit kemudian. Emir sudah kembali tenang tapi masih sibuk berdzikir dan ditemani Abil yang stay tanpa berniat meninggalkan remaja itu. Sepertinya ada yang terlupakan dari semua yang telah terjadi, tapi apa? Tiba-tiba ia ingat tentang para makhluk yang menjadi penghuni liontinnya.
Assalamu'alaikum, kembalilah kalian ke rumah! Aku memaafkan tindakan kali ini, tapi tidak untuk selanjutnya.~ucap batinnya mengizinkan para teman makhluk agar kembali ke liontinnya.
__ADS_1
Keberhasilan Abil menyelamatkan Emir dari sihir yang mematikan, membuat si dalang berteriak histeris tak terima atas kekalahannya. Sajen di atas meja berhamburan tak karuan menjadi pusat pelampiasannya. "Bed3bah! Beraninya bocah ingusan itu merusak rencana ku. Tunggu dan lihat pembalasan dariku."