
Doa telah dipanjatkan, bagaimana akan menghentikan? Abil mendengar permintaan Najwa tetapi aura yang mengelilingi mushola begitu kuat. Saat ini yang berjuang bukan hanya ia seorang tetapi juga kawan tak kasat mata di luar sana. Jika doa dihentikan maka yang terkena serangan justru mereka.
Jika hanya ada dia, tidak masalah tetapi di dalam mushola juga ada kedua keponakan dan juga Cinta. Mana mungkin untuk bertindak seceroboh itu, "Emir, bantu Aku untuk tutup pintu mushola dan semua jendela! Najwa mulailah doa yang Abi ajarkan padamu."
"Baik, Paman." jawab kedua remaja itu serempak membuat Abil tetap fokus melanjutkan lantunan doa.
Ketiganya bekerja sama untuk melakukan yang terbaik. Tanpa mereka sadari ada hati yang semakin gelisah memikirkan orang terkasihnya. Ketika secara sadar sudah mengetahui kenyataan hidup yang ada, lalu bagaimana akan berdiam diri melihat situasi yang menegangkan terjadi di depannya langsung?
Kali ini tidak melibatkan rasa cinta tetapi emosi hati yang menjadi dasar ingin melindungi. Ia tahu betapa Abil dan kedua muridnya memiliki kelebihan yang orang awam tidak bisa melihat itu hanya saja jika terjadi pengusiran para makhluk. Bagaimana nasib ibunya?
Tak ingin semakin memperkeruh suasana. Cinta beranjak dari tempatnya. Gadis itu berjalan menghampiri pintu tanpa melepas mukena. Najwa yang ingin ikut menyusul agar bisa menghentikan pergerakan sang guru tiba-tiba ada tangan yang menahan pundaknya. Sontak ia melirik ke samping yang ternyata sang paman pelakunya.
Tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Abil. Lihatlah langkah Cinta semakin mendekat dan hampir sampai pintu hanya menunggu mengulurkan tangan untuk membuka kuncinya saja. Jika pintu sampai terbuka maka mereka semua bisa terkena imbas kekuatan energi yang bentrok.
"Dia sanggup melindungi dirinya sendiri," tukas Abil pasti sehingga membuat Najwa mengernyit. "Cinta Arunika memiliki kelebihan sama sepertimu tapi dia lebih tenang dan tidak memperdulikan para makhluk tak kasat mata."
Penilaian Abil tentang Cinta memang benar adanya hanya saja pria itu tidak tahu kehidupan selalu tenang misteri dan kejutan. Ketika mengharapkan sesuatu tetapi hasil yang di dapat lain. Lalu ketika sudah menyerah tiba-tiba saja ada keajaiban yang datang memberi harapan baru
Seperti waktu yang terus berputar di poros yang sama. Begitu juga dengan hukum karma manusia. Kehidupan Cinta sangat baik sebelum kembali ke Indonesia karena hanya sibuk menuntut ilmu serta menjelajahi luasnya dunia. Akan tetapi semua kenyamanan terhempas oleh kenyataan pahit ketika kembali ke Indonesia.
Penyakit sang ibu tak kunjung sembuh. Padahal seluruh pengobatan sudah dicoba hingga dari yang modern sampai obat herbal dan juga terapi. Ingin rasanya tidak percaya tapi ternyata dari sebuah buku usang yang tidak sengaja ditemukan. Gadis itu mengetahui silsilah keluarga yang cukup mengejutkan.
__ADS_1
Ia tak menyangka memiliki keluarga penganut ilmu hitam? Apalagi sudah turun temurun. Bagaimana bisa sang ibu menyimpan kebenaran itu sampai usianya sudah dewasa. Sekarang ia sadar kenapa kedua orang tua bersikeras mengirimnya pergi menempuh pendidikan ke luar negeri tanpa izin pulang sebelum lulus.
Sementara keluarga lain mengharapkan bisa bertemu anak mereka meski setahun sekali. Syarat dan ketentuan yang berlaku di rumah hanya untuk menjauhkan ia dari pengetahuan silsilah keluarga. Kehidupan yang sempurna berubah menjadi malapetaka karena kini sang ibu harus dirawat dengan penyakit yang tidak terdeteksi.
Satu hal pasti adalah jika Abil melakukan pengusiran para makhluk tak kasat mata yang ada dilingkungan sekolah secara paksa. Maka semua makhluk itu akan menyerah ibunya seorang. Seorang anak tidak mungkin tega melihat ibunya menderita tapi tidak mungkin juga membiarkan orang lain teraniaya.
"Bismillahirrahmanirrahim," kunci dibuka, lalu ditariknya pintu mushola bersambut semilir angin dengan hawa panas membara.
Angin kencang menerpa menelusup menerbangkan debu tanpa arah tujuan yang jelas. Tatapan mata menyipit mencoba mencari makhluk yang akan menjadi jalan keluarnya. Di antara para makhluk yang mengamuk hanya ada para menunggu taman sekolah. Itu berarti masih belum berkumpul semua.
Sekelebat bayangan hitam menarik perhatiannya. Bayangan dengan langkah secepat kilat tetapi meninggalkan energi berwarna merah darah. Akhirnya ia menemukan titik pusat dari semua kekacauan yang tengah terjadi. Dikeluarkannya tasbih dari balik saku gamis.
"Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan. Tuntunlah kami ke jalan-Mu untuk mencapai keselamatan. Bismillahirrahmanirrahim," Cinta mengayunkan tasbih setelah mengunci sasaran dengan perhitungan kecepatan yang sudah dipelajari bahkan dipraktikkan selama beberapa kali.
Namun tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Sontak menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berniat mencegah kepergiannya. Tatapan mata teduh menyambut dengan senyum tipis yang menawan. Jatuh tanpa ada sandaran. Laki-laki yang bisa menghabiskan kesadaran akal pikirannya.
"Mereka tidak akan melakukan apapun tapi jika kamu keluar melewati pagar pembatas. Maka, kita semua bisa menjadi buronan. Aku tidak tahu apa alasan di balik tindakanmu hanya saja pikirkan sekali lagi." ucap Abil, lalu melepaskan tangannya dari tangan Cinta.
Obrolan keduanya terhenti ketika Emir memanggil mereka untuk kembali ke dalam mushola. Remaja itu terlihat panik dengan menyangga tubuh Najwa yang tidak sadarkan diri. Melihat keadaan Wawa, Cinta segera memeriksa apa yang terjadi. Wajah pucat dengan mulai membiru. Apa yang terlewat hingga menjadi seperti itu?
"Anak ini mengalami koma tapi raganya masih hangat. Jika kita tidak segera melakukan ruqyah, nyawanya bisa melayang. Abil, kita harus membawa Najwa pergi dari sini. Area sekolah tidak aman untuk tubuh selemah ini," ucap Cinta panik.
__ADS_1
Penjelasan yang cukup serius tetapi keadaan tidak memungkinkan. Semua terjadi karena niatnya melakukan pemberantasan secara langsung tanpa pikir dua kali. Sekarang apa yang harus dilakukan? Abil memejamkan mata seraya mengembuskan napas dalam-dalam. Sesaat membiarkan pikiran tenang untuk menemukan jalan pulang.
"Paman, telpon dari Abi." Emir menyodorkan ponselnya ke Abil yang terpaksa harus menerima panggilan sang kakak ipar.
Benda pipih yang ia tempelkan ke telinga langsung menghantarkan pesan singkat tanpa ganggu gugat. Nada panik dengan dari seberang semakin memporak-porandakan hati dan pikirannya. Kenapa bisa seperti badai dalam satu waktu? Sungguh ujian kali ini terasa begitu berat hingga keraguan mulai datang tanpa mengucapkan permisi.
Panggilan berakhir begitu cepat karena keadaan yang memaksa. Kini Abil dihadapkan oleh dua situasi yang harus mendapatkan keadilan tanpa memihak satu diantara pihak. Bagaimana caranya membuat keputusan? Ketika hati, jiwa dan raga mulai terbelenggu kegelisahan.
Sayup-sayup terdengar suara senandung kerinduan. Melodi dengan irama mengalun merdu menyesatkan emosi hati yang dilanda keraguan. Senandung itu semakin mendekat membuat Abil berlari menuju pintu mushola dan langsung menutup serta tak lupa menguncinya.
"Para makhluk menyadari kondisi Najwa yang melemah tapi masih memiliki batu permata. Selama keduanya satu maka Wawa akan baik-baik saja tapi ...," ucapan Abil terhenti karena bayangan hitam tampak menyambutnya di depan mata.
Sinar merah nyalang mengejutkan walau energi itu tidak berpengaruh padanya. "Kita akan tetapi disini dan melakukan ruqyah sendiri."
Keputusan Abil membuat Emir dan Cinta saling pandang. Mereka hanya bisa menerima keputusan Abil, sedangkan di tempat lain kehebohan melanda menghancurkan seisi rumah. Dimana suara jeritan terdengar memekakkan telinga semua orang. Alih-alih mendapatkan kedamaian, kehidupan semakin mencekam.
"Baliyo marang omahmu!" Gema suara sang pemanggil yang tak menampakkan wujudnya dengan semilir angin menyebarkan aroma kembang kamboja.
.
.
__ADS_1
.
Assalamu'alaikum, sebelumnya othoor mau minta maaf ya. Kelanjutan dari kisah ini akan di up di novel baru awal bulan nanti. Kalau othoor paksain nulis banyak akhirnya tepar lagi. 🤧 InsyaAllah nanti sebulan tamat, jadi karya akan berlanjut. Kenapa gak diterusin disini aja? Karena biar gak bingung sendiri, othoor bakalan bikin plan terlebih dulu.