
Bujukan Abil memiliki dasar karena pria muda itu mampu melindungi. Sebagai seorang ayah, Azzam mencoba berpikir ulang, tapi sebagai seorang ustadz sadar akan kebenaran yang dimaksud sang adik ipar. Tidak ada yang salah dalam hal ini karena semua memang saling bersinggungan. Suka atau tidak, keluarganya sejak awal memiliki ikatan dengan alam lain.
"Abil, apakah kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Azzam tegas sebagai bentuk kesepakatan yang harus dipastikan.
Keraguan di hari sang kakak jelas sudah tidak ada, walau demikian, ia paham maksud dari pertanyaan sebagai seorang ayah. "Abil yakin dua persen, apa kakak bisa yakin dengan jalan pilihan yang sulit?"
Dua persen keyakinan. Bukankah sangat sedikit? Tentu saja tidak karena itu disebut realistik. Manusia terbiasa melambungkan harapan yang begitu tinggi. Misalnya seperti memiliki teman baru, pasti ingin ada waktu untuk saling mengenal, bermain bersama, saling terbuka, dan bisa tetap bersama. Padahal kenyataan seringkali membalikkan keadaan.
Namun dua persen yang dimaksudkan Abil adalah hasil akhir dari perjuangan kali ini. Dimana kedua alam pasti terguncang dengan adanya pergeseran waktu. Satu sisi dirinya yang akan menggunakan mata batin dan sisi lain Najwa yang bisa mengarahkan tujuan, sedangkan kemungkinan dari pengorbanan tidak akan luput.
Seperti kisah masa lalu, keluarga harus menanggung akibatnya dengan kehilangan nyawa dari beberapa anggota. Maka dari itu, di jalan perjuangan tidak ada kepastian semua baik-baik saja. Selain berserah diri pada Sang Maha Pencipta. Tidak rumit dan tidak sederhana juga, tetapi mampu memporak porandakan keyakinan dan keimanan.
"Baiklah, Aku akan izinkan Najwa untuk menunaikan janjinya. Ingatlah satu hal ini, baik kamu atau Wawa, bahkan Emir dan juga Bella. Kalian sama pentingnya di dalam kehidupanku. Jangan pernah berpikir satu diantara kalian merasa terasingkan. Pergilah antar Wawa ke sekolah bersama Emir." putus Azzam tegas, kini ia tak ingin berkeras hati lagi.
Keluarga bermakna mendukung dan menjadi tempat berpulang. Keyakinan tidak boleh goyah meski dunia mengguncang keadaan. Tidak peduli dengan status mana yang tengah diperjuangkan karena hanya menjadi perjuangan demi kelangsungan hidup bersama.
Abil tersenyum sumringah mendengar persetujuan Azzam. Bukan bermaksud meremehkan, tapi ia merasa setelah bertahun-tahun sang kakak ipar tetap sama. Tegas dalam keputusan, tegar menjalani ujian, ikhlas mencukupi kebahagiaan, sabar menerima kenyataan. Seorang kakak, suami, sekaligus ayah yang bijaksana.
"Ka Azzam terbaik," Abil tak sungkan langsung memeluk kakak iparnya, membuat Azzam menepuk pundaknya dengan kepercayaan. "Terima kasih telah menjadi bagian keluarga kami, Ka. Ibu pasti bangga memilikimu sebagai menantu."
__ADS_1
"Jangan menangisi kepergian Ibu, De. Kita hanya perlu mendoakan, apa kamu jadi ke makam bersama Bella?" tanya Azzam berusaha melapangkan dada Abil.
Bagaimana rasanya kehilangan kasih sayang orang tua? Ia hanya lupa cinta seorang ibu, tetapi masih memiliki ayah untuk menjadi panutan. Sementara Abil? Pria muda itu kehilangan ibu, lalu memulai perjalan hidup mandiri sejak dini karenanya. Meski di Kairo tinggal bersama orang kepercayaannya, tetap saja kekosongan hati tidak bisa diubah.
Dilepaskannya pelukan, lalu kembali menyambar cangkir kopi yang tinggal seperempat gelas. "Jadi, jika diizinkan. Bukankah Ka Azzam melarang orang rumah keluar melewati batas gapura pondok pesantren? Seberapapun jauh hati dikuasai kegelisahan. Bukankah kita harus ingat masih ada Allah, Ka?"
Sindiran yang tepat sasaran. Kakak iparnya tengah tenggelam menikmati rasa cemas berlebihan. Pria itu memiliki keyakinan, tapi terjebak diantara kepasrahan dan harapan. Akhir dari masa lalu masih digenggam sehingga masa kini berubah menjadi sebatas angan. Salahkah? Sangat tidak bisa dibenarkan.
Fase ini seringkali disebut sebagai fase kehilangan kepercayaan diri. Merasa setiap masalah yang datang terlalu berat dan sulit untuk dijabarkan. Terkadang sudah memikirkan hingga sedemikian rupa, tetapi lupa untuk segera bertindak. Kenyataan yang tidak bisa diubah adalah manusia itu tidak sempurna. Benar 'kan?
Salut akan pemikiran dewasa Abil, membuat Azzam kembali mendapatkan jalan hidupnya. Benar yang dikatakan sang adik ipar. Saat ini ia tersesat hingga lupa arah jalan pulang. Ternyata sepintar apapun manusia harus menyadari batas dari kemampuannya. Jika tidak, bisa saja keblinger.
"Jika memungkinkan, itu bisa dilakukan, Ka. Sayangnya lebih baik menjadi tukang kebun. Apa Ka Azzam kenal siapa tukang kebunnya?" tanya balik Abil mengejutkan kakak iparnya.
Bayangkan saja dengan pendidikan tinggi, wajah rupawan, tapi jadi tukang kebun? Bisa jadi seluruh penghuni sekolah sibuk menatap keluar jendela memperhatikan adiknya itu. Ada-ada saja dengan ide Abil yang diluar nalarnya. Meski keuntungan menjadi tukang kebun bisa berkeliling sekolah tanpa dicurigai.
Azzam beranjak dari tempat duduk, lalu menepuk pundak kanan Abil. "Tanyakan saja bagian TU. Jangan bawa ijazah dan ubah penampilanmu! Kakak rasa disana bisa bertemu jodoh untukmu, De."
"Astagfirullah, Ka. Apa salah menjadi tukang kebun modern? Punya adek tampan, malah disuruh dekil. Sabar, jika kurang sabar minta Ka Bella aja." seloroh Abil membuat keduanya tertawa hangat akan candaan yang bisa mengembalikan mood hari ini.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari kakak iparnya. Abil meminta Najwa dan Emir untuk bergegas menyiapkan diri ke sekolah, begitu juga dengannya. Sementara Azzam ikut merasa senang melihat kebersamaan keluarga yang semakin lebih semarak dan terhindar dari aura negatif.
Tiga puluh menit telah berlalu, ketiga anak muda keluar dari rumah utama. Emir dan Najwa yang mengenakan seragam sekolah sama, sedangkan Abil menjadi pusat perhatian kedua remaja itu. Bagaimana tidak? Sang paman yang notabene tampan rupawan bak artis india, tiba-tiba berubah jadi mamang penjual sayur.
Penampilan yang benar-benar riskan untuk diajak kondangan. Yah meskipun bukan ke hajatan juga, cuma gimana sih menanggapi penampilan Abil yang benar-benar bikin geleng kepala? Emir bahkan tidak bisa menahan tawanya, sedangkan Najwa harus istigfar berulang-ulang demi tetap menjaga ketenangan.
"Paman, yakin dengan penampilan seperti ini? Kita naik mobil kan ya? Emir dan aku belum lancar menyetir, loh." tukas Najwa mengingatkan, membuat Abil terkekeh pelan dan dengan percaya diri berjalan mendahului kedua keponakannya.
Emir mengikuti langkah sang paman, ia juga menggandeng tangan kakaknya agar tidak lagi menunda waktu. Ketiga insan memasuki mobil yang biasanya digunakan Azzam untuk keluar kota di saat ada tugas dadakan. Mobil mulai melaju meninggalkan pelataran pondok pesantren ditemani semilir angin pagi.
"Ka Abil! Bagaimana sistem pendidikan di Kairo?" tanya Emir dengan rasa penasarannya, membuat sedikit konsentrasi Abil terbagi.
🍃Abil versi Pria muda dewasa. (bayangkan saja gimana ubah penampilan seperti mamang penjual sayur, ya 🤭)
...🧩🧩🧩...
Judul Karya sengaja diubah setelah mendapat surat cinta dari NovelToon. Akan tetapi, tidak mengubah isi cerita. 😘
__ADS_1