
"Ponselku hilang, Mas. Bolehkah pinjam ponsel njenengan untuk menghubungi kerabat?" tanya Si Bapak sopan dan langsung disetujui.
Supir pengantar bahan makanan memberikan ponselnya kepada si bapak. Pria berusia tiga puluh tahun itu tidak menaruh curiga apapun bahkan seperti sudah terbiasa membantu orang yang tidak sengaja tertimpa musibah. Sementara itu di ruangan Abi hanya ada tatapan saling pandang antara kakak beradik.
Ponsel sudah diperiksa dari semua riwayat pesan dan panggilan tapi tidak ada yang mencurigakan. Abil bahkan sudah menganalisis data dengan kepandaiannya dalam bidang IT. Akan tetapi si pemilik ponsel selalu memiliki kebiasaan yang aneh yaitu setiap hari akan merestart ulang benda pipih penyimpan data.
"Abil, apa kamu ingat bapak yang tadi?" tanya Azzam setelah mencoba mengingat sesuatu dan entah kenapa ia baru sadar ada yang terlewat.
__ADS_1
Abil mengernyit menaikan alisnya. Sesaat tak paham arah tujuan sang kakak, lalu ia ikut menyadari kedatangan bapak-bapak yang kakaknya saja seperti tidak mengenal. Apa mungkin, bapak yang ramah memiliki niat terselubung? Jika iya, apa yang dicari hingga membuat ruangan berantakan. Ia jadi bingung dengan kesimpulan tanpa bukti.
"Apa Abi tidak mengatakan sesuatu pada Ka Azzam? Selama ini pondok aman loh, tapi setelah kepergian beliau justru ada yang berniat tidak baik. Pasti ada sesuatu di dalam ruangan ini sehingga penyusup melakukan tindakan di luar batas." tutur Abil tanpa ingin menjudge si bapak yang menjadi tersangka utama.
"Abi tidak mengatakan apapun kecuali meninggalkan beberapa buku catatan seperti diary. Aku sudah membaca semuanya ... tunggu dulu." Azzam mengambil ponsel dari saku baju kokonya, lalu menscroll riwayat pesan yang hampir dia lupakan. Kemudian memperdengarkan sebuah audio yang baru sekali didengarnya. "Pesan terakhir dari Abi."
__ADS_1
Suara lirih dengan deru napas tak beraturan terdengar mengawali rekaman suara yang ternyata menjadi sebuah pesan audio whatsapp. Abi hanya menasehati seraya meminta keluarga untuk ikhlas atas kepergiannya dan juga meminta maaf karena menyembunyikan tentang penyakit yang di derita. Semua kata yang terucap disampaikan begitu tulus tanpa ada keinginan untuk memaksakan waktu lebih lama lagi.
Namun diakhir pesan suara terdengar sedikit keraguan dengan nada tegas yang mengatakan kepercayaan harus diutamakan. Seolah-olah Abi tengah menyimpan beban pikiran yang tidak bisa disampaikan. Suara kecewa yang menyadarkan Abil akan sesuatu yang janggal. Hanya saja kenapa kakak ipar tidak memahami hal yang ia pahami?
"Ka Azzam, coba putar ulang suara Abi dengan nasehat terakhirnya." pinta Abil membuat Azzam melakukan tanpa bertanya.
Rekaman kembali diputar bahkan berulang-ulang hingga Azzam mendongak menatap sang adik. Kenapa pria muda itu meminta hal sama di waktu yang beraturan? Padahal sudah mendengar rekaman lebih dari lima kali. Aneh bukan? Tatapan mata saling beradu mencoba menelusuri apa yang tidak dikatakan melalui bibir.
"Abi ingin kita saling percaya, itu berarti ada seseorang yang hadir untuk menciptakan badai di dalam keluarga kita. Apa Ka Azzam tidak menyadari itu?" tanya Abil seraya menahan napas karena emosi bercampur aduk. Perasaannya mendadak gelisah merasa tidak tenang.
__ADS_1
Ia merasa obrolan mereka ada yang memantau tapi mungkin itu hanya perasaannya saja. Sementara Azzam berusaha mencerna ucapannya. Sang kakak masih larut dalam kesedihan hingga terperangkap dalam pemikiran yang sempit. Diam menanti jawaban tetapi lirikan mata sibuk mengedarkan pandangan hingga ia melihat sekilas bayangan tampak berdiri di samping pintu.
Siapa itu? Kenapa bersembunyi dan sejak kapan berdiri disana? Apa mungkin ada hubungannya dengan semua ini?~ucap batin Abil tanpa berniat menghampiri tetapi satu perintahnya cukup membuat para teman tak kasat mata melakukan permintaan kecilnya.