JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 04~ Keluhan si Coklat Panas


__ADS_3

Pukul 11 malam, lewat lima menit


Aroma pekat dari coklat panas menyapa penciumannya, merangsang syaraf- syaraf kaku di kepalanya menjadi waspada satu demi satu. Kelopak matanya perlahan turun dan merapat. Komando pasukan bersuara, berseru kepada seluruh pasukan tulang di tubuhnya untuk berada pada posisi istirahat.


Beri aku lima menit. Hanya lima menit.


Perintah komando tertinggi, tak lain dan tak bukan dialah sang penguasa tubuh, akhirnya berhasil menenangkan pasukan tulangnya. Semuanya patuh, walau agak sedikit lambat gerakannya, namun semuanya menjadi patuh. Tulang tengkorak, tulang leher, tulang bahu, tulang bagian perut, tulang paha, tulang lutut, hingga tulang yang paling belakang, tulang pada jari- jari kaki, semua patuh tanpa terkecuali.


Treeeeet. Treeeetttt. Treeeetttt.


Baru tiga menit berjalan gangguan itu datang. Meski kelopak matanya masih tertutup, bola matanya bergerak- gerak dengan gelisah. Tak tahan lagi mendengar suara ponsel yang menganggu, akhirnya dengan enggan kelopak mata itu membuka.


Penganggu itu berwarna pink, tergeletak cantik di atas meja tidak jauh dari mug berisi coklat panas di hadapannya. Saat ini layar datarnya menyala terang, berkedap- kedip menyilaukan mata. Lima huruf tampil di sana.


Tertegun, manik kelabu wanita itu sedikit melebar saat begitu melirik nama yang tertera di layar ponsel: Naran.


Kenapa pria itu menelponnya?


Bertanya- tanya sendiri, ada apa gerangan orang itu mendadak menghubunginya malam- malam begini. Selama ini mereka jarang sekali berkomunikasi. Terutama di jam- jam menjelang malam seperti ini. Terkecuali jika ada hal penting terjadi. Tapi, itu pun bisa terhitung dengan jari.


Apakah terjadi sesuatu di 'rumah'? Apakah anak- anak,...


Wanita itu secepatnya menyingkirkan pikiran buruk dari otaknya. Mudah- mudahan tidak terjadi apa- apa kepada mereka.


Namun, selain tentang anak- anak, tidak ada hal penting lainnya di antara mereka. Hanya anak- anaklah yang dapat merubah kebiasaan Naran untuk melakukan sesuatu.


Nihil menemukan jawaban atas pertanyaannya, akhirnya wanita itu meraih ponsel dan segera menjawab panggilan masuk.

__ADS_1


" Halo, Naran,..."


" Syukurlah, Puri, kau belum tidur. Maaf aku menganggu istirahatmu malam- malam." Walau terdengar tergesa- gesa, suara pria di ujung ponsel juga penuh kelegaan. Jeda sejenak sebelum ia meneruskan," Aku ingin meminta bantuanmu, Puri. Dapatkah kau datang ke kantor polisi sekarang?"


Jantung Puri melesat dari tempatnya, " Kantor polisi?!" Katanya tersentak, " Ada apa, Naran? Bukankah kau ada di Malaysia sekarang, kenapa,..."


Naran merasakan kepanikan Puri dan menjadi bersalah karenanya,


" Puri, tenanglah. Jangan panik. Abra sudah ada di kantor polisi saat ini. Dia sedang mengurus segala sesuatunya di sana. Dia, tidak, aku,.. aku memerlukan bantuanmu untuk untuk menandatangi beberapa berkas dokumen mewakiliku."


Puri tercekat, " Berkas dokumen,..."


" Iya, berkas dokumen." Naran terdiam sejenak, menghela napas, lalu melanjut, " Seorang wanita melaporkan Enggar ke kantor polisi karena gadis itu menyiramnya dengan air."


"Apa?!" Ponsel itu nyaris terbang saking terkejutnya. Untung saja tangan yang lain mencengkram tepi meja dengan kuat untuk mempertahankan kesadarannya.


Sepenggal informasi itu tak mampu memuaskan keingintahuan Puri. Mengapa dan bagaimana gadis berusia 16 tahun itu dapat bertindak nekad seperti itu? Apa dan siapa yang memprovokasinya?


" Naran, aku akan bersiap- siap dulu." Teringat jika pria itu masih menunggunya memberi jawaban, Puri segera mengkonfirmasi kesediaannya, " Aku akan bertanya pada Abra lebih jauh setelah tiba di sana. Apakah ada yang lain lagi?"


" Tidak ada," Jawab Naran, meragu sebentar sebelum akhirnya berkata, " Puri, terima kasih banyak karena mau membantuku."


Langkah Puri tertahan di tempat mendengar kata ' terima kasih' pria itu. Ia sudah setengah jalan melintasi ruangan dapur menuju kamar untuk berganti pakaian. Dadanya serasa sesak. Tanpa sadar Puri menahan napasnya.


" Jangan ucapkan itu." Akhirnya, Puri bersuara


meski sedikit tersendat, " Mereka adalah bagian dari hidupku. Kita sudah berjanji untuk menjaga mereka bersama- sama, kan."

__ADS_1


" Puri, aku,..." Aku minta maaf karena telah menjadi beban hidupmu selama ini. Itu adalah kata- kata yang ingin Naran katakan tapi tak sanggup keluar dari bibirnya. Ia hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Naran lumpuh oleh rasa takut untuk menyinggung Puri.


Seakan dapat mendengarkan isi hati Naran, Puri menguatkan hati. Janji untuk menutup masa lalu adalah upayanya untuk menjauhi rasa sakit.


" Naran, kau masih ingat janjimu?"


Di sisi lain, pria itu tertegun, " Aku selalu ingat."


" Jika kau ingat, maka jangan katakan apa- apa."


Kepala Naran tertunduk, merasa bersalah." Baiklah."


" Kita bicara lagi nanti." Lanjut Puri," Katakan kepada Abra aku sedang dalam perjalanan ke sana."


" Baiklah."


Mereka mengakhiri sambungan telpon lalu Puri kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Begitu ringan kaki- kakinya terbang meninggalkan area dapur. Ia lupa akan coklat hangat yang menunggunya di atas meja.


Kurang dari tiga puluh menit Puri telah berada di dalam mobil hitamnya. Membiarkan mesin panas sebentar, memeriksa kembali isi tas kecilnya: dompet kecil, ponsel, powerbank dan pena. Setelah dirasa komplit ia meletakkan tas itu di kursi sebelah. Lalu, setelah menarik napas panjang, ia membawa si hitam pergi meninggalkan rumahnya.


Suara si hitam kian menjauh dari area perumahan. Rumah besar nan asri itu kembali hening tanpa pemilik dan kendaraannya.


Mug panda di meja dapur masih berada di sana, tak berpindah sedikit pun. Sepertinya ia sedang menangis sedih. Semuanya karena wanita pemiliknya meninggalkannya pergi. Bahkan sama sekali tidak menyentuhnya.


Coklat panas kehilangan kenikmatannya, tengelam dalam duka yang sama. Ia mencintai wanita itu, sama seperti wanita itu mencintainya. Tapi, baru kali ini ia wanita itu melupakannya.


Semua gara- gara gadis nakal itu!

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2