
Situasi tidak bisa lagi dianggap baik, ia tak menyangka para makhluk bisa seagresif itu bahkan menyerang jiwa tanpa raga. Siapapun yang ada di balik layar pasti sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menakut-nakuti para siswa-siswi di sekolah tersebut. Apapun tujuan ingin diraih, maka harus melewatinya terlebih dulu.
Pria muda itu duduk bersila, lalu memejamkan mata diiringi do'a pengusiran arwah-arwah yang tersesat. Suara melengkin bersahutan tawa meremehkan bergema memenuhi ruangan kelas. Akan tetapi Abil tak peduli, ia tetap melantunkan do'a secara khusyuk mengharapkan jiwa para leluhur menarik makhluk di depannya.
"Aaarghhhh, pa-na-s," teriakan para makhluk yang menguasai tubuh manusia.
Usaha Abil masih berlanjut, sedangkan di luar sana Pak Nur mencoba untuk menyembuhkan Emir yang ikut kesurupan. Anehnya tubuh remaja itu masih dalam keadaan hangat alias normal sebagai manusia. Padahal ada makhluk lain yang mendiami mencoba mempergunakan tubuh si anak. Apakah mungkin orang kesurupan tapi sadar?
Tanpa guru itu sadari bahwa makhluk yang menguasai Emir hanya untuk pengalihan karena tuannya yang meminta demikian. Sementara remaja itu sangat sadar bahkan bisa merasakan dan tahu segala sesuatu yang dilakukan sang makhluk gaib. Tangan, kaki, seluruh tubuh seperti dimainkan dalang. Perasaan itu seperti memiliki kepribadian ganda.
"Pak Nur, bagaimana ini?" tanya guru lain semakin cemas melihat kondisi Emir hingga tubuh remaja itu tersentak kaget, lalu jatuh tak sadarkan diri karena seseorang menciprati air suci ke wajahnya. "Astagfirullah, kamu kenapa ...,"
Pak Nur mengangkat tangannya, membuat si guru kang protes kicep terdiam. Untung saja tubuh Emir sigap ditangkap olehnya. Meski terasa berat padahal tubuh tidak sebesar anak muda kebanyakan, atau mungkin memiliki rutinitas kehidupan yang menyehatkan tubuh tanpa berkembang ke samping. Bisa jadi.
"Pak, tolong jaga adikku. Saya akan lihat anak lainnya," Najwa melenggang kaki berjalan melewati kedua guru begitu saja, gadis itu masuk ke ruang kelas. Tatapan nya terpatri pada jiwa sang paman yang terpisah dari raga. Yah, dia juga memiliki mata batin yang terbuka, walau seringkali sengaja ditutup.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim," Gadis itu menangkup kedua tangannya berdoa untuk keselamatan, lalu kembali mengeluarkan sebotol air suci yang biasa dibawa kemana-mana, kemudian tanpa ragu berjalan mendekati para siswa yang kini tersiksa menggeliat seperti cacing kepanasan di lantai.
Makhluk dengan jiwa malang yang tersesat. Satu sentuhan tangannya menghantarkan ingatan terakhir dari para arwah. Seulas senyum memudar bersama terbangnya esensi jiwa tak berdaya. Sakit, perih, menyedihkan, pilu akan kehidupan masa lampau dari para makhluk. Tanpa sadar ia larut akan duka milik orang lain.
Para siswa jatuh tak sadarkan diri, sedangkan Najwa? Gadis itu enggan mengatakan apa yang terjadi dan memilih untuk membawa Emir ke UKS agar mendapatkan waktu istirahat. Sementara Abil menyusul anak-anak setelah berhasil kembali masuk ke raganya. Suasana UKS benar-benar sepi, hening. Apalagi ruangan itu berada di ujung koridor dekat kamar mandi cadangan.
"Paman! Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi disini terlalu bahaya untuk melepaskan jiwa dari raga." Tatapan mata serius menerawang ke depan, dimana pamannya masih tetap tenang setelah apa yang terjadi. "Apakah paman mendengarkan aku?"
Melepaskan jiwa dari raga untuk kesekian kali, tentu ia paham dengan segala konsekuensi yang bisa saja mengkhianati waktu dan keyakinannya. Dari semua itu, apakah ia harus berpangku tangan? Tidak. Jika mengandalkan Pak Nur, maka bisa dipastikan para siswa banyak yang berjatuhan menjadi kesurupan massal. Lebih dari itu, ia paham bahwa Najwa peduli pada semua orang.
"Najwa Humaira!" Abil memanggil keponakannya dengan nama lengkap, lalu tersenyum tulus. "Dunia ku lebih dalam jatuh ke dalam pelukan para makhluk. Di sekitar kita terlalu bising hingga tidak seorangpun sadar akan bahaya yang mengintai. Bukankah Danyang menjelaskan apa yang dia lihat? Haruskah aku menunjukkan hasil dari pengalaman pribadi?"
Wawa terdiam tak bisa menjawab, rupanya sang paman menyadari kedatangannya karena peringatan dari Danyang yang penunggu. Apapun itu, ia tidak bisa melihat siapapun ikut berjuang di jalan janji yang ia ucapkan. Jika semua itu hanya tentang kehidupan manusia, maka tidak perlu khawatir akan masalah dari dua dunia. Pemikiran tidak bisa diubah, membuat gadis itu lupa bahwa Abil lebih tua darinya.
__ADS_1
Abil bisa melihat keraguan berselimut rasa khawatir dari sorot mata Najwa. Sadar benar bahwa gadis belia itu merupakan duplikat sang kakak tercinta. Setiap tindakan, ucapan dan langkah semakin jelas kemana arah tujuannya. Terlalu hafal dengan sikap polos seorang wanita dari keluarganya. Dulu ia gagal melindungi keluarga, tapi kini? Haruskah gagal lagi?
"Aku paham, kamu ingin kami menjauh dari masalahmu. Apakah dengan pengorbanan satu orang, maka kehidupan semua orang lebih baik?" tanya Abil berusaha mengubah sudut pandang Najwa yang terlalu membebani diri untuk bisa menyelesaikan masalah di sekolah tersebut.
Najwa mengernyit tak paham. Kenapa pamannya membahas tentang pengorbanan, sedangkan saat ini dia tengah memulai perjuangan. Benar tidak ada yang harus dikorbankan, ia melakukan segala sesuatunya dengan bantuan Danyang yang selalu berusaha berkomunikasi dengannya. Apakah itu termasuk dengan pengorbanan?
Abil menahan napas, lalu beranjak dari tempat duduknya. Kemudian berjalan menghampiri jendela kecil yang menghadap ke belakang sekolah. Di depan sana hanya ada kebun pisang milik warga, tampak gedebok berjejer rapi dengan beberapa pohon berbuah siap dipanen. Siang hari terlihat aman, tapi bagaimana jika malam datang?
"Dulu, Aku hanya anak kecil bahkan usiaku masih sepuluh tahun. Kehidupan manis dengan ibu dan kakak. Kami bahagia tanpa ada masalah hingga malam itu tiba. Pernikahan Ka Bella dengan DIA yang menjadi alasanmu dikucilkan. Apa kamu pikir, pengorbanan hanya terjadi di akhir pertempuran?
"Tidak. Pengorbanan selalu dari titik semua dimulai. Satu langkah akibat keputusan mu, sama seperti keputusan kakakku yaitu bundamu. Yah, kenyataan dan kebenaran akan menjadi bukti kehidupan. Apa yang kamu anggap baik, dan benar. Kenyataan tersebut hanya berlaku untuk keputusan tunggal.
"Najwa Humaira. Hidupmu bukan hanya tentang keinginan, harapan, dan keputusanmu seorang. Ingatlah ada abi, bunda, emir dan orang-orang yang mencintaimu sepenuh hati mereka. Sementara para makhluk yang kamu ingin perjuangan adalah alasanmu dititik jatuh tanpa sandaran. Aku akan mengatakan satu hal yang tidak seorangpun bisa mengganggu gugat.
__ADS_1
"Kamu adalah tanggung jawab yang kuminta dari tangan kakak ipar serta kakakku sendiri. Tidak peduli dengan penolakanmu. Suka, tidak suka, kita akan tetap di satu jalan!" tegas Abil dengan keputusan mutlak yang membuat Najwa tak mampu lagi mendebat.