JIWA MENCARI RAGA

JIWA MENCARI RAGA
Chapter 22 Gangguan di Tengah Jalan


__ADS_3

Jika bukan karena ingin mencari korek gas di laci dasboard dan melirik sekilas kaca spion samping, Alan tidak akan sadar jika dirinya sedang dibuntuti. Matanya menajam, dengan cermat memperhatikan mobil yang bergerak tak jauh di belakangnya. Tidak lama akhirnya Alan mendapatkan plat mobil itu.


" Apa tujuanmu mengikutiku, brengs*k?" Bergumam sendiri, Alan berpikir sebentar. Pagi ini ia langsung ke kantor, tidak menjemput Anom seperti biasa. Bos nya itu baru saja terbang ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya. Ia akan mendelegasikan tugas yang diberikan Anom kepada seseorang yang ia percaya. Pagi ini mereka akan bertemu di ruang kerjanya.


Sepertinya, gangguan kecil yang mengikuti di belakangnya akan sedikit menghambat. Ia akan mengurus ini dahulu.


Sebagai penguntit amatiran, tentu saja Enggar tidak menyadari jika aksinya itu sudah terungkap target. Ia tidak melihat ada yang aneh dari kendaraan yang dibuntutinya. Tetap melaju dengan kecepatan rata- rata di depannya.


Juga, ia sama sekali tidak mengetahui jika sang target akan menangkap basah dirinya. Jadi, Enggar masih dengan 'hati-hati' mengikuti target.


" Hei,..." Tiba- tiba saja mobil hitam di depan Enggar berbelok ke kiri tanpa menyalahkan lampu sen. ketika mobil hitam yang dikemudikan Alan berbelok ke kiri. Ia tidak tahu ke mana tepatnya mobil itu menuju. Hanya saja, setelah beberapa saat melalui daerah asing itu, Enggar tersadar. Itu adalah daerah menuju pelabuhan. Kiri dan kanan jalan hanya tanah kosong sejauh mata memandang, atau gudang tua dan bobrok.


" Kemana sebenarnya orang itu akan pergi?" Enggar bertanya dalam hati.


Baik Alan maupun Enggar memiliki pemikiran berbeda tapi juga sama. Rasa penasaran mereka terhadap satu sama lain begitu besar. Apa dan mengapa, dua pertanyaan itu bagai bola panas yang mengisi otak mereka.


Sebuah mobil hitam lainnya tiba- tiba muncul di samping mobil Enggar, dan dengan cepat memotong pergerakan mobil gadis itu. Enggar begitu kaget kala sebuah mobil tiba- tiba muncul di depannya dan berhenti beberapa meter di depan. Dengan panik Enggar menginjak rem kuat- kuat.


Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttt!!!


Kepala Enggar nyaris mencium setir akibat menginjak rem begitu kuat. Untung saja ia dapat menghentikan mobilnya tepat waktu. Andai saja refleknya kurang cepat, mungkin saat ini tabrakan akan terjadi.

__ADS_1


Dan dirinya, entahlah,...


" Bajing*n! Siapa kalian?!" Nyaris mengalami kecelakaan yang akan merenggut nyawanya membuat tubuh Enggar terselimutkan aura membunuh. Apa- apaan mereka, berkendara seperti orang mabuk?!


Membanting pintu mobil, Enggar sudah melompat keluar dan berdiri di atas aspal. Wajah Enggar sudah Semerah kepiting rebus, merah karena amarah. Ia berdiri di samping mobilnya dengan tangan mengepal.


Mobil Van hitam yang sudah seenaknya berhenti di depannya itu tidak mengeluarkan reaksi untuk beberapa saat. Kurang dari dua menit, keempat pintu van hitam itu terbuka dan empat orang pria bertubuh besar keluar bersama- sama.


Menghadapi satu orang pria kemungkinan besar Enggar masih bisa, tapi empat orang,...


Ekspresi Enggar segera berganti cepat, dari emosi kemarahan menjadi panik. Tentu saja. Ia masih mau hidup, bro! Lupakan keinginan untuk memukuli orang dungu itu, ia harus segera angkat kaki untuk menyelamatkan nyawanya.


Melihat Enggar yang bergegas kembali membuka pintu dan berniat pergi, keempat pria bertubuh raksasa itu segera bergerak cepat. Mereka berpencar, satu orang ke sisi sebelah kiri, dua orang ke sisi sebelah kanan, dan satu orang tetap bergegas maju.


Detik berikutnya pintu mobil menyentak kembali membuka dan sebuah tangan besar terulur ke arah Enggar.


Entah sejak kapan kunci setir berwarna kuning-hitam itu tergenggam di tangan kiri Enggar, tapi dengan sekuat tenaga ia memukul tangan yang terulur untuk meraihnya.


" Aduuuuuhhhhhh,...!!!" Suara raungan terdengar memekakkan telinga, begitu besi itu menghantam tulang di tangan salah satu tangan pria- pria itu. Ketiga pria lainnya tentu saja melonjak kaget melihat temannya terhuyung- huyung ke belakang sembari memegangi sebelah tangannya.


" Ada apa? Kau kenapa?!"

__ADS_1


" Gadis itu,.. dia memukul tanganku dengan besi!"


" A,..apaaaaa?!"


" Siapa mereka?" Di lain tempat, tak jauh dari Enggar dan empat orang pria yang berniat buruk kepadanya, Alan melihat kejadian yang terjadi melalui kaca spion di atas kepalanya. Matanya membesar dan menajamkan penglihatannya, ketika beberapa pria itu membuat beberapa gerakan, seperti hendak menarik seseorang keluar dari mobil. Kerutan muncul di keningnya. Heran sekaligus kebinggungan.


Alan memang tidak mengenal orang yang berada di mobil yang telah mengikutinya beberapa saat yang lalu, karena itu Ia sedang berusaha mencari tahu.


Sebelum ia menjalankan rencana mengecoh orang itu, siapa yang mengira jika ada pihak lain yang mencoba merusak rencananya.


Karena jarak Alan tidak dapat mengenali para pria itu. Apakah ia harus kembali dan berurusan dengan mereka? Tapi, untuk apa?Ia merasa tidak memiliki urusan dengan satu pun dari mereka.


Dan, jika ia kembali dan ikut campur, bukankah hanya akan membuat dirinya dalam masalah?


Sementara itu, Enggar sudah terlibat baku hantam dengan empat pria berbadan besar tak jauh dari mobilnya. Dengan kunci setir di tangannya, gadis itu nyatanya keluar dari mobilnya dan menghadapi mereka. Entah itu keberanian buta atau sikap nekad tanpa pikir panjang, Enggar seakan tidak memikirkannya.


Nyatanya dengan kunci setir di tangan, gadis itu mampu membuat para pria bertubuh besar itu mundur beberapa langkah darinya.


Dua orang memiliki pipi bilur kebiruan, satu orang meringgis kesakitan karena rasa sakit pada lengannya akibat terhantam kunci setir Enggar. Para pria berbadan besar tidak takut sedikit pun, hanya saja kebringasan Enggar membuat mereka lebih waspada.


Para pria berbadan besar menganggap mudah tugas ini. Hanya membawa seorang gadis remaja, apa sulitnya.

__ADS_1


Bodohnya mereka.


TBC


__ADS_2