
Cinta hanya satu kata tapi berjuta makna. Ungkapan itu memang tepat hanya saja tak semua cinta menjadi berkah karena ada cinta berselimut obsesi. Keinginan untuk memiliki yang tinggi sehingga siap mengorbankan apapun yang ada disekitarnya. Permasalahan akan selalu sama dan tidak bisa ditoleransi.
Seperti cinta wanita itu, ia yang berharap satu kesempatan untuk bertemu sang pujaan hati. Nyatanya keinginan itu hanya tinggal kenangan. Seakan semua tak berlaku lagi karena kenyataan sudah pasti menjadi perpisahan tanpa salam terakhir. Apa yang terjadi? Ingatan masa lalu hilang begitu saja.
Namun kini secara perlahan ingatan itu mulai samar-samar mampu diingatnya kembali. Meski terkadang hanya bayangan pudar, tapi ada yang aneh dengan dirinya. Di dalam kepala justru ingatan orang lain yang menguasai otak bahkan seluruh fase kehidupan terekam sangat jelas. Semua ingatan termasuk mantra penakluk setan.
Jika dirinya menguasai banyak mantra, tetapi hati menolak rasa, pikiran menyudutkan emosi, serta tindakan dipenuhi keegoisan. Siapa yang berusaha mengendalikan tubuhnya? Ia sadar sudah menjadi boneka yang dimainkan seseorang. Akan tetapi satu fakta tidak bisa ia pungkiri yaitu ketidaktahuan sang dalang dibalik layar.
Perenungan wanita itu hanya ia seorang yang tahu. Rasa perih di kedua telapak tangan akibat goresan belati tak seberapa sakit karena yang lebih sakit itu di dalam hatinya. Luka yang bersembunyi tampak baik, padahal berdarah tak berwarna. Sepanjang malam yang tersisa hanya terdengar suara helaan napas panjang.
Pukul lima pagi menandakan waktu telah berganti. Suara salam serempak terdengar dari ruang ibadah. Hari ini Abil menjadi imam shalat dengan alasan merindukan suasana sholat berjamaah seperti di Kairo. Pria muda itu ingin menikmati waktu bersama keluarga sebanyak-banyaknya hingga tak terkira. Wajar saja karena sudah bertahun-tahun terpisah.
"Wawa, Emir, apa kalian berangkat sekolah hari ini?" tanya Abil setelah sesi doa berakhir, lalu ia berbalik menghadap ke belakang dimana kedua wanita rumah dan keponakan laki-lakinya ikut sholat berjamaah.
Najwa berhenti melipat mukena nya, ''Jika Abi mengizinkan, maka aku berangkat sekolah. Sepertinya Abi masih marah karena penolakanku semalam." Gadis itu menundukkan kepala merasa bersalah atas sikapnya yang memang terlalu lancang.
Bagaimana tidak merasa demikian? Perdebatan semalam yang menjadi larangan atas niat baiknya yang ingin membantu Danyang dari Abi. Justru ia tolak tanpa berpikir dua kali lagi. Yah, janjinya tidak bisa diingkari maka sebagai gantinya melawan keputusan seorang ayah. Sementara kesadaran masih digenggam tanpa keraguan.
"Abi mu tidak marah, Nak. Coba pahami kegelisahan hatinya! Ayah mana yang tega membiarkan kedua anaknya menghadapi masalah besar? Sedangkan dia hanya bisa berpangku tangan. Bunda hapal kebiasaan ayah kalian yang hanya membutuhkan waktu untuk merenung, sebelum membuat keputusan final."
__ADS_1
Kali ini perasaannya bimbang harus membela dan mengedepankan siapa. Di hadapan cinta antara suami dan anak, tak satupun bisa dibenarkan apalagi diragukan. Akan tetapi ia sadar bahwa penolakan Najwa cukup menyinggung Azzam sebagai seorang ayah.
Suaminya itu selalu berusaha terbaik untuk melindungi keluarga, lalu Najwa dengan sadar menerobos pagar pembatas yang disiapkan untuk pertahanan seorang ayah. Tentu melukai hati, tapi lebih tepatnya membatalkan tanggung jawab yang ada. Kini yang bisa dilakukan adalah bersabar dengan harapan keluarga mereka tidak berpisah arah jalan.
Begitu juga dengan Najwa yang termenung akibat penuturan sang bunda. Ia akui bahwa ucapannya memang melukai bahkan tidak dibenarkan, hanya saja janji telah diucapkan. Dimana apapun yang terjadi, ia turut andil untuk membebaskan tanah yang menjadi bangunan sekolah agar bisa dijadikan tempat bernaung para manusia.
"Ka Bella, di mana Ka Azzam? Aku akan bicara dengannya." Abil beranjak dari tempat duduk, lalu melepaskan peci kemudian menyugar rambutnya.
"Di ruang perpustakaan, sekalian bawakan kopi untuknya, ya, De! Kakak akan buatkan sekarang. Kalian berdua kembali ke kamar saja dulu," jawab Bella sambil ikut melepaskan mukena. Kali ini dibiarkannya menggantung di tempat yang tersedia.
Satu persatu pergi meninggalkan ruang ibadah, kemudian melakukan rutinitas pagi sebagaimana mestinya. Begitu juga dengan Abil yang ingin berusaha membujuk kakak iparnya. Sebagai sesama pria dewasa, tentu akan memiliki perbedaan dan juga persamaan sudut pandang. Akan tetapi satu sama lain pasti berusaha untuk menemukan solusi dari masalah yang ada.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, masuk aja, De. Jangan lupa tutup pintunya!" jawab Azzam tanpa menggeser posisinya, apalagi berpaling menoleh kebelakang.
Seperti yang diminta sang kakak ipar. Abil melangkahkan kaki masuk ke ruangan perpustakaan, lalu tak lupa menutup pintu bahkan mengunci dari dalam. Hal itu dia lakukan agar tidak satupun anggota keluarga lain menguping, kemudian diserahkannya secangkir kopi yang masih mengepulkan asap putih untuk sang kakak. Barulah dia ikut duduk dengan menarik kursi kayu lain yang ada diruangan tersebut.
Sejenak hanya terdengar suara seruputan nikmat kopi yang memberikan efek tenang dan bersemangat lagi. Apalagi ditemani terbitnya sang surya yang menunjukkan keagungan ciptakan Yang Maha Kuasa. Nikmat mana yang bisa manusia dustakan? Setiap helaan napas seharusnya cukup menyadarkan insan untuk tetap bersyukur atas karunia tiada kira dari Allah untuk hamba-Nya.
"De, kamu ingin diam saja atau langsung bicara pada intinya?" Azzam meletakkan cangkir kopinya di atas meja mini yang biasa digunakan sebagai tempat buku bacaan, lalu ia melirik ke arah Abil.
__ADS_1
Sang adik ipar yang tumbuh dengan sangat baik, meski perubahan itu terlalu signifikan. Ingatannya masih jatuh pada masa Abil saat kecil dengan wajah polos yang berjuang untuk keselamatan keluarga. Ia akui bahwa pria muda satu itu teguh dan memiliki keyakinan serta keberanian yang pantas dikagumi. Sejak awal ia salut melihat pengorbanan seorang adik yang mampu menjadi obat luka untuk sang kakak tercinta.
Abil hanya tersenyum tipis dengan tatapan mata enggan membalas lirikan mata sang kakak ipar. "Apa pertanyaanku cukup untuk mengubah keputusanmu, Ka Azzam? Kurasa kita berdua tahu bahwa itu hal mustahil, tapi bukan berarti aku sepakat denganmu atau menentang kepercayaan hati kakakku sendiri."
"Abil, kita sama-sama dewasa dan seorang pria. Bicaralah tanpa harus menyimpan tanya, sebaik kita saling memahami maka tetap membutuhkan kepastian. Bukankah begitu, De?" sahut Azzam memperjelas keadaan karena kondisinya tidak ingin menebak teka-teki dari adik iparnya.
Sepertinya Azzam terlalu lelah. Apa karena selama bertahun-tahun begitu fokus pada keluarga sehingga tampak lebih pendiam? Padahal selama berpisah jarak karena perbedaan negara, pria satu itu intens memberikan nasehat dan selalu mengingatkan banyak hal melalui ponsel pribadi. Keduanya dekat dengan cara saling mendukung satu sama lain.
"Ka, Najwa itu versi Ka Bella saat remaja. Kita berdua tahu bahwa hati seorang wanita sangatlah lembut. Begitu juga dengan masalah saat ini, dimana kita sadar semua bersangkutan dengan masa lalu. Apa Ka Azzam ingin melupakan fakta batu permata milik DIA yang berdetak di jantung keponakanku?
"Iya, Ka. Aku tahu tubuh Najwa diselimuti aura batu permata yang bisa memberikan kekuatan besar untuk para makhluk gaib. Aneh, tapi nyata karena semua yang kita pikir telah berakhir. Justru kenyataan berkata lain. Apa kakak tahu bahwa ada aura lain yang berusaha melindungi Wawa?" tanya Abil, lalu mengalihkan perhatiannya menatap Azzam dengan serius.
Entah apa maksud dari adik iparnya, tetapi jika sudah tahu tentang batu pertama yang ada di dalam tubuh Najwa. Maka hanya berarti satu hal yaitu Abil menggunakan mata batinnya untuk menyelidiki segala sesuatunya yang bersinggungan dengan kedua alam. Pria muda itu memiliki solusi yang bisa dipertimbangkan. Mungkinkah?
"Ka Azzam, sifat dari kedua alam masih bertolak belakang, tapi tidak bermusuhan. Perlawanan itu karena setiap makhluk merasa berhak atas miliknya sendiri. Permata merah milik pangeran adalah harta dari alam gaib, tapi bagi manusia adalah ketidakberuntungan. Disini Najwa memiliki energi yang bisa dikatakan bercampur. Kakak tahu maksudku 'kan?" tanya Abil mengakhiri penjelasan yang harus dimengerti oleh kakak iparnya.
Suara helaan napas pelan kasar menumpahkan beban hati yang terasa begitu berat, "Katakan apa yang harus aku lakukan? Satu solusi yang tidak menentang hati nurani seorang ayah dan sebagai suami. Tanggung jawab dari kedua hubungan tidak boleh terabaikan."
Azzam pasrah, bukan karena tidak memiliki ketetapan hati. Melainkan manusia harus menyadari bahwa nasehat dan petunjuk jalan takdir bisa melalui siapa saja dan dengan cara yang tidak terduga. Terlebih keluarga ada untuk saling mendukung serta berbagi sandaran. Ada rasa syukur sebab Abil pulang di waktu yang tepat.
__ADS_1
"Izinkan Najwa menunaikan janjinya untuk memulai perjuangan takdir kehidupan yang Allah gariskan untuk putri rumah ini, ingatlah bahwa kita ada bersamanya. Sebagai gantinya, Aku janji akan menjadi tameng untuk keponakan tercantik di seluruh dunia." ucap Abil mantap sepenuh hati, membuat Azzam memejamkan mata menikmati desiran hangat yang berpacu sebagai detak jantung.