
Suasana pondok pesantren tampak ramai tak seperti biasanya. Para pelayat masih hilir mudik mengucapkan bela sungkawa pada pihak keluarga Azzam. Wajah orang-orang sendu tak menyangka sang ulama berpulang begitu cepat di usia enam puluh empat tahun.
Padahal jika dilihat secara fisik, maka beliau seorang pria yang menjaga kesehatan bahkan tidak kalah dengan anak zaman sekarang. Akan tetapi umur, siapa yang bisa tahu sampai kapan jantung tetap berdetak? Tak seorangpun selain Yang Maha Esa. Takdir bagi setiap insan di dunia fana.
Waktu berlalu begitu cepat. Sinar mentari berlari menuju peraduan menyambut rembulan tuk menemani malam nan temaram. Seperti yang Azzam katakan bahwa malam akan ada pertemuan khusus setelah acara pengajian tetapi melihat situasi dengan kondisi tubuh melemah.
Sontak saja Bella meminta Abil menemani suaminya untuk momen kali ini karena ia tidak bisa ikut. Pengajian yang diadakan di masjid pondok pesantren dipenuhi oleh jemaat beserta anak pondok pesantren. Tak luput kedatangan warga setempat yang ikut membantu berlangsungnya acara tersebut.
Sembari menunggu waktu acara, Azzam duduk di sebuah ruangan khusus yang biasa digunakan oleh Abi untuk berdiskusi bersama para pengurus pondok pesantren. Pria itu menatap nanar kursi kebanggaan sang ayah. Rasa kehilangan menyergap hati, ia berusaha sekuat tenaga untuk ikhlas. Meski teramat sulit.
"Ka, Aku tidak tahu harus berkata apa lagi." Abil menepuk pundak Azzam. Ia berharap kakaknya mau melepaskan belenggu kesedihan dari dalam lubuk hati. "Apa kakak yakin dengan keputusan ...,"
Apa yang harus dilanjutkan? Bahkan kerongkongan terasa begitu kering. Rasa lapar tak lagi menyapa. Satu yang menjadi kecemasan hatinya adalah kerapuhan sang kakak ipar. Seorang pria yang biasa dewasa dan tegar sekuat baja. Hari ini mematung tak berdaya dengan sorot mata rapuh tanpa sandaran.
Ia tahu bahwa Abi sumber semangat Azzam. Di dunia ini orang yang paling dicintai sang kakak adalah ayahnya. Tidaklah aneh ketika rasa kehilangan menjadi kehancuran emosi yang nyata. Namun bagaimanapun tidak ada yang bisa dilakukan selain ikhlas melepaskan karena semua sudah menjadi suratan takdir.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mas." Suara salam bersambut ketukan pintu mengalihkan perhatian Abil.
Pria muda itu menoleh seraya membalas salam hangat, lalu mempersilahkan tamu tak diundang masuk ke dalam ruangan. Seorang pria paruh baya dengan penampilan klimis yang berjalan menghampirinya menyebarkan aroma parfum semribit. Terlalu menyengat seakan satu botol dihabiskan sekali pakai.
"Silahkan duduk, Pak." Abil mengulurkan tangan mempersilahkan si bapak duduk di hadapannya. "Bapak ini, siapa? Lalu ada perlu apa?"
Lirikan mata tertuju pada Azzam, tetapi tubuh terpaksa duduk tanpa ingin menimbulkan kecurigaan karena niat hatinya hanya ia yang boleh tahu. "Maaf karena menggangu waktu istirahat, Mas Azzam dan Nak Abil. Sebenarnya bapak datang kemari ingin mengucapkan bela sungkawa secara langsung."
"Terima kasih, Pak." balas Abil seraya menangkup kedua tangan, membuat si bapak mengangguk pelan. Lirikan mata tersentak karena waktu yang ditunggu ternyata sudah lewat dua menit. "Ka Azzam, semua orang pasti sudah menunggu. Apa kita berangkat sekarang?"
"Pak, mari kita berpindah ke masjid." ajak Abil tanpa sungkan.
Pria muda itu tak menyadari perubahan wajah si bapak yang enggan pergi dari tempat duduknya. Mau, tak mau, akhirnya ketiga pria beda usia itu beranjak meninggalkan ruangan khusus dengan langkah kaki menyusuri lorong bangunan yang biasa dijadikan kantor para pengurus dan pengajar hingga keluar halaman.
Dimana dari masjid masih memperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran nan merdu yang dibacakan oleh anak pondok pesantren secara bergiliran untuk mengisi waktu. Semua itu hanya dengan satu harapan, rasa kehilangan menjadi doa baik untuk sang ulama. Cinta yang besar di hati setiap anak merupakan hasil dari perbuatan semasa hidup.
__ADS_1
"Abi!" Emir setengah berlari menghampiri Azzam. Pemuda itu tampak lesu tetapi masih berusaha terlihat baik-baik saja. "Emir mau ikut ke masjid."
"Mari! Bagaimana keadaan Bunda dan yang lain?" tanya Azzam. Ia tak ingin mengurangi komunikasi yang sudah di bangun sejak lama.
Kehadiran Emir menyadarkan ia akan tanggung jawab seorang ayah. Jika dulu Abi bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuknya. Lalu kenapa ia terpuruk? Lelah boleh saja, tapi setiap insan yang rapuh harus bisa bangkit lagi. Kehidupan tidak memberi secara percuma karena di setiap fase hanya tentang pembelajaran nyata.
Seulas senyum menghiasi wajah yang tak mampu menyembunyikan sorot mata kehilangan. "Alhamdulillah baik, Abi. Kita semua ada untuk satu sama lain. Kenapa harus takut? Lihat saja nanti, kakek pasti bangga keluarganya tetap saling menjaga."
"Keponakanku benar-benar pintar dan bijak. Paman salut dengan mu, Emir. Bukan begitu, Ka Azzam?" tanya Abil seraya mengusap kepala Emir yang kini berdiri di antara ia dan kakak iparnya.
Obrolan sesaat mengalihkan duka di hati. Ketiga pria beda usia itu bahkan tidak menyadari langkah kaki yang berjalan menjauhkan diri dari mereka. Langkah yang kembali masuk ke dalam lorong bangunan dengan tatapan cemas waspada. Suasana memang sepi dan itu menguntungkan untuknya.
"Syukurlah tidak dikunci," Si Bapak membuka pintu ruangan khusus, lalu bergegas masuk ke dalam. Ia langsung menutup pintu agar tidak ada yang melihat keberadaannya.
Tatapan mata meneliti setiap sudut ruangan. Apapun yang akan dilakukannya harus sangat teliti, maka lebih baik mengingat setiap posisi barang sebelum mulai melakukan penggeledahan. Dihapalnya semua tanpa terkecuali. Setelah dirasa tidak ada yang terlewat, ia mulai mengeksekusi tugasnya.
__ADS_1
Deretan buku, kitab, berkas menjadi sasaran pertama. Rasa tak sabar membuatnya menggeledah secara acak membuat ruangan itu sedikit berantakan. Pencarian selama beberapa waktu tanpa mempedulikan suara dari masjid. "Hais, sebenarnya dimana barang yang aku cari? Pasti pria tua itu menyimpan di ruang ini 'kan?"