JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 01- Si Beruntung yang Tidak beruntung


__ADS_3

" Kau kalah."


Ada keheningan yang membekukan seusai kata- kata itu terlontar. Tujuh gadis cantik tersihir menjadi arca di kursi mereka masing- masing. Sungguh ironis. Mereka semua shock, amat sangat tidak percaya. Keraguan akan kenyataan yang terjadi, dan sulitnya menerima kesialan yang sebentar lagi akan terjadi di tengah- tengah mereka.


Salah satu gadis cantik dengan gaun kuning cerah terlihat tengah mengosok- gosok telapak tangannya dengan tidak sabaran. Sudah tiba waktunya untuk melakukan trik sulap, keahlian langka yang ia miliki. Harap dicatat, satu- satunya pesulap terbaik di dalam kelompok.


Satu jentikan jari kanan selaras dengan satu tarikan napas, lalu secara tiba- tiba, wusss, setangkai mawar putih lahir dari telapak tangannya yang kosong. Semua mata terpaku ke arah mawar putih yang hadir di tengah- tengah mereka, tiada berkedip sedikit pun. Terkejut campur kekaguman jelas terlihat di sana.


Gadis bergaun kuning cerah itu tersenyum lebar. Ia bangga dengan keahlian yang dimiliknya. Melihat tatapan tersihir teman- temannya, mata mereka nyaris melompat keluar dari rongganya. Sungguh, rasa kagum dan memuja dari mereka semua sangat membahagiakannya.


" Kalian Lihat mawar putih ini. Sungguh cantik, bukan?" Usai kalimat itu keluar dari bibirnya, nyaris seluruh kepala yang memutari meja mengangguk menjawab. Mereka masih dalam mode takjub dan terkesima, sehingga tak satupun yang mampu mengeluarkan kata.


Mata bulat bak telur gadis bergaun kuning cerah itu memperhatikan temannya satu demi satu.


Mereka bertujuh termasuk dirinya duduk memutari meja bulat besar di salah satu resto terkenal di ibu kota. Mereka adalah pelangan VIP di sana. Seminggu sekali mereka rutin datang dan makan.


Gadis itu mengenal keenam temannya sangat baik, dari sifat, perilaku, hingga latar belakang mereka. Walau mereka sering bertengkar, berdebat satu sama lain, tapi mereka segera akur kembali. Betapa beruntungnya ia memiliki mereka, menjadi bagian dari mereka.


Akhirnya, pandangan terakhirnya jatuh pada gadis berkaos merah di sisi kirinya. Gadis jelita berperawakan langsing tanpa riasan di wajahnya. Kulit seputih saljunya nampak sedikit muram saat ini. Tidak secemerlang seperti biasanya.


Si beruntung yang sedang tidak beruntung.


Gadis pesulap di dalam grup, Anya, bangkit dari duduknya sembari membawa mawar putih di tangannya. Ia mencondongkan tubuhnya di atas meja, lalu meletakkan setangkai mawar putih lengkap dengan tiga helai daunnya tepat di hadapan si jelita yang sedang tidak beruntung.


Enggar, si jelita berusia 16 tahun itu, mengangkat wajahnya, dan segera manik- manik kelabu miliknya beradu dengan manik- manik hitam milik Anya.


" Beri aku sedikit waktu." Katanya, " Aku harus menenangkan diri terlebih dahulu."


" Tidak masalah, " Dengan bibir mencebik ia menjawab. Menghela napas dengan kepuasan tiada Tiara Anya kembali duduk." Sebaiknya jangan terlalu lama," Ia kembali bersuara," Seperti kata petinggi di tanah air, lebih cepat lebih baik."


" Aku hanya sedang berpikir keras. Apakah kau curang dalam permainan ini, karena aku meragukan kekalahanku. Aku tidak pernah kalah dalam game, seumur hidupku. Dan kau, aku bahkan bisa menghitung berapa kali kau menang setiap kita bermain game. Sepuluh jari bahkan kurang,..."


" Ck! Kau memang selalu meragukan kemampuanku, enggar." Potong Anya berubah masam. " Apa kepala besarmu sakit karena terpalu gadaku? Apa egomu terluka dengan kekalahanmu?"

__ADS_1


" Kau bahkan tidak pernah memenangkan satu permainan pun, Anya." Sindir Enggar secepat kilat, " Tidakkah menurutmu aneh?"


Menampilkan ekspresi polos, bahu Anya terangkat, " Mana aku tahu, Wahai Dewi keberuntungan yang terjungal jatuh! Mungkin kali ini Dewi keberuntungan sedang bosan kepadamu, dan giliran untuk memihak kepadaku."


Lima pasang mata di sekitarnya memperhatikan perdebatan mereka. Tidak satu pun yang berniat terjun ke dalam Medan pertempuran. Baik Enggar maupun Anya sudah terbiasa berdebat dan bertengkar, mereka sudah terbiasa melihatnya.


Namun, ada hal yang nyaris mengisi relung kelima gadis itu secara bersamaan. Mereka heran dan merasa aneh.


Si ratu keberuntungan. Julukan itu bukan sekedar nama dan julukan Enggar. Dialah icon grup, matahari grup persaudaraan mereka. Keberuntungan gadis itu menyinari mereka semua, sehingga hidup mereka tertular keberuntungannya.


Tapi kali ini, ratu keberuntungan mereka mengalami peristiwa besar dalam hidupnya. Ia kalah dalam permainan, hal yang tidak pernah terjadi satu kali pun dalam kehidupannya.


Jadi, perasaan semua gadis campur aduk seperti siomay.


Apakah mereka bersenang- senang di atas ketidakberuntungan Enggar?


" Ada apa dengan ekspresi sedih kalian?" Seakan dapat membaca tampilan kelima teman- temannya, Anya berkeliling dengan matanya, " come on, girls, ini hanyalah permainan. Dan harap kalian catat, siapa yang menginginkan permainan ini mula- mula, apakah itu aku?" Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan.


" Enggar, honey, waktu meditasimu telah berakhir. Aku tidak ingin bulukan di sini menantikan kau yang mempertanyakan nasibmu." Enam menit berlalu dan Anya mengingatkan Enggar akan perjanjian mereka. " Manusia kadang harus menderita ketidakberuntungan sesekali dalam hidupnya. Bukankah membosankan jika hidupmu selalu mudah kau jalani? Terima kekalahanmu untuk sekali ini, Enggar, dan jalankan hukumannya."


Masing- masing dari mereka dapat merasakan nada penuh dengan kegembiraan dari pidato Anya. Mengingatkan semua orang termasuk Enggar, tentu saja, akan perjanjian tak tertulis yang telah mereka sepakati bersama beberapa waktu yang lalu.


Enggar mendengus, " Kau banyak bicara, Anya. Aku hanya terkejut tapi tidak takut."


" Ck! Selain Tuhan, aku tahu kau tidak takut apa pun, Enggar." Gisel, gadis yang duduk di sebelahnya bersuara," Kau prajurit paling perkasa di tim ini, paling berani dan paling gila."


Lima kepala mengangguk tanpa sadar, setuju dengan kata- kata Gisel.


" Aku menangkap nada mengejek darimu."


Mimik Gisel penuh kesedihan, " Di antara semuanya, aku yang paling sedih atas kekalahanmu, Enggar. Bagaimana bisa kau bilang aku mengejekmu. Aku hanya terkejut kau kalah dalam permainanmu sendiri. Kau idiot."


Bibir tipis Enggar melebar, " Sepertinya kau kesal karena aku tidak bunuh diri karena menderita kekalahan?"

__ADS_1


" Lagi- lagi kau berpikir semaumu." Gisel protes, " Aku hanya mengataimu idiot tanpa maksud apa- apa."


" Kau memang sahabatku yang paling baik."


Gisel melanjut, " Aku tidak kesal. Aku sedih dan berduka untukmu, tentu saja. Bagaimana bisa kau yang memprakarsai permainan sinting ini tapi menjadi orang yang akhirnya menderita kekalahan. Bukankah itu sangat memalukan!"


Gadis yang duduk di seberang Gisel, Mika, menendang kakinya pelan," Kau bodoh! Kau seharusnya senang karena bukan kau yang kalah dan harus melakukan hukuman memalukan itu."


Dua gadis kembar yang menggenakan kaos biru langit nan ceria, Lila dan Lili, menganggukan kepala mereka bersama- sama." Iya. Dasar gadis tolol!"


Gisel menghadiahi si kembar dengusan banteng marah, namun si kembar bukanlah gadis yang mudah digertak. Mereka selalu kompak dalam segala hal, termasuk membalas orang lain.


"Preeettt!" Suara kentut dari mulut Lila dan Lili terdengar nyaring di udara, membekukan sekitar.


Sedetik, dua detik, tiga detik,...


Ledakan tawa terjadi pada detik keempat. Tujuh gadis cantik itu tertawa terbahak- bahak, tanpa terkecuali Enggar dan Anya.


" Lalu, apa yang kau tunggu?" Anya menoleh ke Enggar, " Lakukan sekarang juga."


" Baiklah," Dengan dada berdebar kencang, Enggar meraih tangkai mawar, mengendus aroma segar dari mawar di tangannya. Perlahan- lahan ia bangkit dari duduknya," Aku pecinta tantangan, hal seperti ini tidak ada artinya bagiku. Sebaiknya kalian perhatikan baik- baik dan pelajari dengan benar."


" Jangan kuatir, kami akan melihat bagaimana profesional melakukan pekerjaannya dengan baik." Anya kembali bersuara, jelas- jelas mengisyaratkan sesuatu dalam kata- katanya, " Kau adalah yang terbaik, Enggar. Kami banyak belajar darimu."


Shitt! Seandainya Enggar tidak mengenal Anya luar dan dalam, dari kepala hingga celana dalamnya, mungkin ia akan membunuh gadis itu detik ini juga.


" Leo, ingatkan aku untuk memasukan pisau lipat ku ke dalam tas jika kita berkumpul lain kali." Enggar menatap satu- satunya gadis berambut pendek yang duduk di sisi kanan Anya.


Mereka saling pandang sekilas, dan gadis itu mengangguk, " Akan aku ingatkan." Leo, si ratu es dalam kelompok bersuara, " Aku akan membantumu merobek- robek mulutnya nanti."


Enggar tersenyum, " Thanks, Leo."


🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2