
Suasana kerajaan tampak berbeda. Kali ini Gael terpaksa harus menyidang istri dan putranya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk keadilan yang memang sama rata baik untuk keluarga kerajaan atau rakyat. Selama ini hal itu diterapkan agar tidak ada perbedaan status. Sehingga ia menjadi raja yang disegani.
Namun, di dunia manusia. Masih banyak keserakahan dan ketamakan yang tidak bisa dihapus begitu saja. Kenyataannya kisah keluarga Bella bukanlah satu-satunya. Justru kisah itu satu di antara ribuan kisah mistis lainnya. Saat ini, kemarin atau esok. Takdir selalu mewakili hukum alam.
"Pangeran Lucifer, dipersilahkan mengatakan pembelaannya sebagai hak seorang rakyat di hadapan sang raja." seru si pembawa sidang yang memandu jalannya pengadilan di kerajaan iblis.
Anak kecil berambut putih pemilik mata sendu berdiri dari tempatnya bersimpuh memberikan penghormatan pada penguasa alam gaib yang tertinggi. Di ruangan yang dipenuhi perwakilan rakyat, ia juga menjadi rakyat biasa ketika mahkota tidak diatas kepalanya.
"Yang Mulia Raja, saya memang telah melakukan kesalahan dengan menggunakan mantra leluhur untuk berusaha membuka gerbang cahaya. Jadi, saya persilahkan untuk menjatuhkan hukuman sesuai dengan hukum kerajaan yang berlaku." Lucifer mengucapkan setiap kata tanpa ada keraguan, membuat perwakilan rakyat saling berbisik.
Siapa sangka ketegasan sang putra juga patut dihargai karena tidak mengalihkan kesalahan pada makhluk lain. Apalagi mengatasi bahwa ia melakukan tindakan pemberontakan demi memenuhi keinginan seorang ibu. Salut akan kepercayaan diri Lucifer, tapi hukuman harus tetap ditegakkan.
Lucifer kembali duduk bersimpuh dengan kepala tegak tanpa menundukkan pandangan. Apa yang ada padanya tak luput dari ajaran sang raja. Dimana prinsip harus dipastikan yaitu berani berbuat, maka siap bertanggung jawab. Sungguh hal itu diterapkan sebagai dasar identitasnya.
Sementara sidang masih berlanjut dengan pembelaan yang dilakukan oleh Ela. Sang istri yang beranjak dari tempat duduk terpisah menundukkan pandangan karena bagaimanapun ia tetap separuh bagian dari raga manusia yang memiliki daya tarik menarik perhatian makhluk gaib.
__ADS_1
"Yang Mulia Raja, Saya mengakui telah meminta Pangeran Lucifer untuk membuka gerbang cahaya karena keinginan egois sebagai seorang manusia yang merindukan rumah lamanya. Selain itu, Saya juga meminta ampunan agar Pangeran Lucifer dibebaskan dari hukuman yang seharusnya diterima olehku saja." tutur Ela tanpa ingin memperpanjang sidang karena ia hanya berharap keselamatan untuk sang putra.
Entah hukuman apa yang akan diberikan oleh Raja Iblis. Apapun itu pasti sudah dipertimbangkan dengan matang dan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan para pelaku yang menyalahi aturan kerajaan. Meski berat, keputusan harus ditegakkan. Gael mengibaskan tangan, membuat semua orang seketika hening diam tak berkutik.
Aura dingin menyebar ke seluruh penjuru ruangan dengan wajah serius. Tatapan mata tajam dan bibirnya bungkam tengah memikirkan hukuman yang tepat untuk kedua anggota keluarganya. Para makhluk juga menanti akhir dari sidang kali ini.
Lima menit kemudian. Tiba-tiba Gael menjentikkan jemari mengubah seluruh atap aula kerajaan menjadi akar pohon yang bergelantungan menjuntai ke bawah. Dimana beberapa akar menjadi pengikat hubungan kain dengan warna yang berbeda-beda.
Ada warna hitam, putih, kuning dan juga merah. Tentu kita ingat bahwa akar setiap perjanjian dengan para makhluk gaib menjadi alasan penyatuan dua alam. Meski secara garis besar gerbang cahaya tidak bisa dibuka. Seorang raja bisa keluar masuk ke dalam dua alam berbeda tanpa harus melewati jalan utama.
"Hukuman kedua dari seorang ayah pada putranya juga akan dijatuhkan saat ini juga. Dimana Pangeran Lucifer harus menyelamatkan salah satu keluarga di antara ratusan keluarga yang terjebak dengan perjanjian gaib." Gael mengulurkan tangannya, "Silahkan pilih keluarga yang akan kamu bantu, Anakku."
Hukuman kedua seperti semilir angin segar untuk Pangeran Lucifer. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya akan mempercayai tugas sebesar itu, setelah dirinya melakukan kesalahan. Ia sadar bahwa hukuman tersebut ditujukan agar hati sang ibu bisa lega dan mau mengikhlaskan dunia masa lalu sebagai kenangan.
Namun Gael tidak menjelaskan arti dari setiap warna kain yang terikat di akar yang menjuntai. Dibiarkannya sang putra untuk memilih sesuai kata hati dan pikiran. Sehingga tangan anak itu memotong sebuah akar dengan pita berwarna hitam separuh kemerahan. Dua warna yang bercampur dan suatu saat nanti akan berubah menjadi merah seutuhnya.
__ADS_1
Gael berjalan meninggalkan tahta, lalu mendekati Lucifer yang sibuk menatap kain di tangan kanannya. Hawa panas dengan rasa tusukan seakan menyapa telapak tangan. Ada yang aneh dengan kain tersebut hingga tiba-tiba terbang melayang di udara karena ulah sang ayah.
"Luka di tangan dengan titik tiga belas adalah tanda arah jalan dimana tujuan keluarga yang membutuhkan bantuan menunggu kedatanganmu. Setiap titik akan menghilang ketika satu fase telah terselesaikan tanpa ada jejak. Ingatlah bahwa kehadiranmu di dunia manusia sementara.
"Bukan untuk menetap, apalagi berniat menjadi sekutu makhluk lain yang bisa mempengaruhi kekuatanmu. Setiap jalan pasti memiliki rintangan, percayalah pada dirimu sendiri bahwa setiap fase memiliki tujuan memperbaiki diri. Pergilah! Jangan lupa meminta restu orang-tua dan rakyatmu."
Gael mengubah kain yang terbang berubah menjadi sebuah kalung berliontin bulat sesuai warna hitam dan merah. "Ini sebagai kunci kembali ke alammu. Tidak seorangpun bisa melepaskan dari leher putraku. Kemarilah! Biar ayah pasangkan."
Sedih, haru dengan kepedulian sang ayah. Ia tahu betapa sulitnya berpisah dengan orang-orang terkasih. Padahal selama ini selalu bersama. Akan tetapi semua sudah terjadi, maka sudah tugasnya untuk memenuhi tanggung jawab atas kesalahan yang sudah diperbuat.
Para makhluk tidak mengeluh dengan keputusan sidang karena raja mereka memberikan keadilan tanpa pilih kasih. Sebenarnya bisa saja menghapus peraturan istana dan menyelamatkan istri dan anak dari hukuman. Siapa yang akan memberontak? Rakyat hanya bisa berusaha mendukung penguasanya.
Hari terakhir Pangeran Lucifer di istana, membuat Ela dan Gael memanjakan sang putra setelah sidang dibubarkan. Keluarga itu tampak harmonis bahkan begitu serasi bagaikan mekarnya bunga teratai di kolam nan jernih. Di sela obrolan yang dipenuhi canda tawa, tiba-tiba sebuah kotak kayu muncul di hadapan mereka bertiga.
Gael membuka kotak itu, lalu mengeluarkan sepasang cincin yang berbeda ukuran. Satu diserahkan pada Ela, sedangkan satunya lagi untuk Lucifer. "Cincin leluhur yang bisa menguatkan ikatan batin kalian. Dulu ini milikku dan ibu, sekarang menjadi milik kalian. Jika salah satu mengalami masalah, maka akan terasa dingin mengitari jemari yang mengenakan cincin tersebut."
__ADS_1
"Pakailah!" Gael membantu Ela memakaikan cincin ke jari Lucifer sebagai bentuk ikatan orang tua dan anak. Sementara sang putra memasangkan cincin seorang diri hingga melingkar di jari manis Ela. "Sekarang kalian menjadi satu ikatan. Cincin ini tidak bisa direbut atau dimanipulasi oleh makhluk sekuat apapun kecuali ...,"