Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 20: Di Ruangan Owner


__ADS_3

Bisikan itu hanya berbalas deheman ringan seraya melepaskan pelukan sang teman lama, tapi tatapan mata Bella dan Diana masih terpatri padanya. Kedua wanita itu tampak kebingungan seakan baru saja melihat orang yang bangkit dari kubur. Ia tidak tahu apa yang terjadi hanya saja merasa aneh dan canggung.


"Maaf, apa wajahku ada masalah?" tanya Gala yang membuat Abil fokus pada keluarganya, benar saja kedua kakak perempuannya masih bengong.


Najwa ikut memperhatikan perilaku bundanya, "Bunda! Istighfar," disentuhnya lengan wanita yang duduk di sebelah kanannya.


Ada yang aneh, tapi apa? Abil mencoba untuk mencerna situasi yang ada hingga ia ikut berpikir keras. Sayangnya tidak ada yang bisa dijadikan jawaban atas sikap kedua kakaknya. Di tengah situasi yang serba salah, tiba-tiba datang tiga remaja yang berhenti di depan meja mereka.


"Eh, itu si putri iblis 'kan?" Gadis rambut sepinggang menunjuk ke arah Najwa, membuat kedua teman yang lain mengiyakan.


Bella masih memiliki sedikit kesadaran, ia merasa bahwa ketiga remaja itu sangatlah tidak sopan. Apalagi dengan lantang memanggil putrinya dengan sebutan putri iblis. Hati terasa sesak menahan emosi yang sangat menyakitkan bersambut hawa panas menyebar memenuhi rongga dada.


"Barusan, kalian panggil putriku apa??" tanya Bella mencoba untuk tetap tenang, walau hatinya bagaikan hujan bara api yang menenggelamkan rasa.


Seorang remaja dengan hijab putih polos langsung menundukkan kepala merasa ia telah melakukan kesalahan. "Maafkan teman saya, Bu. Kami hanya bercanda, permisi. Guy's cepetan minta maaf."


Satu gadis sudah sadar akan kesalahannya, tapi tidak dengan dua teman remaja yang lain. Dimana justru menatap Najwa dengan tatapan sinis, meremehkan. Beruntung Gala mengubah situasi dengan mempersilahkan pelanggan cafenya untuk memilih tempat duduk. Kemudian ia mengajak seluruh keluarga Abil pindah ke ruangannya sendiri.

__ADS_1


Ruangan dengan ukuran sedang sekitar enam meter kali lima meter. Sofa putih dengan meja kaca ukuran satu meter, di sudut ruangan yang menghadap ke luar jendela ada kursi dan meja kerja sang owner. Cukup elegant dengan sentuhan warna putih. Gala membiarkan keluarga Abil masuk melihat dunia kerjanya.


"Terima kasih, Bro." ucap Abil benar-benar bersyukur memiliki teman seperti Gala yang pengertian tanpa diminta.


Gala hanya menganggukkan kepala, lalu pergi keruangan lain untuk mengambil barang milik Abil. Semenjak berpisah karena study mereka berbeda tahun, teman satu fakultasnya itu memang menitipkan sesuatu untuk dijaga. Jika disimpan di rumah, maka pasti tidak aman karena ia memiliki anak asuh yang masih suka bermain-main ke seluruh penjuru ruangan.


Kehidupan memang memberikan harta untuk memudahkannya sebagai orang tua asuh bagi anak-anak yang kurang mampu. Mereka yang tidur di jalanan tanpa mengenyam bangku sekolah. Apa gunanya kekayaan? Ketika pundi-pundi uang hanya untuk dihamburkan tanpa amal yang bisa menjadi nikmat untuk orang lain.


Sejatinya kehidupan itu sederhana, tapi manusialah yang memperumit keadaan dengan apa? Suudzon. Yah, manusia terkadang lupa untuk berpikir apapun yang terjadi sudah digariskan bahkan termasuk nasib kita saat ini. Kenyataan tidak akan berubah karena semua itu menjadi kebenaran.


Bella termenung mencerna ucapan dewasa sang putri. Ia lupa, Najwa bukan anak kecil lagi yang terbiasa menangis lari ke pangkuannya. Dulu ketika ia harus menjalani fase terakhir pelepasan dari pengaruh dunia gaib, sang putri tidak bisa hidup tanpanya. Sementara kini?


"Ka, Najwa tidak sendiri. Ada kita 'kan? Jangan sedih, dan minumlah! Demi kami," sambung Abil berusaha mengubah suasana hati sang kakak, padahal ia sendiri juga merasakan sakit hati.


Siapa sih yang terima mendengar keluarga sendiri di panggil putri iblis. Jelas Najwa anak dari Azzam dan Bella dari pernikahan sah dimata agama dan negara. Kemudian hak darimana? Sehingga orang-orang memberi panggilan tak layak yang menjadi tumpukan luka menyiksa batin.


Diana juga menyemangati sahabatnya agar tetap tegar dengan keadaan yang saat ini mengguncang hati dan pikiran. Tanpa mereka sadari Emir justru serius menatap sebuah lukisan pemandangan alam yang tergantung di dinding belakang kursi kerja teman pamannya. Goresan tinta yang kontras dengan warna perpaduan merah, putih, biru dan kuning.

__ADS_1


Sebuah rumah penginapan yang berada di tepi danau. Indah dan teduh untuk dipandangi. Dimanakah tempat itu berasal? Pikirannya menjauh dari kenyataan di sekitar hingga sentuhan pundak mengagetkan menyentak kesadaran yang dipaksa kembali tanpa persetujuan. Tatapan mata semua orang tertuju padanya.


"Emir, apa yang kamu pikirkan?" tanya Najwa menatap mata sang adik dengan tatapan intens.


Bola mata dengan warna keabu-abuan milik Emir terlihat ada kilatan merah, walau hanya sekejap mata. Apa dia tidak salah lihat? Apa maksud dari tanda tersebut? Pikirannya kembali tak tenang, ia takut terjadi sesuatu pada adiknya sehingga memberikan kode pada Abil untuk melihat apa yang terjadi.


Bukan tanpa sebab, ketika ia mempercayai sang paman. Seseorang yang bisa memisahkan jiwa dari raga, maka orang itu bisa membaca pikiran dari orang-orang disekitarnya. Hal itu bisa dibuktikan sejak perdebatan malam pertama yang membuat keyakinan hati semakin pasti. Sadar akan kelebihan sang paman, merupakan sebuah anugrah.


"Emir baik, Ka. Lagian kenapa kalian natap aku begitu? Aku cuma kagum dengan lukisan di sana," Emir mengalihkan perhatiannya dengan tangan terulur menunjukkan lukisan yang dia lihat sebelumnya, tapi bola mata pemuda itu hampir copot karena dinding di depan sana kosong.


Jangankan lukisan, satu tanda paku pun tidak ada. Dinding putih mulus, jika demikian bagaimana ia melihat lukisan tadi? Keanehan yang terjadi membuat Abil dan Najwa saling pandang. Ada yang salah tapi tidak bisa dijelaskan, apalagi di bahas di depan kedua wanita yang ada di dekat mereka.


Kebingungan Emir menjelaskan arti berbeda, bahkan pemuda itu sibuk menggaruk kepala yang tidak gatal. Pertanyaan demi pertanyaan berubah menjadi keraguan. Apa matanya mulai rabun atau bermasalah? Haruskah ia periksa ke dokter? Jujur saja ia tidak habis pikir dengan fenomena yang baru dialaminya.


"Abil! Bisa bantu aku pindahin barang?" Gala yang datang tanpa permisi mengejutkan semua orang, untung saja semua jantung masih aman. "He-he-he, maaf. Aku terlalu panik karena harus segera mengirim barang ke pelanggan."


Bunda Bella menganggukkan kepala paham, lalu mengizinkan adiknya untuk membantu sang teman. Tidak enak juga karena sudah merepotkan. Ketiga wanita itu kembali duduk bersama, dan Emir juga diajak fokus mengulang hapalan.

__ADS_1


__ADS_2