JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 03~Tunangan Pengganti


__ADS_3

Wanita cantik bagi ketiga pria itu bukanlah keberadaan yang langka. Bernapas selama 40 tahun lamanya, tak terhitung berapa banyak wanita cantik sudah hilir mudik di dalam kehidupan mereka.


Semudah membalikkan telapak tangan. Tanpa berusaha keras, mereka tak perlu mencari, bahkan merekalah yang dicari.


Menilai dari fisik dan penampilan, Anom, Steve dan Caesar, memiliki nilai di atas delapan. Dari kepala hingga kaki mereka sempurna. Jadi, hanya bermodalkan fisik saja, ketiganya tak kekurangan para penganggum.


Bagaimana mereka tercipta tanpa kekurangan sedikit pun, itu merupakan misteri yang tak terpecahkan. Kesempurnaan fisik hanyalah bagian dari besarnya keberuntungan mereka di dalam hidup. Menilik lebih jauh, latar belakang keluarga, isi otak, dan kemampuan mereka di dunia bisnis, makin membuat banyak orang merasa iri dan tertekan.


Anom, Steve, dan Caesar, tiga sahabat terlahir sempurna dan penuh keberuntungan. Mereka adalah pria dan calon suami idaman semua wanita. Segala hal yang menyangkut mereka adalah jaminan kesejahteraan seumur hidup bagi siapa pun pasangan hidup mereka.


Walau mengejutkan dengan kehadirannya yang tiba- tiba, namun sebenarnya tidak terlalu. Pria mana di dunia yang tidak akan terkesima dengan penampilan bak Dewi di depan mata mereka? Tidak ada! Bohong jika ada satu dari sekian yang dapat bersikap biasa- biasa saja. Bisa jadi pria itu tidak normal.


Begitu pun reaksi Steve dan Caesar.


" Bukankah aku sudah mengatakan, kau tidak harus datang jika kau sibuk, Milan."


Di saat mereka berdua menebak- nebak siapa wanita itu dan apa maksud kedatangannya, tanpa diduga suara keluar dari mulut Anom. Ia ternyata mengenal wanita itu!


Anom bergerak bangkit dari duduknya, dan dengan langkah ringan ia bergerak menghampiri wanita itu.


Steve dan Caesar saling melirik satu sama lain dengan kening berkerut penuh tanda tanya. Steve, melalui tatapannya berharap Caesar memberitahunya sesuatu jika ia mengetahui sesuatu yang sedang terjadi, juga sebaliknya. Beberapa detik tanpa sinyal jawaban dari Steve maupun Caesar. Bahu mereka terangkat, menyerah. Mereka sama- sama buta dan tidak tahu sama sekali.


Dengan bijaksana keduanya terdiam dan menyaksikan apa yang akan terjadi. Toh mereka akan mendapatkan jawabannya segera.


Dalam tiga langkah besar Anom sudah berada di samping Milan. Mereka berpelukan singkat. Begitu saling melepaskan diri, secara mengejutkan wanita itu menempelkan bibirnya di atas bibir Anom. Anom sedikit terkejut namun tak berusaha menghindar.


Ciuman singkat itu dan reaksi Anom terhadapnya jelas terekam dalam kamera penglihatan Steve dan Caesar. Keduanya kembali saling lirik dan tetap bungkam.


" Kau akan pergi besok pagi." Akhirnya setelah benar- benar berjarak, Milan menjelaskan kehadirannya di sana," Aku sengaja tidak memberitahuku jika aku akan datang. Apakah kau terkejut?"


Anom tersenyum tipis, " Sedikit. Tapi aku senang kau datang." Kemudian ia merangkul bahu wanita itu dan menghadap kedua penonton setia mereka. Guys, kenalkan, ini Milan, tunanganku."


" Apa?!" Steve melebarkan matanya, " Wanita ini tunanganmu?"


" Akhirnya,..." Caesar hanya bergumam pelan, entah apa terusan dari kata- katanya.


Aksi memeluk dan mencium keduanya memberi arti mendalam bagi Steve dan Caesar. Mereka mengenal Anom seperti mereka mengenal diri mereka sendiri. Anom tidak pernah memeluk apalagi membiarkan wanita tak dikenalnya menciumnya. Mereka saling mengenal dan hubungan mereka bukan sekedar teman biasa.


Praduga awal terbukti benar. Mereka saling mengenal bahkan sudah tunangan!


" Luar biasa! Kalian bahkan sudah bertunangan." Kata Steve, masih berusaha menerima kabar itu." Anom, kau memang teman yang jahat. Kau bertunangan tanpa memberitahu kami. "


" Apakah kau takut kami akan menculik tunanganmu jika kau mengabari kami?" Sambung Caesar, dengan kesal, " Ck. Begini

__ADS_1


caramu menghargai pertemanan kita?"


" Situasinya tidak memungkinkan untuk mengabari kalian berdua." Anom buru- buru memberi penjelasan, dengan perasaan sedikit tidak enak. " Aku akan menceritakannya kepada kalian lain kali."


" Kau,..."


" Tolong jangan salahkan Anom." Wanita itu melihat sedikit ketegangan tak menyenangkan di antara mereka, " Kami sepakat bertunangan tiga hari yang lalu karena sesuatu hal. Kami tidak berniat melakukan secara diam- diam, tapi kami tidak ada jalan lain. Jadi, aku mohon, jangan marah dengan Anom. Aku minta maaf atas namanya."


Sebenarnya Steve dan Caesar hanya berpura- pura kesal dengan Anom. Tidak berharap untuk melihat wanita cantik itu menjelaskan dengan rasa bersalah apa yang terjadi.


" Ya, ampun. Kami tidak sungguh- sungguh kesal dengan kalian." Kata Steve, " Tidak perlu meminta maaf segala."


" Benar, kami hanya menggoda kalian."


" Benarkah?" Wanita itu ragu sejenak, namun begitu melihat senyuman lebar Steve dan anggukan kepala Caesar, ia akhirnya percaya. " Syukurlah. Aku takut kalian menyalahkan Anom untuk berita pertunangan kami. Oiya, ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan sahabat baik Anom. Aku Milan."


" Aku Steve." Memperlihatkan perilaku sopannya, Steve segera bangkit dari kursi dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.


" Anom sering menyebutkan nama kalian di setiap pertemuan kami." Kata Milan, " Senang dapat bertemu dengan kalian."


Steve tertawa," Kau sangat cantik. Aku dapat mengerti kenapa Anom menyembunyikanmu dari kami selama ini. Benar- benar pria yang licik."


" Tidakkah kau berlebihan?" Milan mengangkat alisnya tinggi- tinggi, " Aku tidak lebih cantik dari Wanita- wanita yang dekat dengan kalian selama ini, bukan?"


" Milan, kau terlalu merendah."


Entah sengaja atau tidak, Steve masih memegang tangan Milan. Mengutuk Caesar karena menganggu. Dengan enggan ia segera melepas tangan Milan, " Maafkan aku, Milan. Aku lemah terhadap wanita cantik,.."


" Dasar idiot!" Caesar menghadiahinya dengan tepukan keras di belakang kepala. Steve terpekik kaget.


" Tolong maafkan ketidaksopanannya." Kata Caesar kepada Milan, " Aku Caesar."


Saat tiba giliran Caesar, Milan pun bersentuhan tangan dengannya. Caesar berbeda dengan Anom apalagi Steve. Aura dingin jelas terpancar dari dirinya. Dia tidak sehangat Anom dan tidak seceria Steve. Caesar hanya menganggukan kepala, lalu melepaskan tangan mereka. Sangat menjaga kesopanan.


Baik Steve mau Caesar tidak menyangka ada 'wanita lain' dalam kehidupan Anom saat ini. Mereka berpikir pria itu akan tetap sendirian selamanya. Kenyataannya, mereka salah besar.


Setiap mereka bertemu, Anom sama sekali tidak pernah menyinggung satu wanita pun. Ternyata, ia berhasil merahasiakan hubungan asmaranya dari mereka berdua.


Seperti idiot. Mereka merasa membodohi diri sendiri. Steve terlalu berlebihan dengan rasa bersalahnya, dan Caesar, ia bahkan mampu terpedaya oleh pemikirannya sendiri.


Anom benar- benar sudah melupakan masa lalunya, melupakan luka dan kesedihan hatinya. Seperti katanya, ia sekarang melangkah dan membuka lembaran baru untuk kehidupannya.


Jika itu kebenarannya, betapa leganya Steve dan Caesar,...

__ADS_1


Anom membantu menarik kursi untuk Milan, menunggu wanita itu duduk lalu ia menarik kursi di sebelahnya. Mengikuti, Steve dan Caesar duduk di kursi mereka masing- masing.


" Teruskan makan kalian. Jangan hiraukan aku." Milan bersuara, mengingatkan ketiganya untuk menghabiskan makan malam mereka yang terhenti karena kedatangannya." Aku minta maaf sudah menganggu makan malam kalian."


" Apakah kau sudah makan malam?" Tanya Anom, " Jika belum, kau bisa memesan."


Milan menggeleng," Aku sudah makan malam sebelum jalan ke sini. Teruskan makanmu. Santai saja."


"Jangan berbohong kepadaku. Benarkah kau sudah makan malam?"


" Aku sudah makan, Sayang. Sungguh." Kini Senyuman manis menghiasi wajah Milan. Ia meraih garpu di piring di depan Anom dan menyelipkannya di tangan kiri pria itu, " Kau, lanjutkan makanmu. Habiskan."


" Permisi," Seorang pramusaji menginterupsi percakapan mereka dengan sopan." Apakah nona ingin memesan sesuatu untuk makan malam?" Ia bertanya kepada Milan.


Perhatian Milan segera teralihkan. Ia mengeser wajahnya ke arah pramusaji itu," Aku tidak makan. Tolong segelas air saja, terima kasih."


Meski ragu sejenak, tapi pemuda itu tidak berkata- kata lagi. Ia tidak pernah menemukan pelanggan yang memasuki resto tidak memesan hidangan apapun dan hanya segelas air. Tapi, ia harus menghormati keinginan tamu, dan tetap memberikan pelayanan terbaik meski itu hanya segelas air.


Pramusaji mendekat, dan meletakan gelas kosong yang sudah ia bawa ke atas meja. Perlahan ia mengisi gelas dengan air putih hingga cukup dan berhenti.


" Baiklah, saya akan meninggalkan buku menu di sini. Jika nanti anda berubah pikiran dan ingin memesan sesuatu. Jika tidak ada yang lain saya permisi dulu." Pramusaji itu meletakan buku menu bersampul hitam di sisi terluar Milan dan bersiap undur diri.


Milan mengangguk, " Terima kasih."


Membalikkan badan, pramusaji itu mulai mengayunkan langkah. Ia tidak menyadari sekelebat sosok melintas di sisinya. Ia hanya merasa bahwa teko kristal berisi air di tangannya tiba- tiba saja menghilang.


" Aaaaaaaaaa,.....!"


Pikiran buruk segera terlintas di kepala pramusaji itu saat pekikan tajam terdengar dari arah belakang. Dadanya bergemuruh hebat. Sembari membaca doa di dalam hati, ia segera membalikkan tubuhnya,...


Kedua mata pramusaji itu melotot, hampir melompat keluar melihat apa yang terjadi di depannya.


Milan, wanita cantik yang baru beberapa menit ia tinggalkan saat ini basah kuyup. Rambut indahnya, wajah cantiknya, pakaian mahalnya, semua basah oleh air.


Malapetaka baru saja terjadi!


Tiga pria yang bersama Milan seakan tersihir menjadi patung es, semuanya mematung tak bergerak. Mata ketiga terbelalak kaget, dan seperti dirinya, nyaris keluar dari tempatnya. Mulut salah satu dari pria tampan itu bahkan terbuka lebar, dan mengeluarkan makian.


Sang pelaku utama, seorang gadis berambut panjang, terlihat menyeramkan dengan teko kaca di tangannya, berdiri tepat di belakang Milan. Gadis itu tanpa ragu menghabiskan isi teko ke kepala Milan. Air bening beserta batu es di dalamnya. Semuanya.


" Ya, Tuhan!" Pramusaji itu menutup matanya sesaat, mencoba menenangkan diri.


Sementara, gadis yang telah menghabiskan isi teko ke kepala Milan, terlihat sangat puas. Dengan ringan ia melompat mundur, dan memperlihatkan ekspresi terkejut di wajahnya,

__ADS_1


" Ups, maafkan aku. Aku terpeleset karpet dan tidak melakukannya dengan sengaja,...."


🌺🌺🌺


__ADS_2